Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Apa Harus Berpisah?


__ADS_3

Setelah hari itu, Danesh mulai disibukkan mengurus syarat validasi wisuda yang akan diselenggarakan dua bulan kemudian. Kegelisahan mulai menghantui Danesh hari itu saat dirinya mendapatkan tawaran beasiswa melanjutkan pendidikan keluar negeri. Tawaran yang terdengar sangat menggiurkan itu membuat Danesh merasa bimbang untuk menerimanya. Bagaimana tidak, jika ia menerima tawaran beasiswa tersebut berarti ia akan berpisah dari istrinya dalam waktu yang cukup lama karena Calista tidak mungkin ikut dengannya.


Setelah beberapa hari menimbang-nimbang akhirnya Danesh memilih tidak menerima tawaran beasiswa tersebut karena ia tidak sanggup bila jauh dari istri tercintanya. Selain itu ia tidak akan merasa tenang jika Calista hilang dari pengawasannya.


Calista yang baru mengetahui dari dekan fakultasnya jika Danesh mendapatkan tawaran beasiswa keluar negeri ikut merasa bimbang. Di satu sisi ia ingin melihat Danesh melanjutkan pendidikannya dan di sisi lain ia merasa tidak yakin akan sanggup bila berjauhan dari suaminya itu.


"Jadi kau menolak tawaran beasisw itu?" Tanya Calista pada Danesh setelah ia menanyakan keputusan Danesh atas tawaran beasiswa ke luar negeri.


"Ya. Aku memilih untuk mencari pekerjaan saja di sini. Aku tidak sanggup bila jauh darimu."

__ADS_1


Ada rasa haru yang Calista rasakan setelah mendengarkan jawaban Danesh. Namun ada pula rasa tak rela jika suaminya itu menyia-nyiakan kesempatan emas yang diberikan kepadanya.


"Sayang, jika keputusanmu tidak menerima tawaran beasiswa itu karena aku maka batalkan niatmu untuk tidak menerimanya. Aku tahu kau pasti sangat menginginkan beasiswa itu. Dengan kau melanjutkan pendidikan di sana maka akan lebih besar peluangmu untuk bisa bekerja di tempat yang jauh lebih baik."


"Tidak. Aku tidak menginginkannya." Sangkal Danesh.


Calista menghela napas dalam. Ia tahu apa yang ada di hati suaminya saat ini. Jika belum menikah dengannya pastilah suaminya itu menerima tawaran beasiswa itu tanpa pikir panjang.


"Tidak begitu, Sayang. Aku memang tidak ingin menerimanya. Selain itu aku tidak bisa jauh darimu."

__ADS_1


Calista meraih sebelah tangan suaminya dan menggenggamnya erat. "Sayang, aku tahu kau sedang mendustai hatimu. Aku bisa melihatnya dari tatapan matamu. Terimalah beasiswa itu. Aku mendukungmu di setiap langkahmu. Anggap saja kepergianmu ke luar negeri sebagai ujian cinta kita. Aku yakin kita bisa melewati ujian itu bersama-sama."


Danesh tak bersuara. Ia lebih memilih membawa tubuh Calista ke dalam dekapannya. Kebimbangan di dalam hatinya semakin memuncak. Apakah ia harus menerima tawaran beasiswa itu setelah mendapatkan dukungan dari istrimya? Namun bagaimana dengan hatinya yang masih saja meragu untuk meninggalkan istrinya.


"Aku akan mengunjungimu ke sana setiap libur semester." Janji Calista pada Danesh.


Danesh masih tak bersuara. Kedua bola matanya nampak tergenang oleh cairan air mata. "Apa aku sanggup bila jauh darimu? Ini sangat sulit bagiku. Membawamu ke sana aku juga tidak bisa." Lirih Danesh kemudian.


"Kau pasti sanggup begitu pula dengan aku. Aku akan sangat bangga memiliki suami yang memiliki gelar yang sama denganku." Calista memberikan dorongan pada Danesh dengan membandingkan gelar yang mereka punya saat ini. Jika Danesh baru meraih gelar sarjana di belakang namanya, sedangkan dirinya sudah meraih gelar doktor di awal namanya.

__ADS_1


***


__ADS_2