
Semakin bertambahnya usia kandungan Calista, semakin bertambah pula rasa manja wanita itu pada Danesh. Setiap harinya Calista selalu saja mencari cara untuk mendapatkan perhatian dari Danesh dan akhirnya bisa dimanja oleh suaminya itu.
Danesh yang merasakan perubahan sikap Calista semenjak hamil pun tidak mempermasalahkannya. Ia justru merasa senang karena semakin manja Calista kepadanya maka semakin menunjukkan jika Calista sangat mencintainya.
"Sayang, ada apa dengan wajahmu?" Tanya Danesh setelah menghampiri Calista saat melihat wajah istrinya itu nampak murung.
"Aku tak apa. Memangnya kenapa?" Calista berdusta dan balik bertanya.
"Wajahmu nampak murung. Apa kau sedang bersedih?" Tanya Danesh lembut sambil memberikan usapan di kepala Calista.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Calista mencoba tersenyum.
"Jangan berbohong. Sekarang ayo katakan ada apa? Apa yang mengganggu pemikiranmu, hem?"
Calista menimbang-nimbang apakah ia harus jujur atau tidak. Sebentar lagi suaminya akan berangkat kuliah. Dan semakin lama ia mengungkapkan perasaannya maka Danesh akan berangkat kuliah tanpa mengetahui isi hatinya lebih dulu.
__ADS_1
"Sayang, sebenarnya aku ingin ikut denganku ke kampus hari ini. Emh maksudku sambil menemanimu di kampus aku bisa berkunjung ke ruangan Jesica." Ucap Calista pelan.
"Apa kau tidak ingin jauh dariku, hem?" Tanya Danesh lembut.
Calista mengangguk pelan. Ia pun mengusap perut yang berisi anaknya dan Danesh. "Anak kita juga ingin dekat dengan daddynya hari ini."
"Baiklah. Kalau begitu ayo ikut aku ke kampus. Aku akan mengantarkanmu ke ruangan Bu Jesica nanti."
Senyuman di wajah Calista terbit seketika. Kemurungan di wajahnya pun sirna begitu saja. "Benarkah. Apa tak masalah jika aku ikut denganmu?" Tanyanya memastikan.
"Tentu saja tidak masalah. Sekarang ayo bersiaplah. Aku menunggumu di sini."
"Jika kau menggemaskan seperti ini sejak dulu, pasti aku tidak akan berpikir untuk menerima perjodohan dari kedua orang tua kita."
*
__ADS_1
Kini Calista dan Danesh sudah berada di kampus. Sesuai perkataan Danesh, ia mengantarkan Calista pergi ke ruangan Jesica lebih dulu sebelum pergi ke ruangan kelasnya berada. Banyak pasang mata yang terus menatap ke arah mereka selama mereka berjalan melewati koridor kelas.
Danesh tak memperdulikan tatapan orang-orang kepada mereka. Ia terus saja berjalan berdampingan dengan Calista hingga akhirnya mereka tiba di ruangan Jesica.
"Itu tadi Danesh, kan?" Jessy bertanya pada Carol yang nampak tak berkedip menatap sosok Danesh hingga hilang di balik pintu ruangan Jesica.
"Iya." Jawab Carol singkat.
"Wah, perut istri Danesh terlihat semakin membesar. Sepertinya sebentar lagi bayi mereka akan lahir."
Carol yang merasa sebal mendengarkan perkataan Jessy pun melangkah pergi meninggalkan Jessy.
"Carol!" Jessy berteriak memanggil nama Carol namun Carol hanya diam seakan menulikan tak mendengar panggilannya.
"Apa dia marah?" Tebak Jessy. Jessy pun mengangguk menebak dugaannya adalah benar. "Sudahlah, Carol. Kau sudah kalah dari istri Danesh. Dia sudah berhasil mendapatkan Danesh lebih dulu bahkan sebentar lagi akan melahirkan anak dari Danesh." Ucap Jessy.
__ADS_1
Carol yang sedang melangkah ke arah ruangan kelas mereka berada hanya bisa bergumam dalam hati mengutarakan rasa sakitnya melihat Danesh bersama Calista. "Lagi-lagi aku selalu gagal mendapatkan pria yang aku cintai. Kemarin Harley sekarang Danesh." Gumamnya sedih.
***