Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
BC - Bolehkah Aku Menggendongnya?


__ADS_3

Calista merasa haru mendengarkan perkataan suaminya yang terdengar sangat memperdulikan kenyamanannya dan Baby Daffa.


"Baiklah, aku setuju dengan keputusanmu." Jawab Calista mendukung keinginan suaminya.


Danesh tersenyum. "Terima kasih karena kau sudah bersedia menjadi istri yang baik dan ibu yang hebat untuk Daffa."


"Terima kasih juga karena kau sudah menjadi suami dan ayah yang baik untuk aku dan Daffa."


"Sama-sama. Aku merasa hidupku jauh lebih sempurna setelah memilikimu dan sekarang memiliki Daffa."


"Aku pun begitu. Aku harap rumah tangga kita akan tetap langgeng sampai maut memisahkan."


"Semoga saja."


Beberapa hari berlalu, Mom Diora dan Mom Meisya pun telah kembali ke tanah air meninggalkan Calista dan Danesh. Walau kini sudah tak ada lagi ibu dan mertua yang membantunya merawat Baby Daffa, namun Calista tak merasa begitu kesulitan merawat Daffa sekaligus melakukan pekerjaan rumah karena Danesh ikut membantu dan Baby Daffa terbilang tidak rewel.


Hari-hari terus berlalu, tanpa terasa kini usia Baby Daffa sudah memasuki sepuluh bulan. Di usianya saat ini sudah banyak kepandaian yang Baby Daffa perlihatkan. Dari mulai sudah belajar melangkah sampai sudah banyak kata yang Baby Daffa ucapkan.


Perkembangan Baby Daffa dari mulai lahir sampai saat ini dinikmati Calista dan Danesh dengan rasa bahagia di hati mereka masing-masing.

__ADS_1


"Tidak terasa anak kita sudah semakin besar saja." Ucap Danesh pada Calista yang saat ini sedang mengganti baju Baby Daffa di dalam kamar.


"Iya. Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Baru kemarin aku melihat Daffa lahir sekarang dia sudah sepuluh bulan saja."


"Sebentar lagi usia Daffa akan masuk satu tahun. Apa kau ingin kita merayakan ulang tahun Daffa di tanah air? Jika iya aku bisa mengatur waktu untuk kita kembali."


"Aku rasa tidak perlu. Kita kan akan pulang juga beberapa beberapa bulan lagi."


"Apa kau yakin?" Danesh memastikan keputusan istrinya.


"Ya. Kita juga harus berhemat kan untuk biaya pulang nanti." Jawab Calista.


Calista tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


*


Kehebohan terjadi di kampus pagi itu saat Danesh tiba-tiba saja datang ke kampus membawa Baby Daffa. Beberapa orang yang sangat mengenali Danesh segera menghampiri Danesh untuk melihat dengan jelas bayi mungil yang dibawa Danesh saat ini.


"Ini anakmu?" Tanya Jessy yang ikut serta mendekat pada Danesh.

__ADS_1


"Ya. Ini Daffa putraku."


"Wah, aku baru sadar jika kalian sangat mirip sekali." Kedua bola mata Jessy berbinar menatap indahnya wajah dan bola mata Baby Daffa.


Danesh tersenyum saja mendengarnya. Jessy bukanlah orang pertama yang mengatakan jika dirinya sangat mirip dengan Baby Daffa.


Carol yang sejak tadi mencuri pandang pada Daffa pun akhirnya memberanikan diri untuk mendekat.


"Carol, kau lihat putra Danesh. Dia sangat tampan bukan." Ucap Jessy pada Carol.


Carol menganggukkan kepalanya. "Ya. Dia sangat tampan sekali. Mirip seperti daddynya." Puji Carol.


"Agh, rasanya aku ingin menggendongnya." Ucap Jessy sedikit ragu mengungkapkan keinginannya.


Di luar dugaan, Danesh langsung saja menyerahkan Baby Daffa pada Jessy. Mendapatkan kesempatan menggendong Baby Daffa tentu saja membuat Jessy sangat senang. Carol yang melihat Jessy menggendong Daffa pun tanpa sadar mengungkapkan keinginannya juga.


"Bagaimana Danesh, apa Carol boleh menggendong Daffa?" tanya Jessy.


***

__ADS_1


__ADS_2