Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Apa kau cemburu?


__ADS_3

Calista menggelengkan kepala. "Belum." Jawabnya apa adanya.


Rose menegakkan punggungnya yang semula ia majukan ke depan. "Sudah ku duga." Jawabnya.


Calista menipiskan bibir. "Mau bagaimana lagi. Aku butuh waktu untuk itu." Calista menyandarkan punggungnya. "Danesh juga menghargai keputusanku untuk itu."


"Aku harap kau tidak terlalu lama mengulur waktu, Cal. Danesh adalah pria normal. Berada dekat denganmu pasti membuat juniornya meronta-ronta."


"Junior? Maksudnya?" Calista nampak bingung.


Rose pun membisikkan apa arti perkataannya pada Calista hingga membuat Calista bergedik ngeri.


"Kau sudah dengar dan lihat bukan perselingkuhan di kalangan artis akhir-akhir ini. Apa kau tidak takut suamimu akan berselingkuh karena tidak mendapatkan nafkah batin darimu?"


"Aku rasa Danesh bukan pria seperti itu." Calista berusaha yakin jika suaminya adalah pria yang baik.

__ADS_1


"Cal... Cal. Ingatlah suamimu itu idola wanita. Mungkin sudah banyak wanita yang melemparkan tubuhnya pada Danesh untuk dia sentuh." Rose berusaha menakuti Calista. Jika ingin hubungan keduanya semakin dekat maka keduanya harus memulai dengan yang manis-manis lebih dulu. Itu yang Rose pikirkan.


"Kau jangan menakutiku begitu. Kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan saat ini." Pandangan Calista nampak kosong setelah mengatakannya.


"Mungkin aku tidak mengerti, Cal. Tapi aku hanya ingin yang terbaik untukmu."


Calista mengembangkan senyum. Ia sama sekali tidak merasa jika Rose ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Calista pikir Rose adalah sahabat baiknya yang pasti menginginkan hal yang terbaik untuk dirinya.


"Aku tahu itu. Sudahlah, sekarang jangan membahas masalah hidupku dulu. Lebih baik kita bersiap-siap untuk mengajar."


*


Calista mulai terpikir dengan perkataan Rose saat sedang berjalan melewati koridor gedung B menuju ruangan kelas ia mengajar. Selama berjalan melewati koridor, sayup-sayup Calista mendengar gosipan mahasiswinya yang menceritakan tentang Danesh yang sudah putus dengan Audrey. Beberapa dari wanita itu mengungkapkan ketertarikannya kepada Danesh secara terang-terangan.


Calista memilih mengabaikan mereka hingga akhirnya ia masuk ke dalam kelas. Calista menghembuskan napas saat masuk ke dalam kelas melihat Audrey tengah duduk di sebelah Danes sambil mencoba mengajak Danesh untuk berbicara. Sementara Danesh yang diajak berbicara hanya diam sambil menatap ke arahnya.

__ADS_1


Audrey. Sepertinya dia sangat terobsesi memiliki Danesh. Ucap Calista dalam hati.


Perkuliahan pun dimulai saat jam disepensasi sudah habis. Selama memaparkan materi sesekali Calista menatap pada Danesh yang masih saja diganggu oleh Audrey.


"Tolong jangan ribut di kelas saya. Jika ingin ribut maka keluar saja!" Ucap Calista saat suara Audrey tertangkap oleh telinganya.


Danesh menyunggingkan senyum. Untuk pertama kalinya ia melihat Calista merasa terganggu dengan aktivitas di sekitarnya. Peringatan Calista tentu saja menguntungkan Danesh karena kini Audrey menutup mulunya rapat-rapat.


"Apa tadi kau cemburu?" Tanya Danesh pada Calista. Saat ini keduanya sedang berada di dalam ruangan Calista setelah jam perkuliahan sudah habis. Danesh memanfaatkan tugas Ketua kelasnya mengantarkan barang-barang milik Calista ke dalam ruangan Calista.


Kening Calista mengkerut. Ia menatap Danesh dengan heran. "Cemburu? Makusdnya? Kenapa kau mengatakan aku cemburu?" Tanya Calista karena ia tidak merasa demikian.


"Apa kau cemburu saat melihat Audrey berbicara denganku dan mencoba mendekatiku?" Danesh memperjelas maksud perkataannya.


Skakmat, perkataan Danesh berhasil membuat Calista diam tak dapat berkata-kata.

__ADS_1


****


__ADS_2