Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

Setibanya di kampus, Calista segera keluar dari dalam mobilnya. Ia melangkah ke arah ruangan Danesh berada saat ini setelah tadi meminta Danesh tetap berada di kelasnya sampai ia datang. Tidak sulit bagi Calista menemukan ruangan kelas Danesh berada saat ini karena sebelumnya ia juga menempuh pendidikan di tempat yang sama.


Setelah berada di depan kelas, Calista melihat suasana di dalam kelas lebih dulu. Suasana di dalam kelas masih nampak ramai walau jam kuliah sudah selesai. Calista yang merasa tidak enak masuk ke dalam kelas Danesh memilih mengirimkan pesan pada Danesh jika dirinya sudah berada di depan kelas saat ini.


Tak berselang lama setelah pesan terkirim, Danesh nampak keluar dari dalam kelas diikuti teman-temannya yang lain termasuk wanita yang tadi pagi Calista lihat mencoba mendekati suaminya.


"Sayang," suara Calista terdengar keras memanggil Danesh. Ia sengaja melakukannya agar sang wanita yang ia cap sebagai parasit dapat mendengarnya.


Danesh tersenyum melihat sosok istrinya. Ia tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang nampak terkejut mendengar seorang wanita hamil memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Kau baru sampai?" Seperti biasa Danesh mengusap kepala istrinya setiap mereka bertemu. Sontak saja aksi Danesh tersebut membuat kedua mata Carol semakin melotot hingga nyaris keluar dari wadahnya.


"Iya." Calista membalas senyuman di wajah Danesh tak kalah manis.

__ADS_1


"Ayo kita pulang." Ajak Danesh dan diangguki Calista sebagai jawaban.


Keduanya pun melangkah meninggalkan orang-orang yang masih terkejut mendengar dan melihat interaksi di antara mereka. Calista tersenyum menyeringai melihat wajah wanita yang ia cap sebagai parasit nampak merah padam melihat kedekatannya dengan Danesh


"Carol, kau ingin kemana!" Jessy memegang lengan Carol saat Carol hendak mengejar langkah Danesh dan Calista.


"Aku ingin mengejar Danesh. Aku ingin bertanya siapakah wanita itu!" ucap Carol geram. Wajahnya yang putih sudah berubah warna bak kepiting rebus.


"Kekasih kau bilang!" semakin geram saja Calista mendengarnya. "Tidak mungkin wanita hamil tadi itu adalah kekasihnya!" Carol menolak kenyataan yang ada.


"Tapi memang seperti itu kenyataannya. Tidak mungkin Danesh ikut memanggilnya sayang jika tidak ada hubungan di antara mereka."


"Kau jangan gila, Jes. Kau bisa melihat bukan jika wanita itu sedang hamil. Danesh tidak mungkin mau menjalin kasih dengan wanita hamil sepertinya!"

__ADS_1


"Bagaimana tidak mungkin, aku rasa mungkin saja. Bisa saja anak yang dikandung wanita itu adalah anak Danesh."


Kedua tangan Carol terkepal erat. Geram sekali mendengar Jessy menyebutkan jika anak yang dikandung wanita yang tidak dikenalinya adalah anak Danesh.


"Danesh tidak mungkin menghamili wanita di luar pernikahan. Aku tahu di negaranya menentang berhubungan di luar pernikahan!"


Jessy memilih diam. Semakin ia berbicara maka semakin keras pula Carol membantah perkataannya.


"Agh, sial!" Carol menghentakkan kedua kakinya. Ingin sekali ia mengejar Danesh dan meminta sebuah jawaban siapakah wanita yang bersamanya tadi. Namun Carol masih menggunakan akal sehatnya dengan baik. Ia yakin jika Danesh pasti akan marah besar jika mengganggunya di saat ada orang lain di dekatnya.


"Tidak, wanita tadi pasti bukan kekasih Danesh. Aku yakin itu. Danesh tidak mungkin menghamili seorang wanita di saat umurnya masih sangat muda seperti ini!" Geram Carol.


***

__ADS_1


__ADS_2