
"Tidak ada, Mommy" Calista tersenyum memperlihatkan dirinya baik-baik saja. Oh ya, Mommy ingin ditemani kemana?"
"Ke minimarket yang berada di ujung jalan. Apa kau bisa menemani Mommya, Nak?" Tanya Mommy Meisya. Takut mengganggu waktu istirahat menantunya itu.
"Tentu saja bisa, Mom. Kalau begitu tunggu sebentar ya, Mom. Cal ambil kunci mobil dulu."
Mom Meisya menahan pergerakan Calista. "Tidak perlu. Kita naik motor saja. Mom lebih suka naik motor saja dari pada mobil."
Calista terdiam. Sejujurnya ia tidak terlalu ahli dalam membawa motor. Ia takut jika nantinya akan bahaya jika menggonceng Mom Meisya.
"Mommy yang akan membawa motornya, Nak. Ayo kita pergi." Ucap Mom Meisya seakan tahu apa yang Calista pikirkan saat ini.
Calista menghela nafas lega. Ia mengangguk mengiyakan ajakan Mommy Meisya lalu melangkah ke arah tangga.
__ADS_1
"David, kau sudah pulang?" Tanya Mom Meisya saat mereka bertemu di lantai bawah dengan David.
David hanya mengangguk tanpa bersuara. Melihat respon putranya membuat Mom Meisya mengusap lengan kekar David. "Mom pergi ke minimarket dulu dengan Calista. Apa kau ingin menitip sesuatu?"
David menggeleng. "Hati-hati di jalan." Jawabnya. David pun melangkah ke arah tangga setelah mendapatkan anggukan kepala dari Mom Meisya.
"Mommy, apa sikap David memang seperti itu pada semua orang?" Calista nampak heran. Bagaimana tidak, jangankan dengannya, dengan Mom Meisya saja David bisa sedingin itu.
"Ya, seperti itulah. David memang jauh lebih dingin dari Danesh. Tapi untung saja dia masih normal sehingga Mom tidak perlu khawatir." Ucap Mom Meisya di akhiri tawa di wajahnya.
*
Di perusahaan tempat Danesh bekerja, pria itu nampak enggan melangkahkan kaki untuk pulang walau waktu sudah lebih setengah jam dari waktu pulang. Danesh memilih berdiam diri di dalam ruangan kerjanya sambil memikirkan perkataan Raju tadi siang.
__ADS_1
"Danesh, kau tidak ingin pulang?" Tanya Cinta. Wanita itu baru saja selesai membuang hajatnya di dalam kamar mandi. Ia pikir Danesh sudah pulang ke rumahnya mengingat sudah hampir setengah jam ia berada di dalam kamar mandi sejak waktu pulang tiba.
"Sebentar lagi. Aku masih ingin di sini." Jawab Danesh.
Cinta meneliti ekspresi wajah Danesh saat ini. Melihat ada yang berbeda dengan Danesh membuat Cinta memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan Danesh lebih dulu.
"Ada apa? Apa kau ada masalah?" Tanya Cinta.
Danesh hanya diam seakan enggan untuk menjawab.
"Selama kau bekerja di sini kau tidak pernah mengundur waktu pulang seperti ini." Cinta kembali angkat suara. "Baiklah, kalau kau tidak mau diganggu kalau begitu aku pulang lebih dulu. Kekasihku sepertinya sudah menunggu di depan sejak tadi." Pamitnya.
"Tunggu dulu!" Danesh menahan pergerakan Cinta hingga membuat langkah wanita itu terhenti. "Menurutmu apakah mudah bagi seorang wanita melupakan cinta sejatinya? Maksudku wanita yang sudah menjalin hubungan begitu lama dengan mantan kekasihnya bahkan rela berkorban nyawa demi pria itu."
__ADS_1
Cinta diam beberapa saat sebelum mejawab. "Jika kau bertanya kepadaku maka aku jawab cukup sulit. Apa lagi pria itu sangat baik. Aku pernah berada di posisi wanita yang kau maksud saat ini. Buktinya sekarang, walau aku bersama dengan kekasihku namun pemikiranku terus saja tertuju pada masa laluku." Jawab Cinta menceritakan pengalaman pribadinya.
***