Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Istri Idaman


__ADS_3

Danesh tak menyurutkan senyuman di wajah tampannya melihat betapa menggemaskannya wajah Calista saat sedang manyun seperti saat ini. Calista semakin sebal saja melihat senyuman di wajah Daniel yang terlihat sangat menyebalkan di matanya.


"Sudah sebalnya?" Tanya Danesh saat ia dan Calista sedang berada di restoran untuk menikmati makan malam yang sudah tertunda akibat menonton film.


"Siapa yang sebal, aku biasa saja." Dustanya.


Danesh menahan senyum. Pandai sekali istrinya ini bersilat lidah. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut Danesh saat pelayan datang menghidangkan makanan pesanan mereka di atas meja.


Danesh dan Calista segera menyantap makanan masing-masing karena perut mereka sudah terasa sangat lapar.


Setelah menghabiskan waktu berduaan selama berjam-jam di dalam mall, akhirnya Danesh dan Calista kembali pulang ke kediaman mereka.


"Terima kasih untuk hari ini, Danesh. Aku sangat senang diajak bermain seperti tadi." Ucap Calista tulus setelah mereka berada di dalam rumah. Setelah berpisah dengan Dio dua tahun yang lalu, Calista tidak pernah lagi merasakan yang namanya berjalan atau bermain dengan seorang pria. Ia benar-benar menutup dirinya rapat-rapat dari ajakan para pria yang mencoba mendekatinya.

__ADS_1


"Sama-sama. Aku akan berusaha meluangkan waktu setiap minggu untuk mengajakmu jalan-jalan."


Calista tersenyum mendengarnya. Untung saja saat berada di dalam mall tadi tidak ada satu pun orang yang mereka kenali mereka temui di sana.


"Oh ya, aku sudah mengirimkan uang ke rekeningmu. Aku tahu jumlahnya mungkin kalah saing dengan gajimu. Tapi aku harap ku bisa menerimanya dan bersabar menungguku mendapatkan gaji yang lebih memadai untukmu." Danesh rasanya sangat tidak enak memberi nafkah yang jumlahnya jauh dari gaji Calista.


"Kau ini bicara apa? Berapapun uang yang kau berikan kepadaku akan akan bersyukur menerimanya. Aku akan mempergunakannya dengan baik untuk rumah tangga kita."


Danesh mengembangkan senyum yang membuatnya terlihat semakin tampan. Beruntung sekali rasanya ia saat ini memiliki istri yang tidak banyak menuntut seperti Calista.


Bukannya merona mendengar pujian dari Danesh, Calista justru merasa tidak suka mendengarnya. "Kau ini bicara apa? Berlebihan sekali. Siapa juga yang menjadi istri spek idaman. Aku bisa saja." Jawabnya.


"Tapi menurutku kau sangat luar biasa. Oh ya, Calista, apakah sudah boleh jika aku memelukmu? Tadi aku kurang puas memelukmu saat di bioskop."

__ADS_1


Calista menatap wajah Danesh dengan intens. Danesh adalau suaminya dan sudah sewajarnya jika seorang istri memeluk suaminya.


"Tentu saja boleh. Peluk saja jika kau menginginkannya." Ucap Calista.


Danesh tak membuang kesempatan emas itu begitu saja. Ia segera menarik tubuh Calista ke dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat.


Jantung Calista seketika berdetak sangat cepat mendapatkan pelukan hangat dari Danesh. Tanpa Calista sadari kini kedua tangannya terangkat memeluk tubuh Danesh.


Hati Danesh seketika berbunga-bunga mendapatkan pelukan yang sangat hangat dari Calista. Rasanya Danesh sangat ingin meminta yang lebih pada Calista. Tapi Danesh terpaksa mengurungkan niatnya karena tidak ingin bersikap terburu-buru pada Calista. Apa lagi saat ini keduanya sama-sama lelah dan membutuhkan waktu untuk istirahat.


"Terima kasih." Ucap Danesh setelah pelukan keduanya terlepas.


"Untuk apa berterima kasih? Kau berhak atas diriku." Jawab Calista lembut.

__ADS_1


***


__ADS_2