
Calista tak henti mengembangkan senyum saat melihat hasil ujian Danesh di hari pertama hari ini. Calista tidak menyangka jika suaminya itu sangatlah cerdas hingga bisa menjawab hampir seluruh pertanyaan di lembar ujian dengan benar tanpa belajar.
Rose yang ikut mengetahui hasil ujian Danesh hari ini bertepuk tangan. Memuji kecerdasan yang Danesh punya. Selain tampan ternyata Danesh juga sangatlah pintar.
"Danesh bisa dikategorikan pria sempurna!" Puji Rose.
Calista tersenyum mendengarnya. Di dalam hatinya ia membenarkan perkataan Rose. Calista tidak bisa menyangkal lagi jika suaminya mendekati spek pria sempurna. Tampan, berkarisma, baik hati dan cerdas.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keturunan kalian nanti jika kalian sudah memiliki seorang anak. Dia pasti sangat beruntung karena memiliki kedua orang tua yang sangat cerdas." Ucap Rose.
"Kau terlalu berlebihan, Rose." Jawab Calista.
"Aku berkata apa adanya, Cal. Kau dan Danesh memang wanita dan pria idaman!"
__ADS_1
Calista tersenyum saja. Ia pun melanjutkan tugasnya memeriksa lembar ujian mahasiswa lainnya.
Selama tujuh hari ujian semester dilaksanakan, selama itu pula Danesh selalu mendapatkan nilai tertinggi di antara mahasiswa lain yang seangkatan dengannya. Prestasi yang diperoleh Danesh saat ini bukan hanya bisa membuat Calista bangga tapi juga kedua orang tua Danesh yang mengetahuinya.
"Anak kita memang sangat cerdas, Pah. Walau dia sibuk bekerja di sela ujiannya tapi dia tetap mendapatkan hasil ujian yang maksimal." Ucap Mommy Meisya pada Daddy Raka saat mereka sedang berkunjung ke kediaman Danesh dan Calista sore itu.
Dad Raka mengangguk membenarkannya. "Kepintarannya turun dariku. Semoga saja setelah lulus nanti Danesh mau mengelola salah satu bisnis yang kita punya." Harap Daddy Raka.
"Enak saja. Tentu saja kepintaran Danesh turun dariku." Protes Mommy Meisya tidak setuju dengan pendapat suaminya.
"Tentu saja tidak. Kepintaran seorang anak itu biasanya turun dari gen ibunya. Lihat saja kedua anak kita pintarnya sama seperti aku." Pasangan paruh baya itu akhirnya berdebat kecil di depan menantunya.
Calista tersenyum saja mendengarnya. Seandainya saja Danesh ada di rumah saat ini pasti suaminya itu merasa senang karena kedua orang tuanya memuji kecerdasannya.
__ADS_1
*
Di tempat berbeda, Danesh yang sedang bersiap-siap untuk pulang tiba-tiba saja mendapatkan pesan dari orang tak dikenal yang berisi sebuah foto yang memperlihatkan kedekatan Calista dengan seorang dosen yang Danesh ketahui adalah dosen baru di kampusnya.
Danesh membuka satu persatu foto yang masuk ke dalam ponselnya tersebut. Tanpa memberikan balasan pada nomer pengirim pesan, Danesh langsung saja memblokir nomer tersebut.
"Tidak penting!" Gumamnya. Walau di foto itu terlihat Calista sangat dekat dengan pria tersebut namun tak membuat Danesh mengambil kesimpulan sendiri. Danesh percaya jika istrinya itu dapat menjaga marwahnya sebagai seorang istri.
Setibanya di rumahnya sore itu, Calista langsung saja bercerita tentang kedatangan kedua orang tuanya. Danesh tidak memberikan komentar dengan kedatangan kedua orang tuanya justru memperlihatkan foto yang tadi masuk ke dalam ponselnya.
"Siapa yang mengambil gambar ini secara diam-diam?" Tanya Calista bingung.
"Aku juga tidak tahu. Tapi bisakah kau menjawab apa maksud pesan dari nomer ini? Apakah benar jika kau dan Pak Reza memiliki hubungan sebelumnya?" Tanya Danesh.
__ADS_1
Calista menghela napas panjang. Pusing sekali dirinya selalu diribetkan dengan persoalan yang sama beberapa waktu belakangan ini.
***