
Inez akhirnya memilih menjauh dari Danesh setelah mendapatkan tatapan tak bersahabat dari Danesh. Dari pada melihat rasa tidak suka Danesh kepadanya Inez lebih memilih pergi ke ruangan papanya untuk membicarakan sesuatu di sana.
"Ada apa kau datang ke sini, Nak?" Tanya Papa Hendro pada Inez.
"Pah, besok malam Papa jadi membuat acara pesta ulang tahun perusahaan bukan?" Tanya Inez.
"Tentu saja jadi. Papa sudah menyewa hotel untuk merayakan acara di sana."
Senyuman lebar terkembang di wajah Inez mendengar pernyataan papanya tersebut. Sebuah ide licik pun muncul di kepalanya untuk memikat Danesh menjadi miliknya. Sebagai seorang anak bungsu di keluarganya, Inez sudah biasa mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini. Dan untuk saat ini ia juga ingin apa yang ia inginkan bisa ia dapatkan termasuk Danesh.
*
"Capek banget ya kerjanya hari ini sampai lemas begitu wajahnya." Tanya Calista pada Danesh saat Danesh baru saja sampai di rumah sore itu.
"Lumayan. Hari ini ada beberapa macam pemotretan di kantor." Jawab Danesh.
__ADS_1
Calista menatap intens wajah Danesh. Melihat perjuangan Danesh sejauh ini untuk keluarga kecil mereka membuat Calista merasa tidak tega dengan suaminya itu.
"Sekarang mandi dulu ya. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu."
Tangan Danesh terulur mengusap rambut Calista. Hal yang akhir-akhir ini sering Danesh lakukan pada istrinya. "Terima kasih istriku. Kau sudah sangat perhatian."
Calista tersenyum mendengarnya. Mendengar kata istriku dari mulut Danesh membuat Calista merasa disayangi oleh sosok suaminya itu.
Setelah selesai makan bersama malam itu, Danesh pun memberitahu Calista jika besok malam ia diundang datang ke acara ulang tahun perusahaan milik Tuan Hendro.
Calista menghela nafas sebelum menjawab. "Kau pergi sendiri saja. Kebetulan besok malam aku ada janji pergi dengan Rose."
"Pergi kemana?"
"Jalan-jalan saja. Katanya ada yang ingin Rose ceritakan kepadaku."
__ADS_1
Danesh menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu. Aku berjanji tidak akan pulang lama besok malam. Aku tidak akan membiarkan istriku ini menungguku pulang terlalu lama."
Senyuman manis terkembang di wajah Calista. Sikap manis Danesh inilah yang selalu bisa membuatnya menjadi nyaman berada dekat dengan Danesh.
*
Waktu yang ditunggu Inez akhirnya tiba. Malam itu Inez sudah nampak cantik dengan dres bewarna merah menyala selutut yang menambah aura kecantikan di dalam dirinya. Banyak karyawan pria yang datang memuji kecantikan dirinya namun tidak dengan Danesh yang terlihat memasang wajah biasa saja.
"Sial sekali. Sudah dandan cantik paripurna begini tapi dia tidak juga melirikku!" Gerutu Inez pelan sambil menatap Danesh yang berjalan melewatinya begitu saja.
Inez mencoba menenangkan hatinya. Ia teringat dengan rencananya malam ini yang ia harapkan akan berhasil. "Sabar sebentar saja Inez sebelum dia menjadi milikmu sepenuhnya malam ini." Gumamnya dengan senyuman smirk.
Acara malam itu pun dimulai. Tuan Hendro naik ke atas panggung yang sudah disediakan untuk menyampaikan kata sambutan untuk para tamunya yang sudah hadir. Inez beserta ibunya pun turut diajak naik ke atas panggung untuk diperkenalkan kembali pada karyawan yang sudah hadir.
"Danesh, apa kau sadar jika sejak tadi Inez terus melihat ke arahmu?" Tanya Cinta pada Danesh tanpa mengalihkan pandangan dari Inez.
__ADS_1
***