
Mom Meisya benar-benar membuktikan perkataannya jika mereka akan sampai lebih cepat dan selamat di rumah sakit. Dengan menggunakan kemampuannya dalam mengemudi, hanya memakan waktu lima belas menit kini mereka telah tiba di depan rumah sakit.
Para perawat yang sudah mendapatkan perintah untuk menyambut kedatangan Danesh dan istrinya segera membantu Danesh menurunkan Calista dari dalam mobil.
Calista yang tengah merasakan kesakitan tak sedikit pun membiarkan tangan Danesh lepas dari tangannya. Ia terus menggenggam tangan Danesh hingga akhirnya Danesh ikut masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
"Bagaimana dokter?" Danesh bertanya dengan perasaan awas setelah dokter selesai memeriksakan kondisi istrinya.
"Ketubannya sudah pecah. Bayi Nona Calista harus segera dilahirkan."
"Apa istri saya bisa melahirkan secara normal dokter?" Tanya Danesh.
"Bisa. Jalan lahir bayi Nona Calista sudah hampir memasuki sempurna. Kita hanya menunggu pembukaan jalan lahir sempurna sebentar lagi baru dilaksanakan tindakan persalinan."
Danesh menghembuskan napas lega. Ia pun mengusap kepala istrinya yang sedang menangis untuk menenangkannya. "Sabarlah sayang. Bayi kita akan lahir sebentar lagi." Ucap Danesh.
__ADS_1
Calista tak merespon perkataan Danesh karena menahan rasa sakit di dalam perutnya yang terasa semakin bertambah kuat.
Satu jam berlalu, rasa sakit di dalam perut Calista semakin tak tertahankan. Dokter pun segera melakukan pemeriksaan jalan lahir bayi Calista.
"Pembukaan sudah sempurna. Bayi sudah siap dilahirkan."
Para perawat yang bertugas segera membantu membawa Calista ke ruangan persalinan diikuti oleh Danesh. Mom Diora dan Mom Meisya yang melihat Calista dipindahkan ke ruangan persalinan hanya bisa berdoa supaya persalinan Calista diberi kelancaran.
Di dalam ruangan persalinan, kini Calista tengah berjuang mengejan untuk melahirkan bayi mungilnya ke dunia. Danesh yang setia berada di sebelah Calista hanya bisa memberikan semangat pada Calista dengan sesekali mengucapkan cinta pada Calista.
"Kau pasti kuat sayang... Ayo bertahanlah... Anak kita sudah tidak sabar lahir ke dunia." Danesh mengecup kening Calista dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya.
Calista mengumpulkan tenaganya yang tersisa dengan mengejan sekuat-kuatnya hingga akhirnya terdengar suara tangisan yang sangat nyaring memecah ketegangan di dalam ruangan persalinan.
"Anak kita sudah lahir sayang..." air mata Danesh semakin mengalir tumpah ruah. Danesh tak dapat membendung rasa harunya melihat sosok bayinya yang masih bewarna merah sudah lahir ke dunia.
__ADS_1
Dokter yang membantu persalinan pun memperlihatkan bayi tersebut pada Calista hingga membuat Calista menangis bahagia.
"Anak Mommy..." lirih Calista dengan lelehan air mata yang semakin mengalir deras.
Rasa bahagia yang ia rasakan melihat sosok putranya sudah lahir ke dunia membuat Calista tak lagi merasakan sakit di bagian intinya yang robek dan kini sedang dijahit oleh seorang perawat.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih karena sudah melahirkan anak kita ke dunia ini." Danesh menghujani Calista dengan banyak ciuman di wajah Calista.
Calista hanya bisa tersenyum. Tubuhnya masih terasa sangat lemah hingga membuatnya sulit untuk berkata-kata.
Tak berselang lama sang dokter pun meminta Calista untuk melakukan skin to skin pada bayi mungilnya. Air mata Calista semakin mengalir tumpah ruah merasakan hangatnya tubuh putranya yang kini berada di atas dadanya.
"Anak Mommy... terima kasih sudah berjuang bersama dengan Mommy selama kau hadir di rahim Mommy."
***
__ADS_1