
Calista dan Danesh kini sudah berada di dalam kamar Danesh. Calista yang sejak tadi merasa penasaran dengan maksud perkataan Danesh pun langsung membuka percakapan di antara mereka. "Kenapa kau berbicara seperti itu pada kedua orang tuamu tadi?" Tanya Calista sambil menjatuhkan bokongnya di atas sofa.
Danesh yang masih dalam posisi berdiri menatap wajah istrinya intens. "Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" Pria itu balik bertanya. Mengangkat sebelah alis tebalnya diikuti kerutan di kening.
"Tidak ada yang salah. Tapi sebelumnya kita belum ada membahas perihal seorang anak. Aku rasa kita perlu membicarakannya lebih dulu."
Supaya pembicaraan mereka terasa lebih nyaman Danesh memilih duduk di sofa yang bersebelahan dengan Calista.
"Apa yang ingin kau bahas?" Tanya Danesh. Memiringkan sedikit kepalanya agar dapat melihat wajah istrinya.
"Tentu saja tentang kehadiran seorang anak. Aku belum pernah mendengar kau mengatakan jika kau siap memiliki seorang anak denganku. Aku sempat berpikir jika kau belum mau memiliki seorang anak denganku."
Tatapan Danesh yang hangat berubah dingin. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Seperti perkataanmu tadi, kita bahkan belum pernah membahasnya sebelumnya." Danesh rasanya tidak suka dengan jalan pikiran istrinya itu.
__ADS_1
Calista menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Aku mengerti saat ini kau masih menempuh pendidikan dan masih muda. Aku berpikir jika kau mungkin menimbang-nimbang jika ingin memiliki seorang anak. Mungkin saja di umurmu yang masih muda ini kau belum siap memiliki seorang anak."
"Pemikiran macam apa itu?" Sahut Danesh cepat. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Jika kita sudah siap menikah maka kita juga sudah siap untuk memiliki seorang anak. Walau usiaku jauh lebih muda darimu tapi aku siap untuk merawat seorang anak denganmu. Jika kau mengerti aku masih muda maka aku juga mengerti usiamu tak lagi muda. Masa produksimu tidak selamanya subur."
Calista tertegun mendengar pernyataan suaminya itu. Segala pemikiran buruknya tentang Danesh yang tidak ingin memiliki seorang anak sirna sudah.
"Aku tidak ingin di usiamu yang nantinya tak lagi muda, anak-anak kita masih berusia kecil." Lanjut Danesh kemudian.
Tangan Danesh terangkat meraih tangan Calista. "Aku tahu gaji dari pekerjaanku saat ini mungkin tidak akan cukup memenuhi kebutuhanmu dan anak kita nanti. Tapi aku akan berusaha mencari uang yang lebih banyak lagi untuk bisa memenuhi kebutuhanmu dan anak kita."
Cairan bening mulai menumpuk di pelupuk mata Calista. Perkataan Danesh berhasil menyentuh hatinya. Calista pun tanpa rasa malu memeluk Danesh. Pelukannya itu disambut dengan senyum oleh Danesh.
"Terima kasih sudah mau menjadi imam yang baik untukku. Ajari aku untuk bisa mencintaimu mulai saat ini."
__ADS_1
Danesh menganggukkan kepalanya. "Aku juga sedang belajar untuk mencintaimu. Mungkin dengan memiliki seorang anak cinta di antara kita nantinya akan semakin tumbuh dengan besar."
"Semoga saja." Jawab Calista pelan.
Malam itu Calista dan Danesh bisa bernafas lega karena di antara mereka tidak ada satu pun yang berniat untuk menunda kehadiran anak di pernikahan mereka yang terbilang masih seumur jagung. Calista yang dulunya kurang yakin pada Danesh perlahan mulai menghilangkan rasa tidak percayanya itu.
Pun dengan Danesh, walau Calista jauh lebih tua darinya tapi istrinya itu masih bisa menghargai dirinya sebagai seorang suami dan kepala keluarga di rumah tangga mereka.
***
Manis manis dulu deh.
Jangan lupa vote dan gift kesayangan semuaš„°
__ADS_1