
Happy reading ππππ
Netra Kirana membola ketika pandangannya menangkap objek yang sangat familiar.
"Abi ...."
"Upssss, ya Allah. Ternyata Kean ...." Kirana tersenyum nyengir dan menggaruk kepala yang tidak gatal ketika menyadari objek yang ia lihat bukanlah Abimana melainkan Keanu, putranya sendiri. Jika dilihat dari jauh, wajah serta tinggi badan Keanu memang mirip Abimana.
"Bund, kenapa nyengar-nyengir?" tanya yang terlontar dari bibir Keanu setelah ia berdiri tepat di hadapan sang bunda.
"Mmm ... tadi bunda mengira yang datang ayah. Ternyata malah putra bunda."
"Owhhhh. Bunda kangen ayah, ya?"
"Yaiyalah, sudah seminggu berpisah." Bibir Kirana mengerucut.
Keanu sedikit mengerutkan dahi ketika mendengar jawaban dari sang bunda.
"Loh, memangnya ayah di mana Bund?"
"Ayah di Jakarta, Ke. Ada urusan bisnis yang harus ayahmu selesaikan di sana," sahut Kirana dengan memasang wajah sendu. Sendu karena rindu.
"Kenapa, Bunda tidak ikut ayah? Biasanya, di mana ada ayah maka di situ ada Bunda."
"Pasien Rumah Cinta sedang membludak, Ke. Bunda tidak mungkin tega membiarkan tante Sindy dan para perawat kuwalahan menangani pasien yang jumlahnya semakin banyak."
"Kalau begitu, di vidio call saja Bund!"
"Tanpa kamu perintah, setiap ada waktu luang, pasti bunda menghubungi ayahmu melalui vidio call, Ke."
" ..... "
"Kean, kenapa ... datang ke Rumah Cinta sepagi ini? Di mana Raina?" Kirana menyambung ucapannya dengan melontarkan pertanyaan.
"Raina ada di rumah, Bund. Keanu datang ke Rumah Cinta untuk mengantar pesanan Ikhsan. Tadi, Ikhsan mengirim pesan supaya Keanu membawakannya pakaian dan sendal, Bund."
Kirana tergelak tatkala terbayang penampilan Ikhsan yang hanya menggunakan singlet dan sarung sebagai bawahan serta bertelanjang kaki.
"Pfttt ... hahahaha, duch ... duch. Bunda jadi terbayang penampilan Ikhsan yang acak kadul. Mungkin karena dia terlalu cemas, jadi tidak sempat mengganti pakaiannya, Ke."
"Pfftttt ... bisa jadi, Bund."
"Oya, dimana Ikhsan sekarang, Bund?" tanya yang terucap dari bibir Keanu setelah ia menghentikan tawanya.
"Ikhsan sedang menunggu istrinya. Jika ingin menemui Ikhsan, tunggulah sebentar lagi, Ke! Setelah Alyra dipindah ke ruang rawat inap."
"Baiklah, Bund."
"Sudah adzan subuh, lebih baik ... kita sholat berjamaah dulu, Ke."
"Iya, Bund."
Kirana dan putranya berjalan beriringan menuju masjid yang berada tidak jauh dari Rumah Cinta.
.
.
"Masuklah, Ke ....!" Ikhsan mempersilahkan Keanu untuk masuk ke dalam ruangan VVIP, tempat istrinya dirawat setelah melahirkan putra mereka.
__ADS_1
"Iya San," sahut Keanu sembari melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut.
"San, segera mandi dan ganti sarungmu itu! Takutnya, ada buwung kabur," ujar Keanu seraya berbisik diikuti tawa yang sudah tidak bisa tertahan.
"Isshhh, dasar kau adik ipar durhaka." Bibir Ikhsan mencebik. Ia sambar paper bag yang sudah Keanu letakkan di atas meja.
"Sayang, mas mandi dulu ya," tutur Ikhsan sebelum memasuki bathroom.
"Iya, Mas." Alyra membalas ucapan suaminya disertai seutas senyum manis.
"Selamat atas kelahiran malaikat kecil kalian, Kak."
"Trimakasih, Ke."
"Iya Kak. Prince atau ... princess?"
"Prince, Ke. Namanya, Rizqi Maulana Alfathan."
"Nama yang sangat bagus, Kak?"
"Di mana Raina? Dia tidak ikut?"
"Tadi sewaktu Keanu berangkat ke sini, Raina masih tidur, Kak."
"Owhhh ...."
