
Beberapa bulan berlalu, akhirnya waktu yang dinantikan Danesh pun tiba. Hari itu dengan senyuman yang mengembang di wajah tampannya Danesh keluar dari ruangan sidang dengan menyandang gelar sarjananya.
Calista yang sejak tadi menunggu suaminya keluar dari ruangan sidang pun merentangkan kedua tangannya melihat sosok suaminya keluar dari dalam ruangan sidang.
"Sayang." Danesh segera mendekap tubuh mungil istrinya. Diberikannya ciuman yang bertubi-tubi di kening istrinya itu.
"Akhirnya aku mendapatkan gelar sarjana juga, Sayang!" Danesh terlihat begitu bahagia. Pun dengan Calista.
"Selamat atas keberhasilanmu, Suamiku!" Calista segera memasangkan selempang bertuliskan nama panjang suaminya beserta gelar yang sudah ia bawa ke tubuh Danesh.
Harry dan Mike yang juga ikut membawakan selempang pun memasangkan selempang tersebut ke tubuh Danesh.
"Selamat atas keberhasilanmu. Kau memang keren!" Harry mengacungkan kedua jempolnya untuk Danesh.
Mike pun ikut memberikan ucapan selamat kepada teman baik mereka tersebut.
__ADS_1
"Untuk sesi foto pertama kami persilahkan untuk Bu Calista berfoto dengan Danesh lebih dulu." Ucap Harry.
Calista tersenyum senang. Diserahkannya ponsel berlogo apel digigit tersebut kepada Harry.
Harry segera mengambil beberapa foto Danesh dan Calista dengan pose yang berbeda-beda. Danesh dan Calista menurut saja mengikuti instruksi gaya foto yang Mike berikan.
Setelah puas melakukan bermacam gaya foto dengan Danesh, Calista pun meminta Harry dan Mike untuk bergantian berfoto dengan suaminya itu.
Satu persatu teman angkatan Danesh pun akhirnya datang memberikan selamat pada Danesh setelah Harry dan Mike selesai melakukan sesi foto bersama Danesh.
Beberapa teman-teman Danesh meminta izin pada Calista untuk bisa berfoto bersama dengan Danesh. Calista tanpa sungkan mempersilahkan mereka untuk berfoto bersama Danesh termasuk Audy yang juga ikut ingin berfoto dengan Danesh.
"Terima kasih, Sayang." Danesh yang berniat ingin kembali mencium kening Calista mengurungkan niat saat melihat sudah banyak mahasiswa dan dosen yang berlalu lalang di sekitar mereka. " Oh ya, bagaimana untuk merayakan gelar sarjanaku hari ini kita makan bersama di cafe Kak Hanum. Aku yang akan mentraktir kalian hari ini." Ucap Danesh pada kedua sahabatnya.
"Menarik. Berang-berang ke Pungkat, ayo berangkat!" sahut Harry.
__ADS_1
Danesh dan Calista tersenyum mendengarnya.
Tidak ingin mengundur waktu lama, mereka pun segera berjalan ke arah mobil Danesh berada sambil membawa pemberian hadiah teman-teman mereka untuk Danesh.
Lima belas menit berlalu, kini mereka telah tiba di cafe milik Hanum. Kedatangan mereka siang itu disambut dengan senyuman di wajah cantik Hanum.
"Wah, sepertinya ada yang baru selesai ujian sarjana nih." Ucap Hanum tertuju pada Dio.
"Iya, Kak." Jawab Danesh seraya tersenyum. Kini hubungan Danesh, Dio dan Hanum sudah mulai dekat semenjak Danesh belajar menerima masa lalu dari istrinya.
Hanum mengulurkan tangan pada Danesh. "Selamat atas keberhasilanmu. Kau memang hebat!"
"Terima kasih. Kakak bisa saja." Jawab Danesh.
"Kalau begitu ayo silahkan duduk." Hanum menuntun mereka ke arah meja yang masih kosong.
__ADS_1
Tak berselang lama Dio nampak masuk ke dalam cafe sambil menggendong Daisy. Melihat keberadaan istrinya bersama Danesh dan Calista membuat Dio berjalan ke arah mereka berada. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lebih dulu, Danesh langsung saja mengulurkan tangan pada Danesh untuk memberikan ucapan selamat atas keberhasilan Danesh hari ini.
***