
Satu bulan tanpa terasa sudah berlalu dan kini sudah saatnya Cakista pergi menyusul suaminya ke negara A. Negara yang dulunya menjadi tempat perantauannya karena menempuh pendidikan di sana. Kepergian Calista ke negara A kali ini tidak bisa dijemput oleh Danesh yang sudah tidak bisa lagi mendapatkan cuti lagi dari pihak kampus.
Calista tidak mempermasalahkan hal itu. Menurutnya bisa menyusul Danesh ke negara A saja sudah cukup membuatnya merasa senang. Selain dari pada itu, Calista bukan hanya pergi seorang diri melainkan ditemani oleh Dad Berto, Mom Diora, Dad Raka dan Mom Meisya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Cal." Rose melepas kepergian Calista dengan tangis di wajahnya. Setelah selama ini mereka sering bersama, kali ini Rose harus merelakan Calista pergi menyusul suaminya ke negara A.
"Aku juga akan sangat merindukanmu, Rose." Calista memeluk Rose erat. Setelah pelukan terlepas, Calista menyampaikan pesan pada Reza untuk bisa menjaga Rose dengan baik.
Waktu keberangkatan Calista sudah hampir tiba. Mom Diora segera mengajak Calista untuk pergi dan meninggalkan Rose yang akhirnya menangis tersedu-sedu menatap kepergian sahabatnya.
"Jangan bersedih lagi. Ada aku yang akan menjadi tempat untukmu bersandar di kota ini." Ucap Reza menenangkan Rose.
Rose mengangguk saja namun tak menghentikan laju air matanya yang mengalir semakin deras.
__ADS_1
Calista yang kini sudah masuk ke dalam pesawat tak lupa mengirimkan kabar pada Danesh jika mereka sudah bersiap untuk berangkat.
Di seberang sana, Danesh mengembangkan senyum. Merasa tidak sabar menyambut kedatangan istri dan keluarganya. Senyuman yang terpancar di wajah Danesh terlihat oleh Carol yang terus memperhatikan gerak-gerik Danesh.
"Apa dia tersenyum karena kekasihnya?" Tanya Carol. Hati Carol terasa panas memikirkan jika saja Danesh memiliki seorang kekasih. Terlebih kini Carol semakin jatuh hati saja kepada Danesh setelah mengetahui Danesh bekerja di salah satu perusahaan yang cukup ternama di kotanya.
Selama mengikuti gerak-gerik Danesh, Carol hanya mendapatkan informasi jika Danesh bekerja di perusahaan ternama di kotanya namun tidak sampai mendapatkan informasi siapakah wanita beruntung yang menjadi kekasih Danesh saat ini.
"Semoga saja dugaanku selama ini salah jika Danesh sudah memiliki seorang kekasih." Carol berharap besar untuk itu.
*
Calista yang sangat senang melihat sosok suaminya langsung saja melangkah cepat ke arah Danesh berada dan memeluknya sangat erat.
__ADS_1
"Sayang. Aku merindukanmu." Ucap Calista di dalam pelukan Danesh.
"Aku pun begitu." Danesh membalas pelukan Calista lalu memberikan ciuman bertubi-tubi di kening Calista. Setelah pelukan keduanya terlepas, tangan Danesh terulur mengusap perut Calista yang nampak semakin besar dari terakhir mereka bertemu.
"Anak Daddy..." Danesh berjongkok lalu mencium perut istrinya tanpa rasa malu jika kini aksinya ditatap oleh keluarganya.
Setelah puas melepas rindu dengan istrinya, Danesh beralih pada keluarganya untuk menyalami mereka satu persatu.
"Kau semakin tampan saja setelah tinggal di sini, Danesh." Puji Mom Meisya pada putra bungsunya itu.
"Memangnya kapan Mommy melihatku tidak tampan?" Tanya Danesh sambil mengangkat salah satu alis matanya ke atas.
"Benar juga. Anakku selalu tampan."
__ADS_1
***