
Rose merasa cemas setelah membaca pesan dari Calista yang menyatakan sahabat baiknya itu sedang tidak enak badan saat ini. Tidak ingin larut dalam kecemasannya akan keadaan Calista terlebih Calista tak membalas pesan darinya, Rose langsung saja menyambangi rumah sahabatnya tersebut.
Setibanya di rumah kedua orang tua Calista, Rose disambut dengan senyuman oleh Mom Diora.
"Calistanya ada, Tante?" Tanya Rose setelah bersalaman dengan Mom Diora.
"Ada. Tapi Calista tidak mau diganggu saat ini. Dia mengunci pintu kamarnya dari dalam." Mom Diora memberitahu.
"Kalau boleh tahu ada apa dengan Calista, Tante. Tadi dia bilang tidak enak badan. Apa kandungannya baik-baik saja, Tante?" Rose menunjukkan kecemasan di wajahnya.
Mom Diora mengajak Rose duduk lebih dulu sebelum menjawab. Setelah duduk bersama dengan Rose barulah Mom Diora menceritakan permasalahan yang terjadi pada putrinya saat ini.
Rose menghela napas dalam-dalam. Sebelumnya ia sudah memperingatkan pada Calista untuk jujur kepada suaminya namun Calista tetap saja keras kepala tidak ingin memberitahu dengan alasan tidak ingin mengganggu konsentrasi suaminya di sana.
"Apa Tante sudah menghubungi Danesh? Dia tidak boleh mengabaikan Cal seperti ini. Cal sedang hamil dan hormonnya sedang tidak stabil. Kehamilan Cal bisa saja terganggu jika terus bersedih seperti ini."
"Tante sudah mencoba menghubungi tapi nomer telefon Danesh sudah tidak bisa lagi dihubungi."
__ADS_1
Rose dibuat pusing mendengar jawaban dari Mom Diora. Rose pun pada akhirnya meminta izin pada Mom Diora untuk mencoba meminta Calista untuk membuka pintu kamarnya.
Beberapa kali mencoba memanggil Calista sambil mengetuk pintu dari luar kamar, akhirnya Calista pun membuka pintu kamarnya. Wajah wanita itu nampak sembab menandakan ia sudah terlalu lama menangis.
"Cal..." Rose langsung saja memeluk tubuh Calista.
Calista hanya diam saja dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Jangan menangis seperti ini, Cal. Ingat saat ini kau sedang hamil."
"Aku tahu. Tapi jangan siksa dirimu seperti ini. Danesh sangat menyayangimu dan dia pasti tidak akan lama marah kepadamu."
Perkataan Rose tak membuat Calista tenang. Wanita itu akhirnya masuk ke dalam kamar dan diikuti oleh Rose di belakangnya.
Setelah mengambil ponselnya di atas nakas, Calista menunjukkan pada Rose berapa banyak panggilan telefonnya yang tidak dijawab oleh Danesh.
"Danesh bukan hanya tidak mengangkat panggilan telefon dariku tapi juga mematikan ponselnya." Keluh Calista.
__ADS_1
"Tenanglah, Danesh pasti akan menghubungimu ketika dia sudah tenang."
Calista menghela napas yang terasa semakin berat. Ia mengangguk saja mengiyakan perkataan Rose. Calista pun berharap dalam hati jika Danesh akan melakukan panggilan telefon balik kepadanya.
Hingga pada akhirnya, harapan Calista sia-sia. Saat malam sudah tiba, Danesh tak kunjung mengabarinya atau sekedar mengaktifkan nomer ponselnya.
Semakin resah saja hati Calista. Ia tidak menyangka keputusannya tidak memberitahu Danesh tentang kehamilannya akan berakibat buruk seperti saat ini.
"Cal ke kamar dulu, Mom, Dad." Pamit Calista setelah selesai menghabiskan makananannya malam itu.
Mom Diora mengangguk saja membiarkan Calista pergi ke dalam kamarnya.
"Anak itu selalu saja keras kepala. Jika sudah begini dia juga kan yang menyesal." Ucap Dad Berto. Sejak awal ia memang tidak menyetujui keinginan Calista menyembunyikan kehamilannya dari Danesh.
"Sudahlah, Dad. Jangan menyalahkannya. Keras kepala Calista kan turunnya dari Dad juga." Jawab Mom Diora tak ingin putri kesayangannya disalahkan oleh suaminya.
***
__ADS_1