"Kak, Keanu pamit sekarang ya. Kasihan Raina sendirian di rumah. Insya Allah, nanti siang Keanu akan mangajak Raina untuk menjenguk baby Rizqi," ujar Keanu.
"Iya, Ke. Hati-hati ya!"
"Siap Kak. Assalamu'alaikum."
CEKLEK
Pintu bathroom terbuka perlahan setelah Keanu melangkah pergi.
"Di mana Keanu, Yang?"
"Sudah pulang, Mas."
"Loh, kog buru-buru?"
"Kasihan Raina, di rumah hanya sendiri."
"Yang, putra kita ... kapan akan dipindah ke kamar ini?"
"Mungkin sebentar lagi, Mas."
"Mas Ikhsan sudah nggak sabar menimang jagoan kita, Yang." Ikhsan mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Alyra juga, Mas."
Alyra dan Ikhsan saling menatap dengan intens.
"Yang, trimakasih. Trimakasih atas perjuanganmu demi melahirkan buah hati kita," tutur Ikhsan sambil mencium buku-buku jari Alyra.
"Alyra juga teramat berterimakasih, karena ... Mas Ikhsan telah menjadikan Alyra wanita yang sempurna. Trimakasih Mas."
CUP
__ADS_1
Ikhsan mengecup bibir kekasih halalnya. Dari sekedar kecupan, kini bibir keduanya saling berpagut, menyesap rasa manis yang selalu menjadi candu.
"Ehemmm ...." Alyra dan Ikhsan terlonjak tatkala mendengar suara deheman. Seketika pagutan bibir mereka terlepas. Lalu mereka pun menoleh ke arah asal suara.
"Papa ...," pekik Ikhsan dan Alyra kompak.
"Kenapa, nggak dilanjutkan? Santuy saja. Hanya ada Papa dan Mama," tutur Raikhan sambil menahan tawa yang hampir meledak karena melihat ekspresi Ikhsan dan Alyra.
Wajah Ikhsan dan Alyra terhias rona merah. Mereka teramat malu karena kepergok sepasang suami istri yang tak lagi muda, Raihan dan Alya ... ketika saling menyelami rasa manis dengan memagutkan bibir.
"Kami lanjut nanti saja, Pa. Takutnya ada yang meniru adegan kami," sahut Ikhsan seraya menahan malu yang teramat sangat.
"Siapa yang akan meniru adegan kalian? Kami? Asal kamu tau San, Papa dan Mama lebih fanas dari pada kalian," sahut Raikhan dengan bangganya.
"Awwww ...," pekik Raikhan ketika merasakan sensasi perih akibat cubitan tangan Alya.
"Inget umur, Mas!" tutur Alya disertai tatapan tajam.
"Maaf Sayangku. Meski umur kita tak lagi muda. Jangan sampai keromantisan kita berkurang." Raikhan mengusap pipi istrinya lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir.
Netra Ikhsan dan Alyra membola tatkala melihat adegan yang dipamerkan oleh Raikhan.
"Ck, bisa-bisanya ... kalian menodai mataku."
Raikhan dan Alya menoleh ke arah asal suara.
"Markonah ...."
"Hmmm, apa Jo."
"Jangan ngiri bin dengki melihat keromantisan kami! Minta si Markun segera datang ke mari untuk meniru adegan romantis yang aku pamerkan tadi," ujar Raikhan seraya bercanda.
"Issshhh ... kamu sengaja meledekku Jo. Abi masih di Jakarta tau," sungut Kirana.
"Maaf Markonah, aku memang sengaja," sahut Raikhan disertai tawa.
"Mbak Kiran ...." Alya menyapa besannya. Kedua wanita yang tak lagi muda itu berpeluk singkat.
"Al, apa kabar?"
"Alhamdulillah Mbak, baik. Mbak Kiran?"
"Kurang baik, Al. Ayahnya Keanu sudah seminggu di Jakarta. Jadi ya serasa ada yang kurang."
"Mbak Kiran nggak ikut?"
"Nggak Al. Kasihan Sindy dan para perawat. Mereka harus bekerja ekstra karena akhir-akhir ini pasien membludak."
Alya menatap wajah lelah Kirana. Ia teramat kagum pada wanita yang sanggup menggantikan dirinya di hati Abimana. Alya melangitkan pinta, semoga rumah tangga Kirana dan Abimana senantiasa mawadah.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf jika banyak typo ππππ
Jangan lupa tinggalkan jejak like π
Beri komentar, gift, atau vote untuk mendukung MjB πππ
__ADS_1
Trimakasih πππ