Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Cepat bawa aku pulang!


__ADS_3

"Tidak. Biarkan saja dia menatap kemana saja yang dia suka." Jawab Danesh acuh. Diperhatikan oleh Inez dalam waktu yang cukup lama bukanlah hal yang baru untuk Danesh. Menurut Danesh, lebih baik tidak memperdulikannya dan menganggapnya hanyalah angin lalu.


Cinta menyunggingkan senyum. Jawaban Danesh benar-benar di luar nalarnya. Cinta pikir Danesh akan merasa senang diperhatikan oleh Inez yang nampak cantik paripurna malam itu. Namun dugaan cinta salah. Danesh justru mengabaikan tatapan mata Inez.


Acara malam itu terus berlanjut. Sebagai tim dalam bekerja, Cinta memilih menemani Danesh menikmati acara malam itu bersama model pria lainnya. Danesh pun tidak mempermasalahkannya karena Cinta bukanlah wanita penggoda seperti Inez. Cinta jauh lebih kalem dan pandai menjaga jarak darinya.


Di saat Danesh dan Cinta sedang asik bercerita mengenai pekerjaan mereka, seorang pelayan pria datang memberikan minuman untuk keduanya. Danesh yang tidak merasakan firasat apapun langsung saja meminumnya karena tenggorokannya mulai terasa kering.


Cinta turut melakukan hal yang sama. Percakapan di antara keduanya terus berlanjut hingga pada akhirnya Danesh mulai menujukkan gerak-gerik yang aneh di dalam dirinya.


"Danesh, ada apa? Kenapa kau nampak gelisah?" Tanya Cinta bingung.


Danesh mencoba memperlihatkan wajah tenangnya. "Aku tidak apa-apa. Hanya ingin ke kamar mandi saja."

__ADS_1


Cinta dibuat bingung melihat Danesh yang nampak semakin gelisah.


Tidak ingin terlalu lama mengundur waktu pergi ke kamar mandi, Danesh segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah kamar mandi berada.


Inez yang melihat pergerakan Danesh berniat mengikutinya namun langkahnya terhenti saat seseorang menarik tangannya.


"Papah!" Ucap Inez dengan menahan rasa sebal dalam hatinya saat papanya membawanya pergi ke tempat perkumpulan teman-temannya.


Danesh langsung membasuh wajahnya dengan air yang mengalir setelah sampai di dalam kamar mandi. Suhu tubuhnya yang terasa panas saat ini membuatnya merasa ada yang tidak beres dengan minuman yang baru saja ia teguk beberapa saat yang lalu.


"Aku sudah menunggumu di parkiran bersama Mike!" Suara Harry terdengar keras di seberang telefon.


"Baik, tunggu aku di sana!" Jawab Danesh lalu mematikan sambungan telefon. Setelahnya ia segera melangkah dengan lebar menuju parkiran berada dengan menggunakan akal sehatnya yang sudah tinggal beberapa persen.

__ADS_1


Harry segera berlari ke arah Danesh setelah melihat Danesh yang berjalan tidak terarah setelah keluar dari dalam hotel. "Ada apa denganmu?!" Tanya Harry dengan wajah yang nampak panik.


"Cepat bawa aku ke dalam mobil. Aku akan menjawabnya nanti!" Titah Danesh sambil menahan rasa sakit dan panas yang semakin kuat terasa di dalam tubuhnya.


Harry dengan cepat membantu Danesh masuk ke dalam mobil. Mike yang duduk di kursi kemudi dibuat bingung melihat ekspresi Danesh yang saat ini terlihat gelisah.


"Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Kenapa kau gelisah seperti itu?" Tanya Harry cepat.


"Seseorang sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumuanku. Sekarang jangan banyak bertanya. Cepat bawa aku ke kontrakan karena aku membutuhkan istriku saat ini!" Titah Danesh.


"Lalu bagaimana dengan mobilmu?"


Danesh segera mengeluarkan kunci mobil dalam saku celananya dan menyerahkannya pada Harry. Setelahnya Danesh berteriak menyuruh Mike untuk menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Bawa mobilnya dengan kencang, Mike!"


***


__ADS_2