Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Akan menjadi ibu?


__ADS_3

Danesh menjelaskan pada Calista jika saat ini ia tidak bisa bersikap gegabah untuk memberi pelajaran pada Inez dengan berbagai alasan. Mendengar penjelasan Danesh membuat Calista mengerti dan menyerahkan semua keputusan pada suaminya itu.


"Aku tidak menyangka jika dia seobsesi itu ingin memilikimu. Sekarang dia bisa bertindak demikian, tidak tahu bagaimana untuk kedepannya." Ucap Calista diakhir dengan decakan di akhir perkataannya.


Tangan Danesh terulur menggenggam sebelah tangan istrinya. "Setelah ini aku akan lebih berjaga-jaga jika berada di dekatnya. Kau bisa percaya kepadaku, kan?"


"Bisa saja. Tapi aku tidak bisa percaya dengannya. Sekalinya rubah tetap saja rubah." Gerutu Calista.


Danesh menahan senyum melihat wajah sebal istrinya. Jika Calista bersikap seperti ini membuat Danesh berpikir jika istrinya itu sedang cemburu.


"Untuk saat ini aku hanya bisa meminta kau percaya kepadaku. Aku berjanji tidak akan terjebak untuk yang kedua kalinya."


"Semoga saja." Jawab Calista singkat.


*


Setelah pembahasan mereka tentang Inez selesai, Danesh dan Calista pun menikmati waktu mereka di ruang tengah. Jika Calista sibuk membuat soal ujian untuk mahasiswanya minggu depan, Danesh justru sibuk bermain game.


Keduanya asik dalam kegiatan masing-masing hingga pada akhirnya Danesh mematikan gamenya saat merasa sudah bosan.

__ADS_1


"Calista..." Danesh memanggil Calista dengan tatapan sayu.


Calista hanya berdehem menyahut panggilan suaminya karena ia sedang sibuk mengedit soal di laptopnya.


"Cal, aku rasa efek obat itu kembali bekerja di tubuhku." Lirih Danesh.


Perkataan Danesh berhasil membuat kepala Calista terangkat menatap wajah Danesh.


"Apa? Maksudmu..." Calista tak berani melanjutkan perkataannya.


Danesh segera mendekatkan tubuhnya pada Calista hingga membuat tubuh Calista terasa merinding.


Calista mengedip-ngedipkan matanya. Kejadian tadi malam masih membekas di kepalanya dan sulit untuk ia lupakan. Bagaimana Danesh dengan kasar merobek keperawanannya dan menggerayangi tubuhnya penuh hasrat.


"Aku berjanji malam ini akan lebih lembut. Aku mohon bantu aku." Pintanya lirih. Sebenarnya pengaruh obat itu sudah hilang sejak ia melampiaskan hasratnya pada Calista berulang-ulang. Alasannya kali ini hanya akal-akalan Danesh saja agar Calista mau menerima ajakannya.


Calista yang tidak dapat menolak permintaan suaminya akhirnya mengiyakannya. Tapi sebelumnya ia meminta pada Danesh untuk bersabar karena ia ingin menyimpan file dan mematikan laptopnya lebih dulu.


Rencana yang berhasil! Sorak Danesh dalam hati.

__ADS_1


*


Keesokan harinya, Calista mulai berpikir apa yang sudah dilakukannya dengan Danesh dua hari belakangan ini. Tangan Calista pun terulur mengusap perut memilikirkan jika sebentar lagi akan ada nyawa yang akan tumbuh di rahimnya setelah ditabur oleh Danesh dengan jumlah yang banyak beberapa kali.


"Apa aku akan menjadi seorang ibu sebentar lagi?" Gumam Calista.


Pergerakan Calista yang sedang mengusap perut pun terlihat oleh Rose yang sejak tadi memperhatikannya.


"Cal?" Rose menepuk pundal Calista hingga membuat lamunan Calista buyar seketika.


"Rose!" Calista mengusap dadanya merasa terkejut.


"Kenapa kau mengusap perutmu sejak tadi. Apa kau sedang hamil?" Tanya Rose pelan agar rekan dosen yang berada di dekat mereka tidak mendengarnya.


"Kau bilang apa? Aku mengusap perutku?" Ulang Calista. Ia merasa tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya sejak tadi.


"Ya, kau sudah lima belas kali mengusap perutmu. Ayo katakan kepadaku. Apa kau sedang hamil saat ini?"


***

__ADS_1


__ADS_2