Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Gambar Kiriman Calista


__ADS_3

Kedu tangan Carol tanpa sadar terkepal di bawah meja. Ia terdiam. Menahan rasa kecewa dan sedih secara bersamaan. "Jadi benar jika Danesh sudah memiliki kekasih." Lirih Carol dalam hati.


"Carol, apa kau tak apa?" Jessy memastikan.


"Aku tak apa." Jawab Carol seraya tersenyum. Carol kembali menajamkan pendengarannya agar dapat mendengar pembicaraan Danesh. Namun ia sudah tidak lagi mendengarkan apa-apa karena Danesh ternyata sudah mematikan sambungan panggilan videonya dengan istrinya.


Ponsel Danesh berdering menunjukkan notifikasi pesan masuk. Danesh segera membuka pesan masuk dari Calista dan tersenyum melihat wajah Calista yang nampak seperti orang tertidur.


"Dia ini kenapa selalu saja menggemaskan." Danesh rasanya sangat ingin mencubit kedua pipi Calista yang nampak membulat semenjak mengandung anaknya.


Kedatangan seorang pelayan membawakan pesanan makan dan minumannya membuat perhatian Danesh beralih pada pelayan untuk mengucapkan terima kasih. Danesh pun kembali memusatkan pandangan pada ponselnya setelah kepergian pelayan. Diusapnya layar ponselnya yang memperlihatkan gambar istrinya. Merasa perutnya sudah lapar dan meminta untuk diisi, Danesh segera meletakkan ponsel di atas meja dan mulai menikmati makan siangnya.


*

__ADS_1


Hari yang ditentukan untuk Danesh bekerja di perusahaan milik keluarganya akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali Danesh nampak sudah rapi dengan kemeja bewarna navy dan celana kain bewarna senada. Untung saja hari ini ia tidak memiliki jadwal kuliah pagi sehingga tidak membutuhkan drama lebih dulu sebelum pergi ke perusahaan cabang milik keluarganya.


Seseorang yang ditunjuk Daddy Raka untuk menjadi asisten Danesh selama bekerja di perusahaan keluarganya nampak datang ke apartemen untuk mengantarkan Danesh pergi bekerja.


"Perkenalkan nama saya Jacob, Tuan." Sang asisten memperkenalkan diri pada Danesh.


Danesh balik memperkenalkan dirinya walau ia tahu jika Jacob sudah mengetahui siapa namanya.


"Silahkan masuk, Tuan." Ucap Jacob setelah membukakan pintu untuk Danesh.


Jacob mengiyakannya tanpa bantahan. Menurutnya perintah Danesh di atas segalanya. Jacob pun ikut masuk ke dalam mobil setelah Danesh masuk ke dalam mobilnya.


Mobil milik Jacob akhirnya melaju meninggalkan pelantaran apartemen. Selama berada di dalam perjalanan menuju perusahaan, Danesh menyempatkan berbalas pesan pada istrinya.

__ADS_1


Hingga dua puluh menit berlalu, mobil milik Jacob sudah berhenti tepat di depan perusahaan. Jacob yang masih mengingat dengan jelas pesan dari Danesh memilih membiarkan Danesh membuka pintu mobilnya sendiri.


Kedatangan Danesh pagi itu pun disambut dengan senyuman di wajah para karyawan yang sudah mengetahui siapa Danesh sebenarnya.


Danesh membalas sapaan dan senyuman mereka sambil melangkah ke arah lift berada.


"Tampan sekali ya anak Tuan Raka." Bisik-bisik karyawan terdengar namun Danesh tak memperdulikannya. Ia terus saja berjalan hingga akhirnya masuk ke dalam kotak besi yang akan membawanya ke lantai ruangan kerjanya berada.


"Semangat kerjanya hari ini, Sayang." Balasan pesan singkat dari Calista membuat Danesh tersenyum sendiri saat melihat pesan di ponselnya. Senyuman di wajah Danesh semakin terkembang saat Calista mengirimkan foto bentuk perutnya saat ini.


"Dia benar-benar nakal." Gumam Danesh. Entah sudah berapa banyak gambar wajah dan perut yang Calista kirimkan kepadanya. Danesh merasa tidak terganggu dengan banyak foto yang dikirimkan istrinya justru merasa sangat senang.


"Awas saja jika kau sudah berada di sini istri nakalku."

__ADS_1


***


__ADS_2