Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Tidak memperdulikannya


__ADS_3

Mobil milik Danesh kini sudah terparkir tepat di depan rumah kontrakannya. Calista yang melihat kedatangannya segera berjalan ke arah mobil lalu masuk ke dalamnya.


"Cantik sekali sore ini. Memangnya mau kemana?" Tanya Danesh berniat menggoda.


"Tidak tahu. Bukannya dirimu yang menentukan kita mau kemana?" Jawab Calista sambil mengangkat kedua bahunya. Tidak ada rona malu-malu yang Calista tunjukkan pada Danesh setelah mendapatkan pujian cantik dari suaminya itu.


Danesh tersenyum mendengarnya. Tidak ingin membuang waktu lebih lama, Danesh segera melajukan mobil ke suatu tempat yang tidak Calista ketahui dimana.


Empat puluh lima menit berkendara, akhirnya mobil milik Danesh tiba di sebuah mall yang cukup terkenal di kotanya.


"Kenapa kau membawaku ke mall, apa kau ingin membeli sesuatu di sini?" Tanya Calista.


"Tidak. Tapi kau yang akan membeli sesuatu di sini."


Kening Calista mengkerut bingung. "Aku tidak ingin berbelanja." Jawabnya.


Danesh tersenyum saja lalu membawa Calista keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Danesh, apa kau yakin kita akan masuk ke dalam mall ini? Bagaimana kalau nanti salah satu dari temanmu melihat kita berdua di sini?" Tanya Calista.


"Biarkan saja. Jika mereka bertanya ya tinggal jawab saja." Jawab Danesh acuh.


Calista dibuat tak habis pikir dengan jawaban yang suaminya berikan. Bagaimana tidak, baru beberapa bulan Danesh mengatakan dengan tegas jika dirinya ingin pernikahan mereka disembunyikan, kini Danesh sudah bersikap acuh jika pernikahan mereka akan terungkap.


"Tidak perlu banyak berpikir. Nanti kau semakin tua." Gurau Danesh. Mendengar itu membuat Calista sebal hingga mengerucutkan bibir. Jika saja ini tidak di tempat umum, rasanya Danesh sangat ingin mematuk bibir seksi istrinya yang sedang mengerucut itu.


Danesh dan Calista akhirnya masuk ke dalam mall dengan berjalan beriringan. Danesh membawa Calista ke sebuah toko make up dan meminta Calista untuk berbelanja di sana.


"Danesh, kenapa kau memintaku berbelanja di sini." Lirih Calista sambil menatap wajah suaminya.


"Tapi..." Calista rasanya sungkan ingin mempertanyakan apakah suaminya itu ada pegangan atau tidak.


"Hari ini aku baru saja gajian." Ucap Danesh memberitahu.


Calista menghembuskan nafas lega. Kini ia tahu alasan Danesh memintanya untuk berbelanja. Walau Danesh sudah meminta dirinya untuk mengambil apa saja yang ia inginkan, tapi tak membuat Calista kalap mata. Calista mempertimbangkan barang penting apa yang ia perlukan dan harganya masih terjangkau di kantong.

__ADS_1


"Kenapa kau hanya mengambil lipstik dan bedak saja? Kenapa tidak mengambil skincare yang lainnya?" Tanya Danesh saat Calista ingin beranjak ke kasir.


"Karena hanya ini yang aku butuhkan." Jawab Calista seadanya lalu meninggalkan Danesh begitu saja karena tidak ingin mendengarkan protes lagi dari suaminya.


Melihat Calista yang pergi dengan terburu-buru karena takut dengannya membuat Danesh menggelengkan kepalanya. "Dia pasti takut uangku akan habis." Gumam Danesh.


Beberapa menit berlalu, Calista sudah kembali membawa paper bag di tangannya. "Kita mau kemana lagi?" Tanyanya.


"Kita akan pergi ke bioskop yang ada di lantai atas." Jawab Danesh.


"Bioskop, memangnya kau ingin menonton apa?" Tanya Calista.


"Bukan aku tapi kita." Koreksi Danesh.


"Kita? Memangnya kita mau menonton apa?" Tanya Calista mulai merasa awas.


Danesh hanya diam dengan senyuman smirk yang tidak terlihat jelas di wajah tampannya.

__ADS_1


***


Bantu rate bintang 5 dulu yuk teman-teman sebelum lanjutšŸ¤—


__ADS_2