
Calista mencoba tetap fokus memaparkan materi pada mahasiswanya walau saat ini pikirannya terus tertuju pada pesan yang dikirimkan oleh suaminya yang berisi pesan kekecewaan. Setelah hampir dua jam berada di kelas, akhirnya Calista dapat menghela napas lega setelah selesai melaksanakan kewajibannya dengan baik di dalam kelas.
Calista buru-buru meninggalkan kelas tempat ia mengajar menuju parkiran mobil. Ia berniat melakukan panggilan video dengan Danesh di dalam mobilnya. Saat sudah hampir dekat dengan parkiran mobil, pandangan Calista tiba-tiba saja tertuju pada arah pohon besar yang memperlihatkan ada Rose dan Reza yang nampak sedang berbicara di sana.
"Rose, Kak Reza. Sedang apa mereka di sana?" Gumamnya. Tak ingin ambil pusing dengan apa yang mereka lakukan di sana, Calista segera melanjutkan langkah menuju mobilnya berada.
Setelah masuk ke dalam mobil, Calista langsung saja melakukan panggilan video dengan Danesh. Namun setelah tiga kali mencoba melakukan panggilan video dengan Danesh, panggilannya tak kunjung diangkat oleh Danesh padahal status di aplikasi menunjukkan Danesh sedang online.
"Apa dia marah kepadaku?" Lirih Calista.
Calisa mencoba melakukan panggilan video untuk yang keempat kalinya namun tetap saja panggilan telefonnya tak kunjung diangkat oleh suaminya.
"Dia benar-benar marah kepadaku." Lirih Calista dengan mata berkaca-kaca. Calista menjatuhkan wajah di atas stir dan menangis tersedu-sedu. Hanya karena memikirkan Danesh marah kepadanya saja membuatnya sangat bersedih seperti saat ini.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang. Aku bersalah kepadamu." Ucap Calista tersendat-sendat disela tangisannya.
Karena tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik pagi itu, Calista memilih pulang ke kediaman kedua orang tuanya. Tak lupa sebelum pulang Calista mengirimkan pesan pada Rose yang menyatakan dirinya pulang lebih awal dengan alasan tak enak badan.
Selama berada dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya, Calista terus mencoba melakukan panggilan telefon dengan Danesh namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Calista tak kunjung menyerah melakukan panggilan hingga akhirnya mobil miliknya sampai di rumah kedua orang tuanya.
"Calista!" Wajah Mom Diora seketika panik melihat Calista turun dari dalam mobil dengan berderai air mata.
"Mommy..." Calista merengek layaknya anak kecil.
"Da-danes..." Calista semakin menangis dengan kencang setelah menyebutkan nama suaminya.
Mendengar nama Danesh disebut membuat Mom Diora sudah dapat menebak hal apa yang membuat Calista bersedih saat ini.
__ADS_1
"Ayo kita masuk ke dalam." Mom Diora menuntun Calista masuk ke dalam rumah.
Setelah berada di ruang tengah rumah, Calista langsung saja menceritakan pesan yang Danesh kirimkan kepadanya pada Mom Diora.
Mom Diora yang mendengarkannya pun menghela napas panjang karena dugaannya ternyata benar. "Maafkan Mommy, Cal. Mom yang memberitahu Danesh tentang kehamilanmu. Tadi pagi Danesh menelefon Mom dan meminta Mom untuk jujur ada apa denganmu. Dia sangat cemas dengan kondisimu saat ini."
"Mommy..." tangisan Calista semakin tumpah. Danesh pasti saat ini sangat kecewa kepadanya.
"Mom mengerti kau melakukan ini semua demi kebaikan suamimu. Tapi Mom tidak bisa membenarkan dirimu yang sudah menutupi kebenaran dari Danesh." Tutur Mom Diora lembut.
Calista hanya diam saja. Ia terus menangis di dalam pelukan Mom Diora sambil membayangkan wajah kecewa suaminya.
"Danesh, maafkan aku..."
__ADS_1
***