Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Berita hangat hari itu


__ADS_3

Baru saja mobil Danesh memasuki gerbang kampus, jantung Calista sudah berdetak begitu kencang memikirkan apa pemikiran orang-orang nanti melihat kedatangannya bersama dengan Danesh. Calista sesekali menatap pada Danesh. Tidak ada ekpresi apapun yang tergambar di wajah tampan suaminya itu. Danesh nampak tenang mengendarai mobilnya.


Mobil milik Danesh akhirnya memasuki area parkir khusus mahasiswa. Seperti yang sudah berlalu, kedatangan mobil Danesh menarik perhatian para kaum hawa yang sedang berada di area kampus termasuk Audrey.


Melihat kedatangan mobil Danesh, Audrey sudah langsung berniat menghampiri pria itu untuk sekedar tebar pesona agar Danesh kembali terpikat dengan kecantikan yang ia punya.


"Ayo turun." Ajak Danesh setelah membuka sabuk pengamannya.


Calista menatap ke sekitarnya lebih dulu. Dapat ia lihat mobil Danesh kini menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Apa hidupku akan tenang setelah ini?" Gumam Calista.


"Tidak perlu dipikirkan. Tinggal keluar dari dalam mobil lalu berjalan ke ruangan dosen." Sahut Danesh yang mendengar perkataan Calista.


Calista menghela nafas lalu keluar dari dalam mobil. Beberapa mahasiswa yang melihat dirinya keluar dari mobil Danesh seketika memasang ekspresi terkejut.


"Ibu Calista?" Audrey hampir saja terpekik melihat sosok wanita yang baru saja keluar dari mobil Danesh.


Danesh yang sudah berdiri di sebelah Calista pun langsung mengajak Calista untuk melangkah bersamanya.


Calista yang awalnya merasa tidak nyaman dengan tatapan mahasiswanya kepadanya akhirnya berjalan dengan percaya diri bersama Danesh. Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya selama bekerja di kampus Calista merasakan rasa tidak percaya diri seperti tadi.


Dari kejauhan Audrey melihat kedekatan Danesh dan Calista dengan tangan mengepal. "Bagaimana bisa Bu Calista pergi ke kampus bersama Danesh? Ada hubungan apa antara Bu Cal dan Danesh?" Gumamnya menahan marah.


*


Prok prok prok


Tepuk tangan yang terdengar cukup keras mengalihkan tatapan Calista dari lembar ujian ke arah pintu yang terbuka dan memperlihatkan wajah Rose di sana.


"Rose, ada apa denganmu?" Tanya Calista. Wajahnya nampak bingung.


"Aku tidak menyangka jika temanku ini sudah berani terang-terangan saat ini." Ucap Rose menyeringai.

__ADS_1


Calista menghela nafas. Mendengarkan perkataan Rose sudah bisa membuatnya menyimpulkan apa maksud perkataan Rose saat ini.


"Tadi malam aku dan Danesh menginap di rumah mertuaku. Karena aku tidak membawa mobil ke sana jadi tadi Danesh mengajakku untuk pergi bersamanya." Calista menjelaskan apa yang terjadi hingga ia bisa pergi bersama Danesh.


"Awal yang bagus. Aku harap selanjutnya hubungan kalian bisa berjalan semakin maju." Rose berjalan mendekat pada Calista lalu menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Calista. "Tapi ngomong-ngomong kedekatan kalian tadi membuat gosip yang cukup besar di kampus. Sejak aku berjalan menuju ruang dosen, aku tak berhenti mendengar namamu diperbincangkan oleh banyak mahasiswa."


"Aku sudah memperkirakannya sebelumnya. Pasti aku dan Danesh menjadi gosip hangat hari ini." Sahut Calista.


Rose tertawa mendengarnya. "Sepertinya sudah saatnya kau dan Danesh mempublish hubungan di antara kalian agar tidak menjadi gosip nantinya."


Calista menipiskan bibir. Ia meragu untuk itu. Mengingat pekerjaan Danesh saat ini dan statusnya di kampus membuat Calista menimbang-nimbang untuk mengumumkan pernikahan mereka ke publik.


"Aku rasa belum saatnya. Untuk saat ini biarkan saja semuanya mengalir apa adanya." Ucap Calista setelah cukup lama terdiam.


