Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Bisakah bersikap baik kepadaku?


__ADS_3

Mendengar kata jatah yang keluar dari mulut istrinya membuat Danesh merasa sangat tidak sabar untuk pulang. Namun hal itu tentu saja tidak bisa dilakukannya mengingat siang ini ada beberapa pemotretan yang harus ia lakukan.


"Calista... Calista... kau memang lebih tua dariku. Tapi pesonamu tidak ada yang bisa menandinginya." Gumam Danesh sambil mengusap layar ponselnya yang memperlihatkan wajah cantik Calista.


Inez yang ternyata berada tidak jauh dari Danesh dan melihat pergerakan tangan Danesh mengusap foto seorang wanita mengepalkan kedua tangannya. Pipinya menggembung diikuti wajah yang mulai memerah menahan amarah pada wanita yang fotonya ada di ponsel Danesh.


"Sial, harusnya fotoku-lah yang diusap oleh Danesh bukan wanita itu!" Gerutu Inez. Menghentakkan kedua kakinya cukup kuat lalu memilih pergi meninggalkan ruangan pemotretan dengan wajah masam.


*


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore saat Danesh baru saja selesai melakukan pemotretan terakhirnya. Sejak awal sampai akhir pemotretan dilakukan, Inez memilih tetap berada di dalam ruangan pemotretan menyaksikan pujaan hatinya yang sedang beradu gaya di depan kamera.


Tidak dapat Inez pungkiri jika perkataan papanya tempo hari benar. Danesh memang aset model terbaik yang mereka miliki saat ini. Semenjak pria itu bekerja sebagai model di perusahaan papanya, penjualan produk perusahaan ya semakin melonjak tinggi di pasaran.

__ADS_1


Danesh meninggalkan rungan pemotretan setelah merasa tugasnya sudah selesai. Melihat kepergian Danesh membuat Inez tidak tinggal diam. Wanita itu segera menyusul langkah Danesh dan menghadangnya agar berhenti berjalan.


"Ada apa?" Tanya Danesh menatap datar wanita yang sangat ia hindari akhir-akhir ini.


"Bisakah kau bersikap baik kepadaku sedikit saja? Maksudku kenapa kau selalu saja datar dan dingin kepadaku? Sedangkan bersama Cinta kau terlihat ramah."


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu? Aku rasa pertanyaanmu tidak penting." Ucap Danesh lalu berjalan melewati Inez begitu saja.


"Danesh!" Inez berteriak memanggil-manggil nama Danesh.


*


"Calista..." Danesh tersenyum sambil mengusap wajah istrinya yang sedang tertidur di atas ranjang saat ia baru saja pulang ke kontrakan sore itu. Ditatapnya dengan intens wajah wanita yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pemikirannya hingga membuatnya kurang fokus saat belajar dan bekerja.

__ADS_1


"Dia pasti kelelahan." Gumam Danesh saat melihat laptop yang berada di atas nakas dan beberapa lembar kertas yang berada di atas ranjang.


Ingin sekali Danesh tidak mengganggu tidur istrinya itu. Namun mengingat malam ini mereka akan menginap di rumah orang tuanya membuat Danesh terpaksa membangunkan Calista dengan cara lembut.


"Calista..." Danesh mengusap-usap wajah Calista dengan lembut. Perlahan tangannya berpindah mengusap rambut Calista yang terurai indah.


Kedua kelopak mata yang awalnya tertutup akhirnya terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat saat membuka mata adalah wajah Danesh yang terlihat sangat tampan di matanya.


"Danesh... kau sudah pulang?" Tanya Calista dengan suara parau.


Danesh mengangguk seraya mengulas senyum. Agh sial sekali. Hanya melihat senyuman Danesh saja sudah membuat jantung Calista berdetak kencang.


"Maafkan aku membangunkan mu. Tapi sebentar lagi kita sudah harus pergi ke rumah Mom dan Daddy. Kita harus sampai di sana sebelum jam makan malam tiba." Ucap Danesh.

__ADS_1


Mendengar perkataan Danesh membuat Calista mengubah posisi berbaring menjadi duduk. "Sudah jam berapa ini?" Tanya Calista sambil mengucek kedua matanya.


***


__ADS_2