
"Tadi Pak Reza bertanya apa kepadamu?" Tanya Danesh pada Calista saat mereka baru saja selesai makan malam itu.
Calista menatap wajah suaminya itu dengan kening mengkerut. Bagaimana bisa suaminya tahu jika Reza bertanya sesuatu kepadanya?
"Cal, kenapa diam saja?"
"Agh, ya. Tadi Reza bertanya tentang status kita. Dia bertanya apakah benar kita sudah menikah."
Danesh mengangguk-anggukkan kepalanya. Terlihat senyum miring tercetak di wajah tampannya.
"Bagaimana kau bisa tahu? Apa dia juga menjumpaimu tadi?" Tebak Calista.
Danesh mengangguk tanpa beban lalu menceritakan tujuan Reza mendatanginya tadi. Danesh juga menceritakan apa yang ia lakukan hingga membuat Reza akhirnya pergi begitu saja.
Calista tersenyum menyadari hal apa yang membuat Reza bisa tahu statusnya dengan Danesh. "Apa kau tidak takut jika nantinya Reza menyebarkan status kita?"
__ADS_1
Danesh mengangkat kedua bahunya. "Untuk apa aku takut. Memangnya ada yang salah jika kita menikah? Status kita sah di mata hukum dan agama."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau bisa dipecat jika pihak kantor tahu jika kau sudah menikah." Calista sedikit mencemaskan pekerjaan suaminya itu.
"Aku sudah tidak perduli. Masih banyak pekerjaan yang bisa aku ambil jika rezekiku terputus di sana. Selagi kita masih hidup maka kita tidak perlu mencemaska persoalan rezeki. Kita hanya diminta untuk berusaha dan berdoa. Selebihnya biar Tuhan yang berkehendak."
Kedua mata Calista berkaca-kaca mendengar perkataan suaminya. Ia selalu saja dibuat kagum dengan kedewasaan Danesh dalam menghadapi suatu masalah.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau merasa berat hati jika pernikahan kita diketahui orang-orang di kampus?"
Kedua sudut bibir Danesh terangkat sempurna. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan untuknya saat ini selain istrinya selalu berada di dekatnya dan mendukung segala keputusan yang terbaik untuk mereka.
*
Danesh dan Calista semakin menunjukkan kedekatan di antara mereka setelah keduanya bersepakat untuk tidak lagi menyembunyikan status pernikahan mereka. Audrey yang melihat kedekatan keduanya dibuat terbakar cemburu karena Danesh semakin lengket dengan Calista padahal sudah beberapa kali ia mencoba menjelekkan Calista lewat pesan foto yang ia kirimkan pada Danesh.
__ADS_1
"Bu Calista tunggu!" Audrey tanpa rasa sopan menghentikan Calista yang sedang berjalan dengan merentangkan kedua tangannya di depan Calista.
"Apa-apaan ini Audrey?" Calista merasa geram. Sudah malas sekali ia meladeni wanita bernama Audrey ini.
"Apa Ibu tidak bisa menjaga jarak dengan Danesh? Saya kan sudah pernah berkata jika saya dan Danesh belum putus. Tapi kenapa Ibu tidak tahu malu selalu mencoba dekat dengannya?!" Geram Audrey.
"Apa kau tidak memiliki rasa sopan santun dengan bersikap seperti ini, Audrey?" Tanya Calista. Wajahnya yang bianya tenang kini berubah tajam menatap pada Audrey.
"Saya bersikap seperti ini karena Ibu tidak pernah mengindahkan perkataan saya. Ibu harusnya sadar siapa Ibu dan siapa Danesh. Umur Ibu dan Danesh terpaut sangat jauh dan seharusnya Ibu sadar jika Danesh tidak cocok untuk Ibu!"
"Oh begitu. Lantas siapa wanita yang pantas untuk suami saya, apakah dirimu?" Tanya Calista.
"Ibu bilang apa tadi, su-suami?" Ulang Audrey.
"Ya, Danesh adalah suami saya dan kau tidak pantas bersikap seperti ini kepada saya. Harus kau tahu Audrey, saya bisa saja mengeluarkanmu dari kampus ini saat ini juga!"
__ADS_1
***