Rose mengangguk saja. Ia cukup menghargai keputusan Calista saat ini.


*


Mendengar seseorang memanggil namanya membuat Calista segera menghentikan langkah. Calista memutar kepalanya ke arah belakang untuk melihat siapakah yang memanggil namanya.


"Audrey." Ucapnya setelah Audrey berada tepat di hadapannya.


"Bu Calista, apa kita bisa berbicara sebentar?" Pinta Audrey tanpa basa-basi.


Calista menatap wajah mahasiswanya itu dengan intens. "Jika ingin bicara maka bicaralah di sini saja." Jawabnya.


Audrey menggelengkan kepala. Berbicara di koridor kelas seperti saat ini rasanya tidak baik. Akan ada orang yang mungkin saja akan menguping pembicaraan mereka.


"Bagaimana kalau berbicara di taman depan saja, Bu? Saya mohon sebentar saja!" Pinta Audrey.


Calista menggelengkan kepala tanda penolakan. "Jika mau bicara katakan di sini saja." Ucapnya lagi.


Audrey tidak bisa membantah perkataan Calista. Ia melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang akan menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Ada hubungan apa antara Ibu dan Danesh? Kenapa tadi pagi saya lihat ibu datang bersamanya?" Tanya Audrey.


"Apa kau sangat penasaran dengan hubungan kami, Audrey? Jika iya maka tanyakan saja pada Danesh. Saya tidak berminat untuk menjawabnya."


"Jangan bilang jika Ibu dan Danesh memiliki hubungan spesial!" Suara Audrey terdengar sedikit meninggi.


Calista menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan Audrey yang mudah tersulut emosi hingga kehilangan kesopanannya.


"Saya rasa pembicaraanmu tidak penting, Audrey. Kalau begitu saya pamit dulu. Ada banyak hal yang harus saya kerjakan dari pada menjawab pertanyaanmu." Calista berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Audrey.


Kedua tangan Audrey terkepal erat mendengar jawaban Calista. Pertanyaan yang sejak tadi bersarang di benaknya tidak terjawab oleh Calista. "Danesh tidak mungkin memiliki hubungan dengan Bu Calista kan? Umur mereka terpaut sangat jauh. Bahkan Bu Calista lebih cocok menjadi tantenya!" Gerutu Audrey.


*


Mendengar desas-desus kedekatan Calista dengan salah satu mahasiswanya membuat Reza akhirnya merasa penasaran dan berniat bertanya langsung pada Calista. Calista yang baru pertama kalinya berbicara sambil bertatap mata dengan jarak dekat dengan Reza dibuat hening beberapa saat. Jika saat di sekolah dulu berbicara dengan Reza adalah hal yang sangat disukainya namun kini berbeda. Tidak ada perasaan apa pun yang Calista rasakan saat melihat mata pria itu.


"Jadi apa yang ingin kau tanyakan kepadaku, Kak?" Tanya Calista ramah. Bersikap seperti biasanya layaknya berbicara dengan sesama rekan kerjanya.


Reza yang ingin bertanya hubungan Calista dan Danesh seketika mengurungkan niatnya melihat tatapan teduh Calista. "Bagaimana keadaanmu saat ini. Apa hidupmu jauh lebih bahagia?" Tanya Reza merubah pertanyaannya.


Kening Calista mengkerut setelah mendengar pertanyaan Reza. "Kenapa Kakak bertanya seperti itu?" Tanyanya balik.


Reza menghela nafas berat. "Aku hanya ingin memastikan. Beberapa bulan lalu aku sempat mendengar jika hubunganmu dan Dio sudah kandas. Dio menikah dengan wanita lain di saat kau masih menjalin hubungan dengannya."


Wajah Calista berubah datar setelah mendengar perkataan Reza. "Maaf, aku rasa pertanyaan Kakak sudah memasuki ranah pribadiku. Aku pikir Kakak akan bertanya tentang proses belajar mengajar di kampus ini." Jawab Calista.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan saja. Apa aku salah jika aku ingin memastikan keadaan wanita yang masih sangat aku cintai sampai saat ini?" Tanya Reza.


Pertanyaan Reza berhasil membuat Calista diam seribu bahasa.


Masih sangat mencintaiku?


***

__ADS_1


__ADS_2