
"Apa kau lelah?" Tanya Danesh setelah menjatuhkan bokong di atas ranjang. Membuka dua buah kancing kemejanya untuk menghilangkan rasa hangat dari dalam tubuhnya.
Calista memperhatikan pergerakan suaminya itu. Kepalanya menoleh ke arah lain saat melihat dada Danesh yang bidang. "Sedikit. Apa kau ingin minum lagi? Aku akan mengambilkannya untukmu."
"Tidak. Aku ingin istirahat saja." Jawabnya.
Calista menganggukkan kepala. Matanya kembali menangkap pergerakan Danesh. Kali ini suaminya itu nampak mengusap rambutnya ke belakang hingga membuat ya semakin tampan di mata Calista.
Calista memegang dada. Tidak terasa debaran di sana walau ia baru saja melihat wajah Danesh yang mempesona. Calista menyadari jika perasaannya untuk Danesh belum ada.
Calista memilih beranjak ke kamar mandi berukuran kecil yang ada di dalam kamar. Kamar mandi itu hanya bisa digunakan untuk mandi sambil berdiri saja. Tidak seperti kamar mandi di kamarnya yang bisa meletakkan bathup di dalamnya.
Danesh memperhatikan gerak-gerik istrinya itu hingga pintu kamar mandi tertutup dari luar. "Dia pasti tidak nyaman tapi mencoba menyamankan saja." Lirih Danesh. Sebagai anak yang dihidupkan dalam keluarga berada sebenarnya Danesh juga belum nyaman dengan kehidupannya sekarang. Namun mau bagaimana lagi, ia harus belajar mandiri dengan hidup secara sederhana.
*
Siang harinya pelayan dan Pak Tarno berpamitan kembali ke rumah kedua orang tua Calista meninggalkan Calista dan Danesh di dalam rumah.
__ADS_1
"Kau belum membawa mobilmu ke sini. Apa kau ingin kita menjemputnya ke rumah?" Tawar Danesh.
Calista menggeleng. "Nanti ada orang suruhan Papa yang mengantarkannya."
"Baiklah." Danesh tak lagi bersuara. Sibuk pada ponsel di tangannya yang memperlihatkan hasil pemotretan ia beberapa hari yang lalu.
"Sebentar lagi sudah memasuki ujian akhir. Apa kau masih tetap ingin bekerja?" Tanya Calista.
Danesh menghentikan kegiatannya. Menatap Calista dengan wajah datarnya. "Ya, aku akan tetap bekerja. Tidak ada alasan untukku berhenti bekerja."
Danesh menyematkan senyum yang terlihat manis di mata Calista. "Untuk itu kau tidak perlu mencemaskannya. Aku yakin pasti bisa."
Calista tersenyum tipis. Sebenarnya ia tidak perlu ragu dengan kemampuan Danesh. Tanpa memperhatikannya yang sedang mengajar saja pria itu bisa dengan mudah menjawab semua pertanyaan yang ia berikan. Calista harap untuk ujian besok juga demikian.
*
Langit sudah gelap menandakan malam sudah tiba. Calista dan Danesh yang baru saja siap melaksanakan ibadah bersama memutuskan untuk langsung pergi membeli makanan di luar karena Calista tidak sempat memasak untuk hari ini. Mereka belum membeli bahan-bahan untuk masak dan yang lainnya.
__ADS_1
"Besok aku akan pergi ke supermarket membeli bahan-bahan masakan." Ucap Calista saat sudah berada di dalam perjalanan menuju rumah makan.
Danesh menolehkan kepala menatap istrinya. "Baiklah. Aku akan memberikan uang belanja nanti." Jawabnya.
Calista terdiam. Begitu banyak pengeluaran Danesh akhir-akhir ini untuknya. Calista jadi berpikir apakah Danesh masih memiliki simpanan setelah ini?
"Aku memiliki sedikit tabungan dari uang jajan bulanan yang Daddy dan Kak David berikan. Uang itu masih cukup untuk menghidupi kita sampai aku gajian nanti." Danesh memberikan pengertian seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran istrinya saat ini.
Danesh memang pria yang bertanggung jawab. Semoga saja akan tetap seperti ini sampai seterusnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa berikan vote, like, point, dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Danesh dan Cal update, silahkan mampir di novel shy yang lagi on going juga berjudul Noda Menjadi yang Ke 2, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ 🤗
__ADS_1