
"Sayang, cinta?" Ulang Calista.
Kepala Danesh mengangguk mengiyakan perkataan Calista. "Kau boleh memilih mau panggil sayang atau cinta." Ucap Danesh.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Calista mengangkat sebelah alis matanya ke atas.
"Kalau kau tidak mau maka aku akan..." Danesh mendekatkan wajahnya ke telinga Calista. "Aku akan menghukummu sampai pagi. Kau akan aku buat tidak bisa berangkat ke kampus besok pagi."
Calista bergidik ngerti mendengarkan bisikan Danesh yang terdengar seperti ancaman keras untuknya.
"Jadi bagaimana, Sayang?" Tanya Danesh setelah menjauhkan wajahnya dari telinga Calista.
"Aku tetap tidak mau. Aku tidak takut dengan ancamanmu." Jawab Calista menantang namun dalam hati merasa takut.
"Oh begitu." Danesh yang merasa tertantang tanpa aba-aba mengangkat tubuh Calista hingga membuat Calista berteriak.
"Danesh apa yang kau lakukan!" Pekik Calista sambil memukul dada bidang suaminya. Dadanya berdebar-debar mendapatkan gerakan tiba-tiba dari suaminya.
"Menghukummu hingga pagi." Jawab Danesh sambil membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau, Danesh!" Calista menggelengkan kepalanya dalam pelukan Danesh.
Danesh menulikan telinganya. Dengan hati-hati ia menurunkan tubuh istrinya ke atas ranjang. Calista seketika meringsut ke kepala ranjang melihat Danesh yang sudah membuka baju kaos putih yang dikenakannya.
"Danesh, aku hanya bercanda. Aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang." Ucap Calista merawa awas.
"Sudah terlambat sayang." Danesh segera merangkak ke arah istrinya. Melihat wajah istrinya yang ketakutan membuat Danesh menahan tawanya agar tidak pecah.
"Tidak Danesh. Ampun. Ampuni aku." Calista semakin takut saja saat tangan Danesh sudah memegang pundaknya. Ia tidak bisa membayangkan jika Danesh benar-benar menghukumnya sampai pagi.
"Hahaha." Akhirnya tawa Danesh pecah juga. Pria itu segera membuka kedua tangan Calista yang sedang menutupi wajahnya lalu mengecup bibir mungil istrinya.
"Danesh!" Calista yang merasa geram pun memukul pelan dada bidang suaminya. Semburat merah nampak muncul menghiasi kedua pipinya.
Danesh kembali tertawa. Ia membiarkan Calista memukul dada bidangnya hingga akhirnya membawa tubuh Calista ke dalam pelukannya.
"Jadi katakan sekarang, kau mau memanggilku sayangku atau cintaku?" Tanya Danesh.
"Sayangku saja. Aku merasa geli jika memanggil cinta." Jawab Calista.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Jadi mulai sekarang kau harus memanggilku dengan sayangku. Jika tidak, aku akan benar-benar menghukummu."
"Iya, iya. Sekarang ayo lepaskan aku!" Pinta Calista.
"Tidak akan. Aku akan tetap menghukummu namun tidak sampai pagi." Ucap Danesh lalu menyambar bibir manis Calista yang sudah membuatnya candu setelah pertama kali menikmatinya.
Calista yang awalnya terkejut dengan pergerakan Danesh perlahan membalas ciuman suaminya itu dengan lembut. Ciuman yang awalnya lembut itu akhirnya memanas saat keduanya terlibat pertarungan lidah dan saliva.
Danesh yang sudah merasakan panas di dalam tubuhnya mulai menggerakkan tangannya menyentuh apa saja yang ia sukai dari tubuh istrinya.
"Danesh..." napas Calista tersengal-sengal saat Danesh semakin menurunkan ciumannya.
"Aku ingin dirimu malam ini. Aku harap dia segera hadir di dalam sini." Ucap Danesh sambil membelai lembut perut Calista yang sudah tidak tertutupi kain.
Calista yang sudah diliputi gai-rah seperti Danesh tak menjawab justru memancing suaminya dengan gerakan tubuhnya agar cepat memulai permainan panas mereka.
"Aku mencintaimu." Bisik Danehs di telinga Calista pelan sebelum memulai permainan inti mereka malam itu.
"Aku juga mencintaimu, suamiku."
__ADS_1
***