
"Sudahlah, Carol, untuk apa kau ingin mengetahui tujuan wanita itu datang ke sini.Tidak penting sekali." Wajah Jessy sudah nampak sebal. "Sebaiknya kita kembali saja ke dalam kelas karena sebentar lagi sudah masuk jam kuliah pertama."
"Tapi aku tetap ingin di sini." Jawab Carol. Ia masih saja merasa penasaran tujuan Calista datang saat ini.
"Terserah kau saja.Tapi aku akan pergi." Tanpa menunggu jawaban Carol, Jessy melangkah pergi begitu saja. Menurutnya hanya membuang waktu saja jika ia terus mengikuti kemauan Carol.
Carol mendecakkan lidah. Sebal sekali dengan sikap Jessy yang tidak pernah mendukungnya. Pada akhirnya Carol memilih pergi mengikuti Jessy karena ia tidak ingin terlambat masuk ke dalam kelas.
*
Setelah dua jam berlalu, akhirnya Calista keluar dari dalam ruangan dalam ruangan kerja teman lamanya yang bernama Jesica dan ditemani oleh Jesica.
"Sayang sekali kau tidak menerima tawaran untuk bekerja di kampus ini. Padahal aku yakin kampus ini akan maju jika ada kau di dalamnya."
Calista tersenyum seraya mengusap perut. "Suamiku tidak mengizinkan aku bekerja. Dia hanya ingin aku banyak istirahat di rumah dan menjaga kandunganku dengan baik.
" Baiklah, aku mengerti. Ngomong-ngomong aku cukup terkejut mengetahui jika Danesh adalah suamimu." Suara Jesica terdengar pelan takut ada orang lain yang mendengarnya.
__ADS_1
"Kenapa terkejut. Apa karena umur kami yang terpaut cukup jauh?" Tebak Calista.
"Begitulah." Jesica tersenyum.
Suara deringan panggilan telefon dari ponsel Calista membuat pembicaraan keduanya terhenti. Calista segera mengusap simbol hijau setelah melihat nama pemanggil telefon.
"Jesica, kalau begitu aku pamit pulang dulu. Asisten suamiku sudah menungguku di parkiran."
"Baiklah, hati-hati di jalan dan jangan sungkan berkunjung ke sini lagi."
Calista mengangguk mengiyakannya lalu melangkah pergi meninggalkan meninggalkan Jesica.
"Maaf, ada apa ya?" Calista bertanya dengan wajah yang nampak datar.
"Boleh minta waktu anda sebentar. Ada hal penting yang ingin saya tanyakan pada anda."
"Kalau begitu tanyakan saja langsung." Jawab Calista cepat.
__ADS_1
"Kemarin saya melihat anda datang menghampiri Danesh ke depan kelas kami. Kalau boleh tahu ada hubungan apa anda dengan Danesh sampai memanggilnya dengan sebutan sayang?" wajah Carol nampak tak bersahabat saat mempertanyakannya.
"Jika saya tidak mau menjawabnya bagaiman?" Calista sedikit menantang.
Wajah Carol seketika masam setelah mendengarnya. "Anda harus menjawabnya." Tekan Carol.
"Baiklah kalau begitu." Calista tak mempermasalahkannya.
"Jadi ada hubungan apa anda dengan Danesh? Anda tidak mungkin kekasihnya bukan mengingat anda sedang hamil saat ini. Danesh tidak mungkin menghamili wanita di luar pernikahan."
"Anda benar, saya memang bukan kekasih Danesh."
Wajah Carol seketika lega setelah mendengarnya. "Jika anda bukan kekasihnya lantas mengapa anda memanggilnya dengan sebutan sayang?" Ketusnya.
"Saya memang bukan kekasihnya tapi saya adalah istrinya. Jadi wajar saja bukan jika saya memanggil sayang pada suami saya sendiri?" Tanya Calista. Wajahnya berubah menyeringai melihat ekspresi terkejut Carol setelah mendengar pernyataannya.
"Apa?! Anda jangan bercanda!" seru Carol.
__ADS_1
"Untuk apa saya bercanda di saat kita sedang berbicara serius seperti saat ini. Danesh benar adalah suami saya dan saya sedang mengandung anak Danesh. Jadi saya minta pada anda agar jangan coba-coba untuk mendekati suami saya lagi!"
***