Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Mengetahui siapa pelakunya


__ADS_3

"Untung saja malam itu kau jatuh ke dalam pelukan Bu Calista. Jika tidak, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi kepadamu dan Bu Calista saat ini." Ucap Harry karena Danesh hanya diam saja.


"Harry benar. Menurutku kau harus bertindak tegas agar dia tidak bertindak terlalu jauh." Timpal Mike.


Danesh menyandarkan punggungnya di sandaran kursi cafe. Tangannya terangkat memijit kepalanya yang terasa sakit. Setelah cukup banyak berpikir akhirnya Danesh memberikan jawaban atas saran kedua sahabatnya.


"Untuk saat ini biarkan saja dia hidup dengan tenang lebih dulu. Aku akan melihat sejauh mana permainannya."


"Apa maksudmu, Danesh? Apa kau sudah gila melepaskannya begitu saja?" Harry rasanya tidak habis pikir dengan jalan pemikiran Danesh.


"Aku punya pertimbangan untuk itu. Kalian tidak lupa bukan siapa keluarganya? Akan mudah untuk keluarganya membebaskan dia dari pidana. Lagi pula saat ini aku masih membutuhkan pekerjaan di perusahaan keluarganya. Aku masih butuh uang untuk menafkahi istriku."


"Danesh, kau masih bisa bekerja di tempat lain. Kau juga bisa bekerja di salah satu perusahaan milik keluargamu!" Sahut Mike tak habis pikir.


"Untuk sekarang pekerjaan di perusahaan orang tua Inez yang menguntungkan untukku. Sebentar lagi kita akan menjalani ujian akhir. Akan sulit untukku membagi waktu jika bekerja di tempat yang baru." Danesh memberikan penjelasan agar kedua sahabatnya dapat mengerti.

__ADS_1


Harry dan Mike mengangguk secara bersamaan mengerti maksud pilihan Danesh saat ini.


"Tapi walau pun begitu kau harus tetap berjaga-jaga dengannya. Bisa saja dia merencanakan hal yang lebih licik dari pada kemarin karena rencananya tidak berhasil!" Ucap Mike.


"Aku tahu itu. Aku akan lebih waspada untuk selanjutnya."


*


Calista nampak duduk di kursi ruang tamu menunggu Danesh pulang ke rumah mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam namun suaminya itu belum pulang juga. Calista sampai mengundur waktu makan malamnya menunggu Danesh pulang ke rumah.


Suara deru mesin mobil yang terdengar berhenti di depan rumah membuat Calista buru-buru membuka pintu rumah. "Danesh..." gumam Calista melihat Danesh yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Apa kau menungguku pulang?" Tanya Danesh setelah berada di depan Calista.


"Ya. Kau dari mana saja?" Tanya Calista.

__ADS_1


Danesh menghela nafas panjang. "Kita bahas nanti saja. Apa kau sudah makan?" Tanya Danesh mengalihkan pembicaraan mereka.


Calista menggeleng. "Aku menunggumu pulang."


Danesh merasa bersalah mendengarnya. Karena menunggu dirinya istri sampai melewatkan makan malamnya. Danesh pun segera meminta Calista masuk ke dalam rumah dan langsung mengajak Calista untuk makan malam bersama. Walau saat ini perutnya masih terasa kenyang setelah makan di cafe tadi tapi Danesh tetap memilih menemani istrinya untuk makan.


Setelah makan malam bersama selesai, Calista langsung saja bertanya hal apa yang ingin dibahas oleh Danesh.


"Tadi aku bertemu dengan Harry dan Mike. Aku mencaritahu siapa yang sudah menjebakku kemarin."


"Jadi bagaimana hasilnya, apa kau sudah mengetahui siapa orangnya?" Tanya Calista.


Danesh menganggukkan kepalanya. Wajahnya nampak dingin mengingat siapakah pelakunya. "Anak pemilik perusahaan yang sudah berniat menjebakku."


"Apa, maksudmu wanita yang bernama Inez itu?" Tebak Calista.

__ADS_1


Danesh menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Calista. Melihat respon suaminya membuat wajah Calista tiba-tiba berubah ikut datar menahan marah.


***


__ADS_2