
Inez harus menelan kekecewan saat ia sudah kembali ke perusahaan namun tidak lagi menemukan Danesh di sana. Dari informasi yang ia dapatkan dari Cinta, Danesh sudah pulang beberapa menit sebelum ia kembali ke perusahan.
"Sial sekali. Kenapa Danesh pulang lebih cepat hari ini!" Gumamnya. Karena tidak bisa mengintrogasi Danesh hari ini, Inez memutuskan untuk mengintrogasi Danesh keesokan harinya. Inez berharap jika jawaban yang Danesh berikan sesuai dengan harapannya.
"Wanita itu pasti berbohong. Ya. Dia berbohong agar aku tidak lagi mengejar Danesh." Gumam Inez merasa yakin.
Sementara Danesh yang sudah berada di dalam perjalanan pulang tengah tersenyum sambil mendengarkan cerita Calista dari sambungan telefon yang tengah dipusingkan dengan baju yang akan ia pakai untuk nanti malam di acara ulang tahun perusahaan keluarganya.
"Tidak usah pakai baju saja lebih bagus." Kelakar Danesh setelah cukup panjang Calista bercerita.
Di seberang telefon Calista melototkan kedua matanya mendengar jawaban Danesh. "Dasar mesum!" Ucapnya sedikit keras.
Danesh tertawa-tawa. "Lagi pula istriku ini lucu sekali. Sekian banyak baju di dalam lemari tapi mengatakan tidak punya baju." Danesh menggeleng sambil berbicara.
Calista di seberang sana nyengir kuda. Baju di dalam lemarinya memang sangat banyak tadi tidak ada satu pun yang cocok untuk ia pakai di acara nanti malam.
__ADS_1
"Begini saja, tidak perlu repot memilih baju lagi. Kau diam saja di rumah sebentar lagi aku pulang membawakan baju untukmu." Pesan Danesh.
"Kau ingin membawakan baju untukku? Baju apa?" Calista merasa penasaran. Danesh yang ditanya tidak menjawab dan meminta Calista untuk menunggunya pulang saja.
Panggilan telefon pun terputus setelah Danesh meminta izin untuk mematikannya. Pria itu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan lalu melihat saldo di MBanking yang ada di ponselnya.
"Sepertinya tabunganku masih cukup untuk membelikan baju Calista." Gumamnya setelah melihat deretan angka yang tertera di layar ponselnya.
*
Baru saja Danesh keluar dari dalam mobilnya, Calista sudah dibuat terkejut melihat paper bag yang saat ini dipegang oleh suaminya.
"Danesh..." Calista menatap Danesh penuh tanya.
Danesh mendekat pada istrinya itu dan menyerahkan paper bag pada Calista. "Ini baju yang aku janjikan tadi." Ucap Danesh.
__ADS_1
Calista membuka paper bag dan mengintip isi dalamnya. "Kau benar membelikan baju baru untukku?" Tanya Calista.
"Ya. Pakailah baju itu untuk acara nanti malam. Aku yakin kau terlihat semakin cantik setelah memakainya.
Calista merasa haru mendengarkan perkataan suaminya. Di situasi ekonomi keluarga mereka yang terbilang pas-pasan saat ini Danesh tetap berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
"Terima kasih, Danesh. Maaf jika aku merepotkanmu." Ucapnya tak enak hati.
"Kau ini bicara apa? Kau tidak pernah merepotkan aku. Aku justru senang bisa memberikan hadiah seperti ini untuk istriku."
Calista mengembangkan senyum. Setelah Danesh masuk ke dalam rumah, dipeluknya suaminya itu erat-erat. "Sekali lagi terima kasih. Aku beruntung memiliki mu." Danesh memegang kedua pipi Calista hingga kini wajah wanita itu terangkat menatap wajahnya.
"Sama-sama. Selagi aku bisa aku pasti akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu." Danesh mendekatkan wajah mereka dan memberikan ciuman lembut di bibir manis istrinya.
***
__ADS_1