Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku
Aku Akan Mencakarnya!


__ADS_3

Setelah saling melepas rindu di bandara, akhirnya Danesh membawa istri dan keluarganya pergi ke sebuah apartemen milik keluarganya yang berada tidak terlalu jauh dari apartemennya berada. Selama berada dalam perjalanan menuju apartemen, Calista tak henti bergelayut manja di lengan Danesh. Menunjukkan pada Danesh jika ia sangat merindukan suaminya itu.


Danesh sama sekali tidak merasa risih dengan sikap Calista yang semakin manja semenjak mengandung. Ia justru merasa senang melihat sikap manja istrinya itu.


Tiga puluh menit berlalu, kini mereka telah berada di apartemen. Danesh dan Calista memilih menghabiskan waktu bersama keluarga mereka lebih dulu sebelum akhirnya pulang ke apartemen milik mereka.


"Apa kau lelah, Sayang?" Danesh mengusap kepala istrinya yang kini bersandar di bahunya.


"Sedikit." Calista tersenyum dengan mata yang masih terpejam.


"Sebentar lagi kita akan sampai di apartemen. Jika kau ingin tidur tak masalah, nanti aku akan menggendongmu naik ke apartemen kita."


Calista seketika menggeleng. "Tidak. Aku bisa jalan sendiri." Ucapnya dengan mata yang sudah terbuka.


Danesh tertawa kecil. "Memangnya kenapa jika aku menggedongmu ke apartemen kita? Tidak ada yang salah bukan. Kita kan sudah sah menjadi suami istri bahkan sebentar lagi akan memiliki seorang anak."


"Walau pun begitu tetap saja aku tidak mau."


"Apa kau malu, hem?" Danesh mengusap sebelah pipi istrinya.

__ADS_1


"Begitulah." Jawab Calista jujur.


Danesh tersenyum saja. Jika wanita seumuran dengannya mungkin akan senang diperlakukan demikian olehnya, berbeda dengan Calista. Wanita itu pasti sudah tidak ingin diperlakukan sedemikian karena umurnya yang sudah memasuki tiga puluh satu tahun.


Beberapa saat berlalu, kini keduanya sudah masuk ke dalam apartemen. Danesh dan Calista memilih duduk di ruang tamu lebih dulu sebelum memasukkan koper milik Calista ke dalam kamar.


"Apartemen ini sudah banyak berubah dari terakhir kali aku meninggalkannya." Komentar Calista sambil menatap apartemen yang dulunya ditempati olehnya.


"Apa kau ingin tampilan apartemen ini sama seperti tampilan saat kau tinggal di sini dulu, hem?"


"Tidak. Begini saja sudah cukup bagus."


"Sayang, apa selama kau melanjutkan pendidikan di sini banyak wanita yang mencoba mendekatimu?" Tanya Calista pelan.


Danesh terdiam beberapa saat.


"Pasti banyak bukan. Sejak dulu suamiku ini kan idola kampus." Bibir Calista mengerucut setelah mengatakannya.


"Walau pun banyak tetap kau yang nomer satu, Sayang." Danesh memberikan ciuman bertubi-tubi di kening istrinya.

__ADS_1


"Tuh kan benar. Banyak wanita yang mendekatimu!" Calista mencubit keras pinggang Danesh karena kesal.


"Aw!" Danesh meringis.


"Awas saja jika aku melihat ada wanita yang mencoba mendekati suamiku. Aku tidak akan segan mencakarnya!" Ancam Calista.


Danesh bergidik ngeri mendengarkan perkataan istrinya. "Kenapa istriku jadi galak begini semenjak hamil?"


"Karena anakmu tidak mau Daddynya didekati oleh wanita genit!" Ketus Calista.


Danesh tertawa-tawa. Ditariknya gemas hidung Calista hingga membuat hidung istrinya itu menjadi merah.


"Sayang, kenapa kau mencubit hidungku. Sakit tahu!" Gerutu Calista.


Danesh masih saja tertawa. "Karena kau itu sangat lucu."


"Tidak ada yang lucu. Aku tidak bercanda dengan perkataanku. Apa kau tahu aku cukup mengenal banyak dosen di kampusmu. Aku bisa saja mencari informasi tentang wanita genit yang mencoba mendekati suamiku dari mereka. Dan jika aku sudah mengetahui siapa wanita itu maka aku tidak akan segan mencakarnya atau menjambaknya!"


***

__ADS_1


__ADS_2