
"Danesh, aku tidak bisa memberikan jaminan apa pun kepadamu jika kejadian ini tidak akan terulang kembali. Tapi satu yang aku minta kepadamu, tolong percayalah kepadaku. Begitu banyak orang di luar sana yang ingin merusak rumah tangga kita. Hanya dengan kepercayaanlah kita bisa menjaga keutuhan rumah tangga kita ini."
Danesh memperhatikan wajah Calista yang nampak jengah dengan berita tidak enak di antara mereka akhir-akhir ini. "Kau benar. Sekarang mereka mengirimkan foto yang bisa membuat kita salah paham. Dan untuk selanjutnya kita tidak tahu lagi apa yang akan mereka lakukan." Jawab Danesh.
"Aku tidak mengerti kenapa mereka senang melihat kita susah dan susah melihat kita senang."
Danesh menyunggingkan senyum mendengarnya. "Begitulah resiko menjadi orang cantik dan tampan. Bagitu banyak yang iri dan dengki."
"Kau ini..." Calista memukul pelan lengan suaminya itu.
Perasaan Danesh kini merasa lega karena apa yang dipikirkannya tadi tidak terbukti adanya. Jika pun pria di foto itu masih menaruh perasaan pada istrinya namun Danesh percaya jika Calista tidak menaruh perasaan sedikit pun pada pria itu.
__ADS_1
*
Satu bulan telah berlalu, hubungan Danesh dan Calista semakin dekat. Keduanya saling terbuka satu sama lain jika ada suatu hal yang mengganggu pikiran masing-masing. Seperti beberapa waktu yang lalu, Calista yang sempat melihat Danesh berdua dengan Inez di dalam mobil Inez langsung saja bertanya pada Danesh kenapa bisa suaminya itu pergi berdua dengan Inez yang ia ketahui menaruh perasaan pada Danesh.
Danesh yang tidak ingin Calista salah paham pun menjelaskan jika Tuan Hendro meminta tolong kepadanya membawa Inez ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatan Inez yang sedang tidak sehat saat itu. Danesh yang ingin menolak pun mengurungkan niatnya saat mendengar permohonan dari Tuan Hendro.
Rasa percayanya yang teramat besar pada Danesh membuat Calista percaya dengan penjelasan suaminya itu. Calista berharap suatu saat nanti Inez bisa sadar jika sampai kapan pun Danesh tidak bisa ia miliki.
Walau pun saat ini sudah memasuki libur semester genap namun tidak membuat Danesh meliburkan diri dari kampus. Pria yang sudah berstatus seorang suami itu begitu rajin menjumpai dosen pembimbingnya untuk melakukan bimbingan skripsi.
Di tengah kesibukan Danesh merevisi proposal penelitiannya hari di itu di kampus, Danesh dikejutkan dengan kedatangan seorang pria yang ia ketahui adalah Reza. Mantan kekasih dari istrinya.
__ADS_1
"Maaf mengganggu waktu anda sebentar." Ucap Reza ramah.
Danesh hanya memandang pria itu datar seolah tidak merasa segan dengan status pria itu.
Reza yang tidak mendapatkan jawaban dari Danesh memberanikan diri menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Danesh.
"Boleh saya bertanya sesuatu pada anda?" Tanyanya ramah.
"Katakan saja. Saya akan menjawabnya jika saya mau." Jawab Danesh.
Pria bernama Reza itu menahan geram dalam hati namun sebisa mungkin memperlihatkan wajah ramahnya. "Saya lihat akhir-akhir ini anda begitu dekat dengan Bu Calista. Bahkan beberapa kalia saya melihat anda pergi bersama Bu Calista. Kalau saya boleh tahu ada hubungan apa di antara anda dan Bu Calista?"
__ADS_1
Danesh menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Calista adalah istri saya. Jadi sudah sewajarnya jika kami pergi bersama kemana pun kami mau." Jawab Danesh yang berhasil membuat Reza melebarkan kedua kelopak matanya.
***