Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Mengundur Waktu Untuk Pergi


__ADS_3

Danesh begitu terkejut mendengar keputusan Calista malam itu yang menyatakan dirinya akan ikut tinggal bersamanya di luar negeri dan meninggalkan pekerjaannya. Tak berbeda dengan Danesh, Dad Berto pun turut terkejut mendengarkan keputusan Calista. Sementara Mom Diora yang sudah mengetahui lebih dulu hanya menghela napas yang terasa kian memberat.


"Apa kau yakin, Sayang? Bukannya tahun ini kau ingin naik jabatan di kampus menjadi ketua jurusan?" Tanya Danesh memastikan.


"Aku yakin. Aku akan ikut kemana pun suamiku pergi. Aku tidak ingin lagi menyesal karena terlalu egois dengan keinginanku sendiri."


Danesh merasa haru mendengarnya. Tidak ia duga jika Calista mau meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya hanya demi dirinya.


"Tapi bukankah Calista saat ini belum bisa melakukan perjalanan jauh karena usia kandungannya masih muda? Akan berbahaya jika kalian memaksakan untuk tetap pergi di saat kondisi Calista tidak memungkinkan." Ucap Dad Berto merasa cemas.


"Besok Cal akan memeriksakan kondisi kandungan ke dokter sekaligus konsultasi tentang hal ini, Dad. Jika memungkinkan makan Cal akan ikut pergi bersama Danesh satu minggu lagi."


"Baiklah. Dad serahkan semuanya kepadamu. Tapi jangan lupa jika kau juga harus menyelesaikan urusanmu di kampus lebih dulu."

__ADS_1


Calista mengangguk paham.


Setelah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan dengan kedua orang tuanya, akhirnya Calista memilih masuk ke dalam kamarnya bersama Danesh.


"Sepertinya aku harus menerima tawaran pekerjaan dari Daddy." Lirih Danesh saat sudah berada di dalam kamar. Danesh teringat dengan tawaran Daddynya untuk bekerja di salah satu anak perusahaan mereka yang berada di negara yang sama dengan tempat ia menempuh pendidikan saat ini.


"Sayang, apa kau berbicara sesuatu?" Tanya Calista karena tidak terlalu jelas mendengar perkataan Danesh baru saja.


Danesh mengangguk lalu membawa Calista untuk duduk di sisi ranjang. Danesh pun langsung menceritakan tawaran Daddynya untuknya beberapa waktu yang lalu.


"Aku mendukung keputusanmu, Sayang. Tidak ada yang salah jika kau menerima tawaran Daddy."


Danesh menganggukkan kepalanya. Kali ini ia menurunkan egonya yang sejak awal berprinsip tidak ingin menerima bantuan dari keluarganya dalam bentuk apa pun.

__ADS_1


*


Keesokan harinya setelah Danesh dan Calista memeriksakan kondisi kandungan Calista di rumah sakit, mereka langsung saja pergi ke kediaman Dad Raka untuk menyampaikan keputusan yang sudah Danesh ambil.


Mendengar jika Danesh mau membantunya mengelola perusahaan mereka di negara A membuat Dad Raka merasa senang. Ia percaya dengan kemampuan yang Danesh punya bisa memajukan usaha keluarga mereka yang berada di sana.


"Jadi kapan kalian akan kembali ke sana?" Tanya Mommy Meisya.


"Aku akan kembali satu minggu lagi sedangkan Calista akan ikut bersamaku satu bulan lagi." Jawab Danesh.


"Mommy setuju dengan keputusan kalian saat ini. Jika memaksa Calista tetap ikut sekarang takutnya akan berakibat buruk pada kandungannya."


Calista menganggukkan kepalanya. Walau saat ini ia sangat ingin cepat ikut dengan suaminya namun ia masih memikirkan saran dokter untuk kebaikan dirinya dan janin yang berada di dalam kandungannya yang belum diperbolehkan melakukan perjalanan terlalu jauh.

__ADS_1


"Terima kasih karena kau selalu mendukung apa pun keputusanku, Sayang." Ucap Danesh pada Calista saat mereka sudah pulang dari kediaman kedua orang tua Danesh.


***


__ADS_2