
Senyuman secerah mentari pagi nampak terbit di wajah Calista saat menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Setelah dua tahun lebih lamanya menetap di luar negeri akhirnya ia kembali lagi ke kota yang sangat dirindukannya.
"Apa kau senang, sayang?" tanya Danesh sambil mengusap punggung Baby Daffa yang sedang tertidur di gendongannya.
"Ya, aku sangat senang karena kita bisa kembali lagi ke kota ini." Sahut Calista.
"Kita akan memulai hidup baru di kota ini bersama dengan Daffa. Jika dulu kita hanya tinggal berdua di dalam rumah, kali ini sudah berbeda. Ada Daffa di antara kita."
"Ya. Semoga saja hidup kita akan jauh lebih bahagia setelah kembali ke kota ini."
Danesh mengangguk mengiyakannya. Percakapan suami istri itu terhenti saat Mommy Diora datang dan mengajak mereka masuk ke dalam mobil jemputan.
Baby Daffa yang awalnya tertidur pun akhirnya terbangun setelah masuk ke dalam mobil. "Mommy." Baby Daffa merengek seraya mengulurkan kedua tangan mungilnya pada Calista.
"Anak Mommy haus ya." ucap Calista yang mengerti keinginan putra kecilnya.
"Mik." ucap Daffa menginginkan sumber nutrisinya.
__ADS_1
Mendengar permintaan putra kecilnya, Danesh pun segera mengeluarkan botol susu Daffa dari dalam tas dan memberikannya pada Calista.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Calista lembut dan diangguki Danesh sebagai jawaban.
Mom Diora yang melihat kekompakan Danesh dan Calista dalam mengurus Baby Daffa pun tersenyum dan merasa bersyukur di dalam hati karena ternyata pilihannya dan Dad Berto tidak salah untuk Calista.
*
Kini Calista, Danesh dan Baby Daffa telah tiba di kediaman Dad Berto dan Mom Diora. Sesuai kesepakatan, mereka akan tinggal di rumah kedua orang tua Calista beberapa hari sebelum pindah ke apartemen.
"Ya. Aku aku sudah menerimanya. Aku sadar jika Daddy sangat mengharapkan aku untuk membantunya dan kali ini aku tidak bisa menutup mata lagi."
Calista mengusap lengan suaminya seraya tersenyum. "Daddy pasti senang dengan keputusanmu ini."
Danesh ikut tersenyum. "Ya, aku dapat kebahagiaan di wajah Daddy setelah aku menerima tawarannya."
"Semoga saja pekerjaan suamiku nanti berjalan dengan lancar." Harap Calista.
__ADS_1
"Semoga saja. Terima kasih sayang karena kau selalu mendukungku di setiap waktu."
"Itu memang adalah tugasku sebagai istri. Aku akan selalu mendukung yang terbaik untuk suamiku."
Danesh memberikan sebuah ciuman di kening istrinya.
"Jika dipikir-pikir sangat lucu, ya. Mahasiswaku adalah suamiku. Dan sekarang mahasiswaku sudah bertambah gelar sebagai ayah dari anakku."
"Kita tidak bisa menebak takdir mana yang akan datang kepada kita. Dulunya kita hanya sebagai mahasiswa dan dosen tapi sekarang kita sudah berubah status sebagai suami dan istri yang saling menyayangi."
"Aku tidak pernah menduga semua ini akan terjadi kepada kita. Namun aku sangat senang karena takdirku adalah dirimu. Walau pun umurmu lebih muda dari aku tapi pemikiranmu lebih dewasa dari aku. Aku bangga bisa memilikimu suamiku." Calista memeluk suaminya dengan rasa sayang yang sangat membuncah.
"Aku pun begitu. Aku mencintaimu." Danesh meraih wajah Calista dengan kedua tangannya lalu memberikan kecupan di bibir Calista.
"Aku juga mencintaimu. Sangat." Jawab Calista lalu balik mengecup bibir suaminya.
*********
__ADS_1