Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Apa sudah saatnya?


__ADS_3

"Itu semua karena aku yang terlalu egois mementingkan diriku sendiri." Dari pada menceritakan Dio sudah menikah dengan wanita pilihan kedua orang tuanya, Calista lebih memilih menyalahkan dirinya sendiri.


"Maksudnya bagaimana? Apa yang membuatmu menjadi egois?"


Calista menghela nafas panjang lalu menceritakan kesalahannya di masa lalu yang akhirnya membuat Dio pergi dari hidupnya. Kedua mata Calista nampak berkaca-kaca mengingat kesalahannya di masa lalu. Bukannya masih bersedih karena belum ikhlas melepaskan Dio, Calista hanya bersedih kenapa bisa dirinya memiliki sikap seburuk itu.


Danesh cukup terkejut mendengar cerita Calista di masa lalu. Ia tidak menyangka jika Calsta pernah menjalin hubungan bertahun-tahun lamanya namun tidak sampai ke pelaminan.


"Apakah itu alasannya sehingga kau tidak berniat menjalin kasih dengan pria lain?" Tebak Danesh setelah Calista selesai bercerita.


Calista menyunggingkan senyum. "Begitulah. Aku tidak ingin lagi kehilang pria yang aku sayangi karena kesalahan yang sama."


"Lantas kalau begitu kenapa kau menerima perjodohan ini? Bukankah kau ingin fokus pada kariermu saat ini?" Tanya Danesh heran.

__ADS_1


"Memangnya aku bisa apa selaian menerima? Lagi pula aku yakin jika pilihan kedua orang tuaku tidak salah. Mereka pasti ingin yang terbaik untukku."


Danesh mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata mereka berdua sama-sama terjebak oleh permintaan kedua orang tua masing-masing.


Walau pun awalnya berat menerima Calista yang notabanenya adalah dosennya di kampus, namun kini rasa berat itu berubah menjadi ringan setelah cukup mengenal sikap Calista dua minggu belakangan ini.


"Aku jadi penasaran siapakah pria yang sudah sangat setiap kepadamu itu?" Ucap Danesh mengingat perkataan Calista tentang kesetiaan mantan kekasihnya yang rela menunggunya kembali hingga bertahun-tahun lamanya.


"Kau tidak perlu mengetahuinya. Cukup mendengar ceritaku saja." Calista tidak ingin gegabah memberitahu Danesh siapakah mantan kekasihnya.


Calista mengembangkan senyum. Inilah salah satu hal yang Calista sukai dari Danesh, suaminya itu bukanlah pria pemaksa jika apa yang diinginkannya tidak bisa terkabul.


*

__ADS_1


Hari-hari berikutnya Calista dan Danesh lalui dengan damai. Keduanya terus menjalin kedekatan satu sama lain hingga menghadirkan rasa nyaman di dalam diri mereka masing-masing.


Melihat sikap Danesh yang semakin hari menunjukkan perubahan yang baik membuat Calista merasa tidak enak mengundur waktu lebih lama melakukan kewajibannya pada Danesh. Sore itu di dalam kamarnya Calista nampak menimbang-nimbang apakah sudah saatnya ia dan Danesh melakukan ritual suami istri pada umumnya. Calista sedikit ragu dan takut.


Danesh masih sibuk melakukan pemotretan di tempat kerjanya sore itu merasa tidak nyaman melihat tatapan anak dari bos tempat ia bekerja. Wanita muda yang terbilang cantik dan seksi itu terus saja memperhatikan wajahnya sejak awal ia melakukan pemotretan.


"Apa kau lelah? Aku membawakan minum untukmu." Wanita itu menyerahkan minuman untuk Danesh.


"Maaf, tapi aku sudah membawa minum sendiri." Danesh menolak tawaran wanita itu dengan halus sambil menujukkan air dibgin yang tadi sempat ia beli.


Bukannya marah, wanita itu justru tersenyum. Ia merasa semakin tertantang mendekati Danesh yang secara terang-terangan menolak perhatian darinya. Dengan menggunakan kekuasan sang ayah yang notabanenya adalah bos Danesh, ia yakin bisa mengikat pria itu menjadi kekasihnya.


"Kau pasti akan jatuh ke dalam pelukanku." Ucapnya yakin dengan tersenyum smirk.

__ADS_1


***


__ADS_2