
Lima belas menit berlalu, akhirnya Calista pun sadar dari pingsannya. Keningnya mengkerut dalam saat menyadari jika kini ia berada di ruangan serba putih yang ia yakini adalah rumah sakit.
"Kenapa aku ada di sini?" Lirihnya sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Calista, kau sudah sadar, Nak?" Mom Diora memegang sebelah tangan putrinya yang sudah tertancap jarum infus.
"Mommy... kenapa Cal bisa ada di sini?" Lirih Calista.
"Kau berada di sini karena tadi kau tiba-tiba saja pingsan di bandara, Nak."
Calista mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir sebelum ia tidak sadarkan diri. Wajah Calista pun berubah sendu saat mengingat kepergian suaminya.
"Sayang... apa kau sudah mengetahui jika saat ini kau sedang hamil?" Tanya Mom Diora lembut.
"Ha-hamil?" Calista terbata.
__ADS_1
"Iya, saat ini kau sedang hamil, Nak. Apa kau tidak mengetahuinya, Sayang?"
Calista menggelengkan kepalanya dengan pelan. Kedua matanya pun berkaca-kaca mendengar kabar jika saat ini dirinya sedang berbadan dua. "Aku hamil?" Lirihnya sambil mengusap perut.
"Cal... apa kau mau Mommy menghubungi Danesh untuk mengabari berita kehamilanmu saat ini?" Tanya Mommy Meisya yang sejak tadi hanya diam saja
"Tidak. Jangan beritahukan hal ini pada Danesh, Mom. Saat ini Danesh sedang berada di dalam perjalanan. Cal tidak mau membuatnya menjadi kepikiran dan memutuskan untuk kembali."
"Tapi, Cal..." Mom Diora nampak keberatan.
"Tolong hargai keputusan Cal, Mom. Cal tetap ingin Danesh menempuh pendidikan di sana." Lirihnya.
Mom Diora dan Mom Meisya memilih menuruti permintaan Calista. Mereka tidak ingin membuat Calista yang baru saja sadar menjadi banyak pikiran. Mereka pun mengerti dengan keputusan Calista saat ini.
Karena tadi dokter menyarankan jika sebaiknya Calista dibawa ke dokter kandungan, akhirnya Mom Diora pun membawa Calista memeriksakan kondisi kandungannya saat ini pada dokter obgyn.
__ADS_1
"Bagaimana dokter?" Tanya Mom Diora tak sabar saat dokter sedang melakukan pemeriksaan pada putrinya.
"Selamat, Nona Calista benar sedang menangandung dan saat ini usia kandungannya sudah memasuki empat minggu." Jawab Dokter.
Calista tersenyum haru mendengarnya. Dilihatnya di layar monitor gambar janinnya yang masih seukuran biji jagung. "Anakku." Lirihnya sambil mengingat wajah suaminya yang mungkin akan sangat bahagia jika mengetahui kabar kehamilan dirinya.
*
Di dalam pesawat Danesh nampak tak tenang memikirkan keadaan istrinya sejak tadi. Sudah beberapa pesan yang ia kirimkan pada Calista tak kunjung dibalas oleh Calista. Bertanya pada Dad Berto pun tak mendapatkan jawaban dari mertuanya karena Dad Berto tidak melihat pesan yang ia kirimkan.
"Calista, apa kau baik-baik saja saat ini?" Lirih Danesh.
Beberapa saat kemudian, pesan balasan dari Calista pun masuk. Danesh menghembuskan napas lega saat mengetahui istrinya baik-baik saja dan sudah berada di rumah mertuanya saat ini. Diusapnya foto wajah Calista yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
"Kenapa perasaanku sangat bahagia hanya melihat wajah Calista tersenyum seperti ini?" Gumam Danesh. Entah mengapa ia merasakan bahagia yang teramat besar hanya dengan melihat senyuman di wajah cantik istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang, kau selalu saja membuat aku bahagia tanpa sebab."
***