
"Sudah hampir jam enam." Jawab Danesh lembut.
"Apa?" kedua kelopak mata Calista terbuka lebar. "Tunggulah sebentar. Aku akan segera bersiap-siap!" Ucapnya tergesa-gesa.
"Baiklah. Tapi jangan terburu-buru begitu. Rumah kedua orang tuaku tidak akan pindah walau kita datang terlambat ke sana!"
Calista tidak merespon perkataan Danesh. Kini tangannya sibuk membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas ranjang. Tidak membutuhkan waktu lama kekacauan di dalam kamar akhirnya selesai Calista bereskan.
Calista yang sudah merasa siap segera mengajak Danesh pergi ke rumah mertuanya. Untung saja sebelum tidur tadi ia sudah menyempatkan waktu untuk mandi lebih dulu.
Danesh hanya bisa tersenyum melihat sikap istrinya itu. Keduanya pun akhirnya berangkat menuju rumah Dad Raka dan Mommy Meisya menggunakan mobil milik Danesh.
Setelah melakukan perjalanan lebih kurang tiga puluh menit lamanya, akhirnya mobil milik Danesh sampai di kediaman mewah kedua orang tuanya.
"Ayo masuk!" Ajak Danesh lalu menggenggam tangan Calista. Sebelah tangannya yang bebas ia pergunakan untuk memegang tas yang tadi Calista bawa untuk tempat barang-barangnya.
__ADS_1
Kedatangan keduanya disambut dengan senyuman oleh Dad Raka dan Mommy Meisya. Sedangkan David, pria itu hanya menatap mereka sekilas lalu kembali fokus pada ponsel di tangannya.
Lima belas menit setelah sampai di rumah, Mommy Meisya pun mengajak Calista dan Danesh untuk makan malam bersama. Selama makan malam berlangsung sampai makan malam bersama selesai dilakukan, David hanya diam tanpa berniat menimpali pembicaraan Mommy Meisya dan Dad Raka.
"Danesh, Calista, Mommy tidak bermaksud ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Tapi Mommy hanya berharap jika kalian tidak mengundur waktu untuk memiliki seorang keturunan." Ucap Mommy Meisya saat mereka sudah berpindah duduk ke ruang tengah.
Calista terdiam. Ia tidak berani menjawab karena sebelumnya belum ada pembicaraan perihal anak antara dirinya dan Danesh.
"Mommy tenang saja. Aku dan Calista tidak berniat menunda untuk memiliki keturunan. Buktinya saja setiap malam kami selalu berusaha membuat anak dengan baik." Jawab Danesh sedikit frontal.
Danesh menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Doakan saja jika usaha kami tidak gagal!"
"Daddy..." Mommy Meisya memeluk lengan suaminya erat. "Akhirnya salah satu putra kita tidak perjaka lagi. Semoga saja sebentar lagi kita akan mendapatkan kabar baik dari Danesh dan Calista."
Semakin terbatuk saja Calista mendengar perkataan Mommy Meisya. Sementara David, pria itu masih memasang wajah datar seolah sudah terbiasa melihat sikap absurd keluarganya.
__ADS_1
"Minumlah." Danesh memberikan secangkir air putih pada istrinya.
Calista menerimanya lalu meneguknya hingga tandas. Kedua matanya kini menatap Mommy Meisya dan Danesh secara bergantian. Ia tidak menyangka ada sisi lain keluarga Danesh yang tidak disadari olehnya selama ini.
"Danesh, jika kau belum terlalu ahli saat bekerja malam kau bisa bertanya tutorialnya dengan Daddy." Tawar Daddy Raka.
Danesh menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. "Tidak perlu. Aku sudah lebih ahli dari Dad. Jika Daddy bisa menghasilkan dua maka aku bisa menghasilkan tiga." Ucapnya yakin.
Dad Raka menatap sinis putra bungsunya itu. "Jika kau lebih ahli maka buktikan saja." Tantangnya. Sebal sekali dirinya dikatakan tidak terlalu ahli oleh putra bungsunya itu.
Apa-apaan ini? Ucap Calista dalam hati merasa tak habis pikir.
***
Follow ig shy ya @shy1210_ untuk info karya selanjutnya😍
__ADS_1