Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Kepanikan Berbuah Kebahagiaan


__ADS_3

Mom Diora benar-benar panik melihat putrinya tiba-tiba saja pingsan setelah kepergian menantunya. Dad Berto yang turut panik pun segera mengangkat tubuh Calista.


"Kita bawa ke rumah sakit saja!" Saran Mom Meisya saat salah satu pegawai bandara datang menawarkan pada mereka membawa Calista ke ruangan medis yang ada di bandara.


Dad Berto menyetujuinya lalu membawa Calista keluar dari dalam bandara diikuti yang lainnya.


Mom Diora tak henti menangis selama berada dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia sangat cemas dengan keadaan putrinya. Bayangan Calista terbaring tak berdaya akibat tertembak beberapa tahun yang lalu masih teringat jelas di dalam benaknya.


"Daddy... kenapa Calista pingsan. Ada apa dengan putri kita?" Tanya Mommy Diora pada Dad Berto yang sedang memangku tubuh Calista.


"Tenanglah, Sayang. Putri kita pasti baik-baik saja."


Mom Diora tetap saja tak bisa tenang. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu kembali pada putrinya.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya mobil yang dikendarai David tiba di pelantaran rumah sakit. Mom Meisya yang tak kalah panik pun berteriak memanggi para perawat dan dokter untuk datang memeriksa keadaan menantunya.


"Sayang, tenanglah." Dad Raka mengusap lengan istrinya.


"Diamlah, Dad. Bagaimana aku bisa tenang melihat menanti kita pingsan seperti ini!" Semburnya.

__ADS_1


Dad Raka memilih diam.


Beberapa orang perawat pun akhirnya datang membawa brankar lalu membantu Dad Berto mengangkat tubuh Calista ke atas brankar.


"Mohon tunggu di luar!" Ucap Dokter saat Mom Diora dan Mom Meisya hendak ikut masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.


Keduanya nampak memasang wajah protes namun tetap mengiyakan perintah dokter untuk tidak masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.


Kedua wanita paruh baya itu akhirnya menangis di dalam pelukan suami mereka masing-masing mengkhawatirkan keadaan Calista. Sementara David, pria itu nampak bimbang apakah harus menghubungi Danesh atau tidak. Jika prediksinya tidak salah, seharusnya saat ini Danesh sudah berada di dalam pesawat yang akan membawanya pergi ke luar negeri.


Beberapa menit menunggu, akhirnya dokter yang tadi memeriksakan Calista pun keluar dari dalam ruangan pemeriksaan.


"Ya, bagaimana dengan keadaan menantu saya?"


Cecar kedua wanita paruh baya secara bergantian.


Dokter tersebut tersenyum melihat kecemasan di wajah Mom Diora dan Mom Meisya.


"Hei, kenapa anda tersenyum seperti itu?" ketus Mom Meisya seraya berkacak pinggang. Sebal melihat senyuman di wajah dokter tersebut.

__ADS_1


"Saya tersenyum karena ingin menyampaikan kabar bahagia pada anda semua." Jawabnya.


"Kabar bahagia, apa maksud anda, dokter?" Tanya Dad Berto.


"Menurut hasil pemeriksaan yang sudah saya lakukan sepertinya Nona Calista saat ini sedang mengandung. Untuk memastikan lebih lanjut Tuan dan Nyonya bisa membawa Nona Calista ke bagian dokter obgyn."


"Apa?!" Pekik Mom Diora dan Mom Meisya nyaris bersamaan.


"Putriku hamil?" Ucap Mom Diora kemudian.


Dokter mengangguk seraya tersenyum.


"Apa kau dengar itu, Meisya? Calista hamil! Putriku hamil!"


"Aku mendengarnya, Diora. Menantuku hamil!" Jawab Mom Meisya lalu keduanya pun saling berpelukan sambil mengucap syukur.


Dad Berto dan Dad Raka ikut mengucapkan rasa syukur atas berita kehamilan Calista yang sudah sejak lama mereka nantikan.


David yang mendengarkannya pun masih memasang wajah datar namun di dalam hatinya ikut bersyukur karena sebentar lagi ia akan menyandang status sebahai Hot Paman.

__ADS_1


__ADS_2