
Danesh merasakan hatinya tak tenang sejak ia meninggalkan apartemen menuju kampus. Bayangan Calista yang sebentar lagi akan melahirkan terus saja menghantuinya. Danesh merasa cemas jika istrinya akan melahirkan di saat ia sedang tidak berada dekat dengan istrinya.
Materi pelajaran yang dipaparkan dosennya di depan kelas tak begitu didengar oleh Danesh. Pemikirannya terus saja melayang pada istrinya. Entah mengapa Danesh merasa waktu persalinan istrinya akan semakin dekat.
Beberapa saat berlalu.
Di apartemen, Calista nampak mengeluh sendiri merasakan sakit pada perutnya. Ia mencoba mengatur napas untuk menghilangkan rasa sakit namun hal itu tak kunjung membuat rasa sakit di perutnya berkurang. Calista yang merasa sudah tak kuat menahan rasa sakit pun akhirnya berteriak memanggil nama sang mommy.
Mommy Diora dan Mommy Meisya yang sedang asik menonton televisi di ruang tengah seketika berlari ke arah kamar Calista setelah mendengar suara teriakan Calista.
"Calista!" Pekik Mom Diora melihat Calista yang sudah terduduk di atas lantai sambil memegang perutnya yang terasa sangat sakit.
"Mommy... Perut Cal sakit..." keluhnya.
"Apa kau sudah mau melahirkan nak?" Tanya Mom Diora dengan wajah yang nampak panik.
__ADS_1
Calista mengangguk tanpa bersuara. Mom Meisya yang tidak ingin kehilangan akal sehatnya pun segera mengambil ponselnya di ruang tengah dan langsung melakukan panggilan telefon pada Danesh.
"Bagaimana kalau saat ini Danesh sedang kuliah?" Mom Meisya mematikan panggilan telefon dan memilih mengirimkan pesan pada Danesh jika Calista sudah ingin melahirkan.
Danesh yang masih berada di dalam kelas pun segera meminta izin pada dosen yang sedang mengajar untuk pulang. Untung saja dosen yang sedang mengajarinya sudah mengetahui jika dirinya sudah menikah dan mempersilahkan Danesh untuk pulang.
"Danesh mau kemana?" Bisik Jessy di telinga Carol.
"Mana aku tahu dia mau kemana." Jawab Carol yang sebenarnya juga merasa penasaran kemana Danesh akan pergi.
"Sayang, tunggu aku." ucap Danesh dengan wajah yang nampak cemas. Sambil mengendarai mobil, Danesh mencoba menghubungi Mom Meisya. Mempertanyakan bagaimana keadaan Calista saat ini dan meminta mereka untuk menunggunya sampai datang.
*
"Sayang!" Danesh segera berlari ke arah Calista yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan wajah yang basah akibat menangis menahan sakit.
__ADS_1
Calista semakin menangis dengan keras menatap kedatangan Danesh. Melihat istrinya yang sedang menahan rasa sakit membuat Danesh segera mengangkat tubuh Calista.
"Danesg, apa kau yakin ingin menggendong Calista sampai ke bawah?" Mom Meisya meragu membiarkan Danesh menggendong menantunya yang sedang hamil besar.
Danesh mengangguk lalu segera melangkah keluar dari apartemen. Mom Meisya dan Mom Diora pun mengikutinya dari belakang. Tak lupa Mom Meisya membawa tas perlengkapan bayi yang sudah dipersiapkan Calista di dalam kamarnya.
"Biar Mom saja yang mengemudi. Kau lebih baik tenangkan Calista saja!" Ucap Mom Meisya saat Danesh keluar dari dalam mobil setelah mendudukkan Calista di kursi belakang.
Danesh menyetujuinya. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan Mom Meisya segera masuk ke kursi kemudi.
"Meisya, apa kau yakin akan mengemudi?" Mom Diora meragu karena kini mereka dalam keadaan panik.
"Aku yakin. Kau tidak lupa bukan jika dulunya aku adalah mantan pembalap wanita?"
***
__ADS_1