
"Tapi kau tenang saja, jika wanita itu berniat menghabiskan harinya bersamamu maka dia pasti berusaha melupakan masa lalunya."
Perkataan Cinta di akhir setidaknya bisa membuat Danesh sedikit lega sebelum pulang ke rumah kedua orang tuanya. Danesh pun teringat dengan perkataan Calista beberapa waktu lalu yang ingin memulai hidup baru yang lebih baik bersamanya.
"Kenapa aku jadi bersikap begini." Lirih Danesh.
Setibanya di kediaman kedua orang tuanya, Danesh segera melangkah ke arah kamarnya berada untuk menemui Calista. Namun setelah pintu kamar terbuka, Danesh tidak melihat sosok istrinya itu di dalam kamar.
"Dimana Calista? Apa dia tidak pulang ke rumah Mommy?" Gumamnya. Danesh segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya saat mengingat ada beberapa pesan dari Calista yang belum sempat dibacanya.
Danesh menghembuskan napas lega saat melihat pesan terakhir dari Calista yang menyatakan jika istrinya itu pulang ke rumah kedua orang tuanya.
"Jika dia pulang ke rumah Mommy lalu kenapa dia tidak ada di kamar?" Tidak ingin menebak-nebak dimana keberadaan istrinya saat ini, Danesh memilih mencari istrinya ke lantai bawah. Mungkin saja Calista sedang berada di taman samping bersama mommynya.
"Cari siapa, den?" Seorang pelayan yang sedang bertugas membersihkan taman samping bertama pada Danesh.
__ADS_1
"Apa Bibi melihat istriku? Aku tidak melihatnya di dalam kamar tadi." Jawab Danesh.
Pelayan itu berpikir sejenak. "Kalau tidak salah dengar tadi Nyonya bilang mau pergi ke minimarket dengan Nak Calista. Mungkin saat ini mereka belum pulang dari minimarket, Den."
"Baiklah, terima kasih infonya Bibi." Jawab Danesh lalu melangkah meninggalkan taman samping setelah mendapatkan anggukan kepala oleh Bibi.
Danesh memilih membersihkan tubuhnya yang lengket sambil menunggu istrinya pulang dari minimarket. Calista yang baru saja sampai di rumah bersama Mommy Meisya langsung saja pergi ke kamarnya setelah mengetahui Danesh sudah pulang ke rumah.
"Danesh..." kening Calista mengkerut karena tidak menemukan suaminya di dalam kamar.
Calista meneguk salivanya susah payah melihat sosok suaminya kini keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk melilit pinggangnya.
"Da-danesh, kau sudah pulang?" Tanya Calista.
Danesh tidak menjawab. Pria itu justru semakin berjalan mendekat pada Calista hingga membuat Calista mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Kenapa kau menjauh? Apa kau tidak suka berdekatan dengan suamimu, hem?" Tanya Danesh.
Calista menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, hanya saja..." Calista tiba-tiba bingung harus menjawab apa. Pemikirannya sudah melayang kemana-mana melihat penampilan suaminya saat ini.
Tangan Danesh tiba-tiba terulur mengusap kepala Calista. "Aku pakai baju dulu. Tunggulah di sini. Ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu." Ucapnya lembut.
Calista menganggukkan kepalanya. Ia menghembuskan nafas lega saat Danesh sudah berjalan menjauh meninggalkannya.
Beberapa menit berlalu, Danesh dan Calista sudah berpindah posisi ke atas balkon untuk berbicara.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?" Tanya Calista sambil menatap wajah tampan Danesh.
Danehs menoleh. Menatap wajah cantik istrinya yang terlihat teduh di matanya. "Aku baru tahu ternyata istriku ini adalah mantan kekasih dari Tuan Dio Mahesa. Pria sukses di usianya yang masih terbilang muda."
Calista terdiam beberapa saat mendengar perkataan dari suaminya. "Dari mana kau mengetahuinya? Dan untuk apa membahasnya?" Tanya Calista.
__ADS_1
***