
Calista meminta kedua pelayannya untuk membereskan dapur dan ruang tengah sedangkan dirinya dan Danesh bertugas membereskan barang-barang yang ada di dalam kamar.
Sepasang pengantin baru itu tidak memperlihatkan kecanggungan satu sama lain. Keduanya nampak kompak bekerja sama membereskan kamar hingga akhirnya semua barang tersusun pada tempatnya.
"Untuk sekarang apa tidak masalah kita memakai kipas saja? Jika aku sudah gajian nanti aku akan mengusahakan memasang AC di kamar ini." Danesh rasanya tidak enak. Selama ini Calista sudah terbiasa tidur dengan suasana sejuk dengan udara AC kini harus berganti dengan kipas angin. Walau ukuran kipas angin yang dibelinya cukup besar namun tetap angin yang dihasilkan tidak sesejuk AC.
"Kenapa kau selalu bertanya hal yang sama? Aku sudah mengatakan tak masalah bukan?" Calista menyematkan senyum. Salah satu jurus agar Danesh tidak merasa sungkan lagi kepadanya. Sebenarnya bisa saja Calista membeli AC menggunakan uang gajinya selama bekerja di universitas keluarganya. Namun Calista masih memilih menghargai Danesh dan tidak mau menjatuhkannya.
"Terima kasih. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu setelah ini."
Calista menepuk pelan lengan Danesh. "Ayo kita lanjutkan membereskan kamar sebelah." Ajaknya. Di rumah kontrakan ada dua kamar yang tersedia. Kamar sebelah dimanfaatkan Calista untuk kamar tamu jika saja keluarga atau keluarga Danesh datang menginap.
Danesh mengiyakannya lalu keluar dari dalam kamar. Di ruang tengah kedua pelayan nampak bekerja sama menyusun barang-barang yang masih berserakan. Sedangkan Pak Tarno terlihat menyapu halaman di depan rumah.
__ADS_1
"Jangan lupa minumannya diminum selagi masih dingin." Ucap Calista mengingatkan pelayannya. Terlalu asik bekerja membuat kedua pelayannya melupakan minuman yang tadi sempat Calista beli.
"Baik, Nona." Sahut mereka.
Calista dan Danesh masuk ke dalam kamar tamu. Mereka kembali bekerja sama membereskan barang-barang di dalam kamar. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya karena tidak terlalu banyak yang dibereskan. Hanya memasang sprai dan menyapu sedikit saja.
Keduanya keluar dari dalam kamar setelah selesai membereskannya. Kedua pelayan dan Pak Tarno kini duduk di ruang tengah menikmati minuman dan makanan yang tadi Calista beli.
"Enak minumannya, Pak?" Tanya Calista pada Pak Tarno.
"Kalau mau minuman yang hangat biar Cal buatkan, Pak!" Tawar Calista.
Kepala Pak Tarno menggeleng tanda penolakan. Minuman dingin adalah solusi untuk rasa hangat yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
Calista kembali masuk ke dalam kamar tamu mengambil kipas. Dihidupkannya kipas itu untuk mendinginkan kedua pelayannya dan Pak Tarno yang nampak kepanasan.
"Istirahat dulu saja, Pak, Bik. Jangan dipaksakan. Lagian kerjaannya sudah hampir beres."
"Baik, Nona."
Calista dan Danesh memilih masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Sejenak Calista memperhatikan ukuran ranjang yang nampak lebih kecil dari ukuran ranjang di kamar yang ada di rumahnya. Jika ukuran ranjangnya seperti ini sepertinya jarak tidur di antara dirinya dan Danesh akan terkikis.
"Sudahlah, lagi pula dia sudah berstatus sebagai suamiku. Danesh juga menghargai keputusanku untuk saling mengenal lebih dulu. Dia tidak akan bertindak di luar batas." Ucap Calista dalam hati.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
__ADS_1
Sambil menunggu Danesh dan Cal update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Ke 2, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