Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Siapa yang sudah menjebak?


__ADS_3

Setelah kepergian Danesh Calista mencoba untuk merubah posisi berbaring menjadi duduk. Namun ia mengurungkan niatnya untuk duduk saat merasakan sakit di bagian intinya.


Danesh nampak sudah kembali membawakan sebuah salap di tangannya. Ia segera naik ke atas ranjang dan meminta izin pada Calista untuk mengoleskan salap tersebut di bagian inti Calista.


"Tidak, aku malu. Biar aku oleskan sendiri saja." Jawab Calista. Walau Danesh adalah suaminya namun tetap saja Calista masih sangat malu memperlihatkan bagian intinya pada Danesh.


"Calista, aku tahu kau akan sulit melakukannya. Kau tidak bisa melihat dengan jelas bagian mana yang bengkak saat ini."


Wajah Calista merona merah mendengar perkataan Danesh yang terlalu vulgar menurutnya. Pada akhirnya Calista membiarkan Danesh melakukan apa yang ia inginkan sambil menahan rasa malu yang teramat.


"Agh sial sekali. Hanya melihat bagian intinya saja sudah membuat aku menginginkannya lagi!" Ucap Danesh sambil menahan hasratnya yang sudah kembali naik.


Danesh segera mengoleskan salap di bagian intin Calista secara keseluruhan sambil menahan nafasnya yang sudah mulai naik turun. Setelah selesai mengoleskan salap, Danesh segera turun dari ranjang dan mengambil air minum dingin untuk mendinginkan hawa panas di dalam tubuhnya.


"Rasanya malu sekali. Mahasiswaku melihat bagian intiku. Agh salah. Suamiku mahasiswaku melihat bagian intiku bahkan menyentuhnya." Lirih Calista.

__ADS_1


*


Saat siang hari telah tiba, Calista nampak sudah bersiap-siap pergi ke kampus untuk mengajar. Sedangkan Danesh masih sibuk di kamar mandi mencuci sprey yang kotor akibat pergulatan mereka tadi malam.


"Danesh..." suara Calista menghentikan kegiatan Danesh yang sedang membilas sprey.


"Calista, kau sudah mau pergi?"


Calista menganggukkan kepalanya. "Kenapa mencucinya begitu. Biar aku saja." Calista rasanya tidak enak pada Danesh yang sudah repot mengurus urusan rumah tangga sejak pagi.


"Sedikit. Aku harus pergi mengajar hari ini. Satu minggu lagi sudah memasuki jadwal ujian semester."


Danesh paham dengan kewajiban istrinya saat ini. Ia tidak berniat melarang Calista dan hanya menitipkan pesan agar Calista berhati-hati dalam berkendara dan jangan terlalu banyak bergerak di kampus nanti.


Calista akhirnya pergi meninggalkan rumah mereka. Salap yang dioleskan Danesh tadi pagi berfungsi dengan baik sehingga membuat bagian intinya tidak terlalu sakit seperti tadi pagi.

__ADS_1


Danesh segera menyelesaikan cuciannya setelah kepergian Calista. Setelah selesai menjemur spray di halaman belakang, Danesh segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.


Beberapa panggilan tak terjawab dari Inez diabaikan begitu saja oleh Danesh. Fokusnya saat ini hanya ada satu. Yaitu menghubungi Harry dan Mike untuk membantunya mencaritahu siapakah orang yang sudah berani bermain-main dengannya tadi malam.


"Kita memerlukan orang yang cukup berpengaruh untuk bisa meminta rekaman CCTV." Ucap Mike di seberang telefon yang sedang tersambung tiga.


"Tapi siapa? Aku tidak mungkin menggunakan nama Daddy. Bisa-bisa keluargaku tahu apa yang terjadi tadi malam."


"Lalu mau bagaimana lagi, kau hanya memiliki Daddymu untuk membantu. Kali ini turunkan saja gengsimu untuk meminta bantuan pada Om Raka." Saran Harry.


Danesh terdiam. Sejujurnya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meminta bantuan pada keluarganya sesulit apapun keadannya.


"Danesh?" Harry kembali bersuara karena Danesh hanya diam saja.


"Aku akan memikirkannya nanti."

__ADS_1


***


__ADS_2