
Suara lenguhan terdengar saling bersahutan memenuhi ruangan kamar apartemen Danesh dan Calista. Keduanya kini terlihat tengah terlibat pertempuran keringat dengan Danesh yang menjadi pemimpin permainan.
Calista sangat merasa puas dengan kelihaian Danesh memimpin permainan hingga membuatnya terbuai tak dapat berkata-kata. Calista tak kuasa menikmati hangatnya sentuhan suaminya dengan mata terpejam dan sesekali terbuka.
"Kita akhiri saja." Ucap Danesh setelah melihat wajah Calista nampak pucat pertanda istrinya sudah kelelahan. Ia tidak ingin terlalu terbawa napsu yang nantinya bisa berakibat buruk dengan janin yang sedang Calista kandung.
"Kenapa?" Wajah Calista nampak tak rela. Ia masih ingin dijamah oleh suaminya tercinta.
"Kau sudah kelelahan. Sekarang lebih baik kita istirahat." Danesh mengusap pelipis istrinya yang dibanjiri keringat.
Calista tak kuasa untuk menolak. Terlebih ia merasa malu jika mengungkapkan dirinya masih menginginkan Danesh saat ini.
"Baiklah." Akhirnya Calista menurut. Di dalam hatinya ia berkata jika masih ada waktu lain untuknya dan Danesh bertukar saliva dan keringat kembali.
*
Keesokan harinya. Calista yang sudah berniat pergi ke kampus pagi ini nampak sudah rapi dengan setelan kemeja dan rok sebatas lutut. Sementara Danesh yang akan bekerja pagi ini sudah rapi dengan setelan jas bewarna coklat dan celana kain bewarna senada.
__ADS_1
"Ayo turun. Jacob sudah menunggu kita di bawah." Ajak Danesh.
Calista mengiyakannya lalu keluar dari dalam apartemen bersama dengan Danesh.
"Selamat pagi, Tuan, Nona." Sapa Jacob saat Danesh dan Calista baru saja keluar dari lobby apartemen.
Calista dan Danesh tersenyum seraya membalas sapaan Jacob. Setelah berbicara sejenak dengan Jacob, akhirnya Danesh berpamitan berangkat bekerja pada Calista begitu pula sebaliknya.
"Aku pergi dulu." Ucap Calista sebelum masuk ke dalam mobil.
Danesh mengiyakannya. "Kabari aku jika kau sudah sampai." Pesan Danesh.
Danesh memperhatikan mobil Jacob melaju meninggalkan apartemen lebih dulu baru setelahnya masuk ke dalam mobilnya menuju perusahaan.
Dua puluh menit berlalu, Calista kini sudah berada di area kampus. Kedatangan Calista kali ini menjadi pusat perhatian orang-orang karena ia turun dari mobil milik Jacob yang mereka ketahui adalah salah satu orang berpengaruh di perusahaan yang cukup ternama di kota mereka.
"Jessy, kau lihat itu, wanita yang kemarin bersama Danesh datang lagi dengan asisten Jacob!" Ucap Carol pada Jessy yang juga tengah menatap pada Calista.
__ADS_1
"Ya, aku melihatnya. Memangnya ada apa?" Jessy nampak biasa saja seolah tidak terkejut melihatnya.
Carol mendecakkan lidah. Tidak seru sekali berbicara dengan Jessy yang tidak terkejut seperti dirinya.
"Bagaimana dia bisa turun dari mobil tuan Jacob? Apa dia ada hubungannya dengan Tuan Jacob?" Tanya Carol.
"Mana aku tahu. Jika kau penasaran maka tanyakan saja kepadanya langsung." Jawab Jessy malas.
Carol sebal mendengarnya. Akhirnya Carol memilih menatap gerak-gerik Calista dan akhirnya mengikuti kemana Calista pergi saat ini.
"Jessy, ayo!" Seru Carol karena Jessy hanya diam di tempat tak ingin mengikutinya.
"Baiklah." Jessy memilih menurut dari pada nanti mendapatkan omelan dari Carol.
Keduanya pun mengikuti Calista dari jarak yang tidak terlalu jauh hingga akhirnya Calista masuk ke dalam ruangan yang mereka ketahui adalah ruangan salah satu dosen di kampus mereka.
"Kenapa dia masuk ke ruangan itu?" Carol bertanya-tanya.
__ADS_1
***