Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Nafkah dari suami


__ADS_3

"Kenapa jadi tegang begitu? Tenanglah, aku hanya bercanda. Lagi pula mana mungkin kau cemburu pada Audrey." Ucap Danesh kemudian.


Ketegangan di dalam tubuh Calista perlahan hilang setelah mendengarkan perkataan Danesh. "Apa kau masih ingin di sini? Aku takut ada dosen lain yang menyadari kau sudah terlalu lama berada di ruanganku. Nanti mereka bisa berpikiran lain!"


"Ya, ya. Aku akan keluar. Sampai bertemu di rumah nanti malam. Siang sampai sore aku akan sibuk pemotretan di kantor.


Calista menganggukkan kepalanya. "Semangat bekerja dan jangan terlalu lelah. Kau masih muda jangan terlalu memporsir tenagamu." Pesan Calista.


"Baiklah istriku." Danesh pun keluar dari dalam ruangan Calista setelah mengatakan hal yang membuat Calista tersipu.


"Aku akui dia memang pantas menjadi seorang playboy." Gumam Calista sambil menatap pintu ruangan kerjanya yang sudah tertutup kembali.

__ADS_1


Ting Ting


Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya mengalihkan perhatian Calista dari pintu. Dilihatnya layar ponselnya memperlihatkan pesan baru dari Danesh. Calista segera membuka pesan masuk ke dalam ponselnya dan membacanya.


Kedua kelopak matanya terbuka lebar saat melihat nominal uang beserta keterangan uang yang dikirimkan Danesh kepadanya. "Dia benar-benar memberikan uang belanja untukku nanti." Gumam Calista. Ia merasa salut pada suaminya itu yang sudah mau berjuang menafkahinya sampai sejauh ini.


*


Calista nampak pulang lebih awal dari kampus saat waktu masih menunjukkan pukul dua siang. Sesuai niatnya tadi pagi, siang ini setelah pulang mengajar ia langsung pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan memasak di dapur.


Saat hendak keluar dari dalam supermarket, tanpa sengaja Calista berpapasan dengan Audrey yang hendak masuk ke dalam supermarket.

__ADS_1


Mantan kekasih Danesh itu nampak memalingkan wajah darinya lalu masuk begitu saja ke dalam supermarket tanpa menyapa dirinya. Calista tidak mempedulikan sikap tidak sopan Audrey. Selama Audrey tidak mengganggu dan mengusiknya maka Calista tidak mempermasalahkannya.


Audrey yang sudah berada di deretan rak yang ada di dalam supermarket menatap tajam pada Calista. Ia sengaja bersikap tidak sopan pada Calista karena hatinya masih merasa kesal pada Calista yang sudah menegurnya tadi di dalam kelas. Terlepas dari itu Audrey samakin bertambah sebal saat Danesh menawarkan membawa barang-barang Calista ke dalam ruangannya.


"Dasar perawang lapuk! Sudah tidak laku berniat merebut kekasihku pula!" Gerutunya. Audrey memang tidak sadar diri jika dirinya sudah diputuskan oleh Danesh. Ia masih merasa jika Danesh adalah kekasihnya sampai saat ini.


Calista kini sudah berada di dalam mobilnya setelah memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil. Satu pesan singkat dari Danesh berhasil mencuri perhatian Calista untuk membukanya.


"Terima kasih sudah menggunakan uang dariku." Ucap Danesh di pesan yang dikirimkannya.


Kening Calista mengkerut bingung. Bagaimana Danesh bisa tahu jika dirinya tadi membayar barang belanjaannya menggunakan uang yang pria itu berikan? Sungguh aneh sekali.

__ADS_1


Jemari Calista segera berselancar di atas keyboard ponselnya membalas pesan dari Danesh. Ia hanya mengetikkan ucapan terima kasih kembali tanpa berniat bertanya bagaimana Danesh bisa tahu jika dirinya membayar belanjaan menggunakan uang dari pria itu.


***


__ADS_2