
Malam itu tidak ada aktivitas ranjang seperti biasanya yang dilakukan Danesh dan Calista. Keduanya memilih mengistirahatkan tubuh masing-masing dengan Calista tidur di pelukan Danesh.
Jarum jam terus berputar ke arah kanan. Calista yang tiba-tiba saja terbangun akibat kerongkongannya terasa kering dengan hati-hati turun dari atas ranjang agar tidak mengganggu tidur Danesh.
Calista menghela nafas saat menyadari tadi ia lupa menaruh segelas air di atas nakas. Tidak punya pilihan lain, Calista segera keluar dari dalam kamar berniat mengambil air minum di dapur.
Suasana di luar kamar nampak gelap. Calista berjalan dengan hati-hati menuruni anak tangga sambil menghidupkan senter sebagai penerangan.
Saat sudah hampir dekat dengan dapur, Calista dibuat bingung melihat lampu dapur yang nampak menyala.
"Kenapa lampunya hidup. Apa ada orang di dalam dapur?" Gumamnya. Calista pun terus melangkah hingga sambil di pintu dapur.
Jantungnya berdetak sangat kencang saat melihat seseorang tengah duduk di atas kursi meja makan yang ada di dalam dapur.
"David..." gumamnya sambil mengusap dada dengan tangannya.
David yang sedang fokus pada ponsel di tangannya seketika mengangkat kepalanya mendengarkan suara Calista. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut pria itu. Ia hanya menatap sekilas pada Calista lalu kembali fokus pada ponsel di tangannya.
__ADS_1
Calista melangkah dengan ragu masuk ke dalam dapur. Ingin ikut diam saja rasanya Calista merasa tidak sopan pada kakak iparnya.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya Calista pada akhirnya.
David tak menyahut. Pria itu hanya memberikan tatapan datar dan dinginnya pada Calista. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, David bangkit dari posisi duduknya dan berlalu begitu saja dari dapur.
"Sopan sekali dia." Gumam Calista menatap kepergian David.
"Aku mendengar perkataanmu." Sahut David yang tiba-tiba saja menghentikan langkah.
Kedua kelopak mata Calista terbuka lebar. Ditatapnya tubuh David yang kini sudah bergerak dari posisi diam. "Dia mendengar perkataanku?" Gumam Calista tidak enak hati.
*
Keesokan harinya, Calista menceritakan apa yang terjadi tadi malam di dapur pada Danesh. Danesh yang mendengarkan cerita Calista hanya tersenyum miring.
"Kenapa kakakmu itu bisa sedingin itu?" Tanya Calista tak habis pikir.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Dia memang seperti itu. Jangankan denganmu, aku yang adik kandungnya saja jarang dia ajak untuk berbicara."
Calista mengangguk paham. Kini ia sudah mengerti bagaimana sikap keluarga Danesh satu persatu.
Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Calista sibuk memasukkan barang yang akan dibawa ke kampus dan Danesh sibuk memakai pakaiannya.
Tiba-tiba sana Calista teringat akan sesuatu. Apa lagi jika bukan mobilnya yang tidak ia bawa ke rumah mertuanya.
"Danesh, bagaimana aku berangkat ke kampus hari ini? Aku tidak membawa mobil ke sini?" Tanya Calista dengan raut bingung.
"Gampang. Kau tinggal pergi denganku. Beres."
"Apa? Jangan bercanda Danesh. Semua orang akan curiga jika kau pergi denganku. Akan banyak gosip yang bermunculan di akun media sosial kampus kita nanti."
"Lalu apa pedulinya untukku. Jika mereka ingin membicarakan kita dari belakang itu terserah mereka. Aku tidak perduli untuk itu." Sahut Danesh. Jika dulu ia berniat menutupi pernikahan mereka dari teman kampusnya kini rasanya Danesh tidak ingin menutupinya lagi.
***
__ADS_1
Vote dan gift dulu yuk sebelum lanjut. Teman-teman bisa follow ig shy @shy1210_ untuk info karya selanjutnya.