Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Kenapa Terus Tersenyum?


__ADS_3

"Sayang, kenapa kau terus tersenyum seperti itu sejak tadi?" Danesh yang sejak tadi memperhatikan ekspresi wajah istrinya pun bertanya.


"Tidak apa-apa. Memangnya kenapa?" Calista balik bertanya.


"Aku hanya berpikir hal apa yang membuatmu tersenyum sendiri sejak tadi."


Calista menipiskan bibirnya. Apa ia harus mengatakan pada Danesh jika hal yang membuatnya tersenyum sejak tadi karena ia berhasil membuat wanita parasit itu merah padam melihat kedekatannya dengan Danesh?


"Jadi?" Danesh kembali bersuara karena Calista hanya diam saja.


"Tidak apa-apa. Aku hanya senang saja karena akhirnya bisa menjemput suamiku pulang kuliah."


"Hanya itu saja?" Tanya Danesh.


Calista menganggukkan kepalanya.


Danesh memilih percaya saja. Ia pun tidak mempermasalahkan Calista yang tadi tiba-tiba datang ke depan kelasnya. Tiba-tiba saja Danesh teringat akan sesuatu. Besok sudah waktunya ia kembali bekerja setelah dua hari ini mengambil jadwal cuti bekerja.


"Apa kau tak apa aku tinggalkan dari pagi sampai sore esok hari?" Tanya Danesh setelah menjelaskan kegiatannya besok pada Calista.

__ADS_1


"Tak masalah. Lagi pula besok Mom dan Daddy mau mengajakku berjalan-jalan sebelum hari berikutnya mereka kembali ke tanah air.


"Lalu bagaimana dengan hari selanjutnya. Apa tak apa kau terlalu sering aku tinggal sendirian?"


"Tentu saja tidak masalah. Aku mengerti kesibukanmu dan aku akan menunggumu pulang di rumah."


Danesh merasa lega mendengarnya. Bukannya tidak ingin memberikan kebebasan pada Calista untuk berjalan-jalan jika ia merasa bosan. Hanya saja Danesh masih takut keamanan istrinya tidak terjamin jika berada di negara orang seperti saat ini.


*


"Sayang, besok temanku yang mengajar di kampus mengajakku untuk bertemu di kampus." Calista memberi tahu seraya menunjukkan layar ponselnya pada Danesh.


"Aku pergi sendiri saja. Tidak perlu mencemaskanku."


Danesh diam dan berpikir. Ia masih saja mengkhawatirkan keamaan istrinya jika jauh darinya. "Baiklah aku izinkan asal kau pergi bersama Jacob. Aku tidak akan tenang membiarkanmu bepergian sendiri di sini."


"Baiklah terserah kau saja." Calista memilih menurut. Lagi pula tidak masalah untuknya jika diantar oleh asisten suaminya itu.


"Sekarang kita tidur ya. Kau pasti sudah lelah." Ajak Danesh.

__ADS_1


"Emh tapi..." Calista nampak menolak.


"Ada apa, hem? Sudah waktunya tidur sayang." tutur Danesh lembut.


"Apa kau tidak rindu denganku? Sudah hampir dua bulan kita tidak lagi..." Calista menggantungkan perkataannya.


Danesh menahan senyum mendengarnya. "Aku takut menyakitimy dan Baby. Apa sekarang Baby sudah kuat di dalam sini?" Danesh mengusap perut istrinya.


"Sudah." Calista mengangguk cepat dengan wajah meyakinkan. "Baby sudah rindu ini dikunjungi ayahnya. Sejak awal dia hadir ayahnya tidak pernah mengunjungi. Sombong sekali." Gerutu Calista.


Danesh tertawa-tawa mendengarnya. "Ini Baby yang mau dikunjungi atau ibunya yang sudah ingin disentuh hem?" Danesh mencubit gemas hidung istrinya.


"Dua duanya. Aku mau Baby pun begitu." Calista yang merasa malu dengan perkataannya akhirnya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Danesh.


Danesh yang merasa gemas memberikan ciuman bertubi-tubi di pucuk kepala istrinya.


"Sayang, jadi kau mau tidak?" Calista mendongak karena Danesh tak kunjung memulai permainan mereka.


"Emh, bagaimana ya." Danesh pura-pura berpikir berniat menggoda.

__ADS_1


***


__ADS_2