
Cinta dapat merasakan jika Danesh saat ini sedang memendam amarah pada Inez. Walau bingung hal apa yang membuat Danesh marah pada Inez, namun Cinta memilih tidak mempertanyakannya lebih lanjut.
Inez yang ternyata mencuri dengan percakapan Danesh dan Cinta dibuat kesal karena Danesh terlihat sangat tidak menyukainya.
"Ada apa dengan Danesh. Kenapa dia semakin menunjukkan rasa tidak suka kepadaku?" Gerutu Inez. Karena tidak lagi mendengar percakapan Danesh dan Cinta, Inez pun memilih pergi ke ruangan Papa Hendro berada.
Brak
Terdengar suara pintu tertutup keras. Papa Hendro yang sedang fokus pada dokumen di depannya terlonjak kaget hingga mengusap dada.
"Ada apa denganmu, Inez?" Tanya Papa Hendro. Wajahnya nampak marah menatap Inez.
"Papah..." Inez merengek. Mendekat pada Papa Hendro dengan wajah sesedih mungkin.
Kemarahan Papa Hendro seketika surut melihat kesedihan di wajah putrinya.
"Katakan ada apa denganmu?" Tanya Papa Hendro lagi.
__ADS_1
"Inez sedang kesal, Papah!" Inez bersedekap dada. Bibirnya nampak maju beberapa cm menunjukkan kekesalannya.
"Kesal, pada siapa?"
"Danesh." Jawabnya cepat.
Kening Papa Hendro mengkerut. Wajahnya nampak bingung mendengar jawaban putrinya. "Memangnya ada apa dengan Danesh? Kenapa kau kesal dengannya?"
Inez diam menimbang-nimbang harus menjawab apa. Inez sedikit takut jika Papa Hendro tidak berpihak kepadanya.
Papa Hendro diam. Ia hanya merespon dengan anggukan kepalanya. Jika melihat ekspresi Inez saat ini sepertinya Papa Hendro sudah dapat menebak kemana arah percakapan putrinya.
"Inez menyukai Danesh, Pah. Baru kali ini Inez merasakan menyukai pria dengan tulus."
Benar sekali dugaan Papa Hendro jika putrinya itu menyukai pria yang berstatus model di perusahaannya. "Lalu kenapa kau bisa kesal kepadanya jika kau menyukainya?"
Inez menghembuskan nafas kasar. Mengingat wajah datar Danesh kepadanya semakin membuatnya sebal saja.
__ADS_1
"Itu karena Danesh selalu bersikap dingin pada Inez, Pah. Dia tidak pernah bersikap baik para Inez sekali pun dia tahu jika Inez adalah anak Papa!"
Papa Hendro menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Jika menyangkut soal perasaan ia tidak bisa ikut campur. Selama Danesh bekerja dengan baik di perusahaannya maka Papa Hendro tidak mempermasalahkan sikap dingin Danesh pada Inez. Lagi pula seingat Papa Hendro, Danesh memang bersikap dingin pada setiap wanita yang bertemu dengannya.
"Inez, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Jika Danesh belum bisa membalas perasaanmu maka jangan memaksanya."
"Papah! Kenapa Papa tidak memihak pada Inez? Papah kan atasannya di perusahaan ini. Apa Papa tidak bisa membantu Inez untuk dekat dengan Danesh? Papa bisa kan mengancam Danesh agar bisa dekat dengan Inez?"
Papa Hendro seketika menggeleng. "Apa yang kau minta tidak ada di surat perjanjian Inez. Jika kau mau dekat dengannya maka berusahalah sendiri. Untuk kali ini Papa tidak bisa menuruti keinginanmu. Danesh adalah model terbaik yang kita punya saat ini. Kehilangannya sama saja kehilangan investasi di perusahaan ini." Papa Hendro mencoba memberikan pengertian pada putrinya.
Wajah Inez memerah. Menahan sebal sekaligus amarah pada Papa Hendro. Selama ini kehendaknya sebagai anak bungsu selalu dituruti oleh Papa Hendro. Tapi sekarang kenapa tidak bisa demikian? Inez yang merasa marah pun segera bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan Papa Hendro tanpa berpamitan.
"Lihat saja, aku akan membuat Papa membantuku untuk mendapatkan Danesh!"
***
Wah, ini cinta apa obsesi ya?
__ADS_1