Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Modal untuk menafkahi


__ADS_3

Danesh beserta kedua orang tuanya pergi meninggalkan rumah Calista meninggalkan Calista yang dibuat tidak habis pikir dengan sikapnya. "Apa dia itu spesies bunglon? Kenapa sikapnya suka berubah-ubah. Kadang datar kadang tengil." Calista menggelengkan kepalanya mengingat sikap Danesh.


"Cal!" Mommy Diora menahan pergerakan Calista yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


Calista memutar leher menatap Mommy Diora yang tengah berjalan ke arahnya dari kamarnya.


"Ada apa, Mom?" Tanyanya.


"Tidak ada. Mommy hanya ingin mengatakan jika Danesh sangat hebat ya. Walau dia masih muda tapi pemikirannya sudah sangat dewasa. Mommy percaya jika dia bisa menjadi imam yang baik untukmu ke depannya."


Calista tidak bisa membantah perkataan mommynya yang tengah memuji Danesh karena apa yang Mommy Diora katakan benar adanya. "Ya, semoga saja, Mom. Mungkin kata orang itu benar. Umur hanyalah angka. Kita tiba bisa menilai hanya melihat umurnya saja."


Mommy Diora mengangguk membenarkannya. "Semoga saja Danesh bukan hanya bisa menjadi imam yang baik untukmu tapi juga bisa membuatmu jatuh cinta kepadanya."


Calista diam. Untuk yang satu itu ia tidak dapat memastikannya. Terlebih ia sudah menanamkan pada dirinya untuk tidak lagi mencintai pria lain setelah pria yang sangat dicintainya pergi meninggalkan karena dirinya sendiri. Calista tidak ingin menyesal dan kecewa lagi.


"Cal..." Mommy Diora memegang lengan Calista lalu mengusapnya. "Jangan jadikan masa lalumu yang buruk membuatmu jadi buta akan cinta. Hidup terus berjalan dan kau berhak menemukan cinta yang baru untuk dirimu."

__ADS_1


Calista tersenyum saja. Ia balik mengusap lengan Mommy Diora lalu berpamitan masuk ke dalam kamar.


*


Keesokan harinya. Danesh nampak sudah berada di dalam perusahaan fashion yang cukup ternama. Ia melangkah menghampiri resepsionis untuk mencari tahu letak ruangan HRD. Setelah mendapatkan informasi yang ia butuhkan, Danesh segera menaiki lift untuk menuju ruangan HRD tersebut.


Tok


Tok


Tok


"Tuan Danesh." Wajah wanita yang berstatus sebagai HRD itu tersenyum menyambut kedatangan Danesh seolah kedatangan Danesh sudah sangat ia harapkan.


Danesh mengulurkan tangan pada wanita itu untuk berjabat tangan. Tidak lama berbasa-basi Danesh pun diminta untuk membaca kontrak kerja sama di antara mereka.


Cukup menarik. Ucap Danesh dalam hati melihat cukup banyak keuntungan yang ia dapatkan jika bekerja sebagai model di perusahaan mereka.

__ADS_1


"Jadi bagaimana Tuan. Apa anda menyetujui kontrak kerja sama kita?" Tanyanya setelah Danesh meletakkan kertas kontrak di atas meja.


"Saya setuju. Jadi dimana saya harus tanda tangan?" Tanyanya.


Wanita itu menunjukkan beberapa bagian yang harus Danesh tanda tangani.


"Selamat. Mulai saat ini anda adalah bagian dari perusahaan kami. Setelah ini saya akan membawa anda menemui CEO perusahaan ini karena dia ingin bertemu dengan anda."


Danesh mengangguk saja lalu mereka pun akhirnya pergi menemui CEO perusahaan yang ternyata sudah berusia hampir setengah abad.


Sekitar lima belas menit bertemu dan berbicara dengan CEO perusahaan, Danesh pun diajak menuju ruangan pemotretan untuk melihat bagaimana pekerjaan yang akan ia lakukan esok hari.


Hampir empat jam lamanya Danesh berada di dalam perusahaan, akhirnya Danesh pulang ke rumahnya dengan perasaan senang. Satu pekerjaan sudah berhasil ia dapatkan dan pekerjaan itu sudah cukup sebagai modal untuk ia bisa menafkahi istrinya kelak.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.

__ADS_1


Sambil menunggu Danesh dan Cal update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Ke 2, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗


__ADS_2