Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Jangan Pernah Menyakitinya


__ADS_3

"Jadi bagaimana jika Om Hendro memutus kontrak kerja sama di antara kalian?" Tanya Harry pada Danesh yang sudah duduk di kantin bersama dengan mereka.


"Tidak masalah. Aku tahu itu adalah resiko yang harus aku terima."


"Apa kau ingin mengorbankan pekerjaanmu begitu saja?" Harry memastikan.


"Aku yakin. Aku akan menggunakan uang tabunganku dari Papa dan Kak David untuk menghidupi Calista selama beberapa bulan ke depan."


"Aku rasa uang tabungan yang kau punya bukan hanya bisa menghidupi Bu Calista sampai beberapa bulan ke depan tapi beberapa tahun ke depan." Kelakar Mike. Setidaknya ia dan Harry cukup tahu bagaimana royalnya David dan Dad Raka memberikan uang jajan pada Danesh selama ini.


Danesh tersenyum saja. Walau awalnya sudah tak ingin lagi menggunakan uang tabungannya yang berjumlah banyak di salah satu atm miliknya, namun kali ini Danesh terpaksa menggunakannya karena uang itu adalah antisipasi jika ia tidak bekerja lagi.


"Aku harap setelah lulus nanti kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi dari pada saat ini." Harap Harry. Mike mengaminkan doa Harry untuk Danesh. Mereka percaya jika pria seperti Danesh akan sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik setelah Danesh lulus kuliah nanti.


*


Siang itu setelah selesai menjumpai dosen pembimbingnya di kampus, Danesh langsung saja pergi ke perusahaan Papa Hendro berniat menjumpai pria paruh baya tersebut. Kedatangan Danesh ke perusahaan itu pun disambut dengan bisik-bisik karyawan yang menceritakan siapa Danesh sebenarnya.

__ADS_1


"Ternyata selain tampan dan baik hati, Danesh juga kaya." Pujian salah satu karyawan wanita terdengar oleh telinganya.


Danesh tak menanggapi pujian tersebut. Ia terus saja melangkah hingga akhirnya berhenti di depan lift.


Saat pintu lift baru saja terbuka, Danesh melihat Cinta keluar dari dalam lift sambil membawa sebuah baju di tangannya.


"Danesh!" Cinta tersenyum merekah menatap pada Danesh.


Danesh tersenyum membalas sapaan Cinta.


Danesh tak kuasa menolaknya. Pria itu pun menurut dan mengurungkan niat masuk ke dalam lift.


Kini Danes dan Cinta sudah duduk di sebuah kursi tunggu yang berada di dalam lobby.


"Danesh, apa berita yang aku dengar tadi malam itu benar? Apa kau benar sudah menikah dan kau adalah pewaris kekayaan Tuan Raka?" Tanya Cinta.


Danesh mengangguk membenarkannya.

__ADS_1


"Oh ya ampun Danesh... kau memang pria spek sempurna. Tahu begitu aku buang saja kekasihku saat ini dan aku rebut kau dari Bu Calista." Kelakar Cinta.


Danesh sontak menoyor kening Cinta. "Bicara sembarangan!" Semburnya.


Cinta tertawa-tawa. "Serius amat."


Danesh ikut tertawa.


"Tapi aku bersyukur karena kau menikah dengan Bu Calista. Wanita yang bukan cuma cantik wajahnya tapi juga baik hatinya." Puni Cinta.


"Bagaimana kau bisa tahu jika istriku baik?" Tanya Danesh heran.


Cinta pun menceritakan pada Danesh awal mula ia dan Calista bertemu di rumah sakit saat Calista membantu ibunya yang menjadi korban tabrak lari dari orang yang tidak bertanggung jawab. Cinta pun menceritakan bagaimana baiknya Calista membantu dirinya membayarkan biaya operasi ibunya saat itu tanpa meminta imbalan sedikit pun.


"Bu Calista sangat baik. Dan kau sangat beruntung bisa memilikinya. Aku harap kau tidak akan pernah menyia-nyiakan wanita sebaik dirinya atau kau akan menyesal." Cinta memberi petuah pada Danesh yang sudah ia anggap sebagai sahabat baiknya di tempat kerja.


***

__ADS_1


__ADS_2