
Sore itu Danesh pulang ke kediamannya dengan membawa banyak makanan yang menurutnya disukai oleh istrinya. Melihat kepulangan suaminya dari jendela kamar membuat Calista segera membuka pintu rumahnya.
"Danesh?" Calista menatap berbinar pada beberapa plastik makanan yang Danesh jinjing.
Danesh menebarkan senyum. "Lihat ini. Aku bawa banyak makanan untukmu." Ucapnya sambil mengangkat plastik yang berada di tangannya.
"Benarkah?" Kedua mata Calista berbinar.
Danesh mengangguk lalu menyerahkan plastik tersebut pada Calista.
"Wah, banyak sekali makanannya." Calista begitu senang melihat banyak makanan yang sudah berpindah ke tangannya.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Danesh.
"Tentu saja. Ayo kita masuk. Aku tidak sabar mau memakannya!" Ajak Calista.
Danesh mengiyakannya lalu masuk ke dalam rumah. Calista yang sudah tidak sabar menyicipi makanan yang Danesh bawa pun langsung saja mengeluarkan makanan tersebut dari dalam plastik.
"Telur gulung kesukaanku!" Ucap Calista lalu memakan satu tusuk telur gulung yang baru saja ia ambil.
__ADS_1
"Kau boleh memakan semuanya hari ini. Tapi ingat, besok kau sudah harus mengontrol makananmu lagi. Aku tidak ingin kau sakit karena makan makanan sembarang." Pesan Danesh.
Calista menganggukkan kepalanya. Dibandingkan makan makanan dari restoran mewah, Calista lebih menyukai jajanan kaki lima seperti yang Danesh bawakan saat ini.
"Oh ya, ini untukmu." Danesh menyerahkan amplop berisi uang yang tadi ia dapat dari Tuan Hendro pada Calista.
"Apa ini?" Tanya Calista setelah amplop tersebut berpindah ke tangannya.
"Uang dari Tuan Hendro."
Calista membuka isi amplop tersebut sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. "Banyak sekali?" Gumamnya melihat nominal uang yang ada di dalam amplop.
"Kenapa tidak kau simpan saja. Aku rasa kau juga membutuhkannya." Calista hendak mengembalikan amplop tersebut pada Danesh. Baru kemarin suaminya itu memberikan uang kepadanya. Kini Danesh sudah kembali memberikan uang kepadanya.
"Jika aku membutuhkan uang aku akan meminta kepadamu. Kau kan bendahara di rumah tangga kita. Jadi aku lebih percaya jika uang itu berada di tanganmu."
Calista tersenyum mendengarnya. Semenjak menikah dengan Danesh, Calista tidak pernah sekali pun melihat suaminya itu berfoya-foya menggunakan uang hasil jerih payahnya selama bekerja. Danesh terkesan hemat dan lebih mementingkan kebutuhan rumah tangga mereka.
Beberapa saat kemudian, Danesh meninggalkan Calista yang sedang asik memakan cemilan yang ia bawa. Ia ingin membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum berbicara pada Calista tentang hidupnya untuk kedepannya.
__ADS_1
*
"Aku setuju dengan keputusanmu. Aku rasa untuk saat ini kau lebih baik fokus pada skripsimu saja biar bisa cepat lulus." Ucap Calista setelah mendengarkan cerita Danesh malam itu yang mengatakan jika Danesh tidak jadi menerima tawaran pekerjaan dari perusahaan lain.
"Sebenarnya Daddy menawarkan kembali kepadaku untuk bekerja di salah satu perusahaan keluarga kami. Tapi aku juga memilih menolaknya."
Calista tersenyum seraya mengusap tangan suaminya itu. "Aku akan mendukung setiap keputusan suamiku. Dan aku akan mendoakan yang terbaik untukmu."
Danesh membawa tubuh Calista ke dalam dekapannya. "Doakan aku agar bisa lulus semester ini. Semakin cepat aku lulus maka semakin cepat pula aku bisa mencari pekerjaan yang lebih baik untuk menghidupimu."
Calista menganggukkan kepalanya. "Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk suamiku ini."
"Oh ya, kau hampir saja melupakan jika mulai saat ini aku tidak ingin lagi kau memanggilku dengan sebutan nama."
"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" Wajah Calista nampak bingung.
"Tentu saja dengan sebutan Sayang. Atau kau bisa memanggilku dengan sebutan Cinta." Tawar Danesh.
***
__ADS_1