
Happy reading ๐๐๐
Langit berkawan senyum sang mentari, seolah turut mendukung acara aqiqah yang digelar di kediaman Abimana.
Pria tampan bermata teduh itu menggelar acara aqiqah untuk baby Chayra dan baby Alif sebagai ungkapan rasa syukurnya atas anugerah yang diberikan oleh Illahi.
Seluruh keluarga dan para sahabat larut dalam kebersamaan bernilai ibadah sebab mereka begitu khusyuk mendengar tausiyah yang dibawakan oleh ustadz Reinan Ilham, abang Ayunda Kirana. Ilham dan Kirana saling mengasihi meski mereka tidak dilahirkan dari rahim yang sama.
...
"Bunda, ayah tinggal sebentar ya?"
Kirana membalas ucapan suaminya dengan anggukan kepala disertai seutas senyum yang teramat manis. "Iya Yah. Jangan lama-lama! Bunda masih trauma ditinggal Ayah," pinta Kirana.
"Siap Bunda. Lagi pula, ayah tidak akan pernah meninggalkan Bunda ke tempat yang jauh. Bukankah, ayah sudah berikrar sehidup sesurga bersama Bunda?"
"Heem Yah. Pegang janji Ayah. Cinta kita till jannah Yah."
"Iya Bunda." Tatapan netra kedua insan yang saling mencintai karena keridhoan sang penulis skenario kehidupan ... saling bertaut sebelum mereka terpisah sejenak.
Abimana memutar tumitnya lalu melangkah pergi dari hadapan sang kekasih hati, Ayunda Kirana.
"Kiran maaf, aku datang terlambat ...," tutur Nabila disertai seutas senyum yang membingkai wajah cantiknya. Kirana dan Nabila berpeluk singkat.
"Nggak papa. Yang terpenting kamu bisa hadir, Bil." Kirana mengulas senyum. Netranya berbinar, menyiratkan rasa bahagia. Kirana teramat bahagia sebab Nabila menyempatkan hadir di acara aqiqah baby Chayra dan baby Alif meski terlambat. Kirana sangat memahami kesibukan Nabila sebagai seorang dokter obgyn di salah satu rumah sakit terbesar di kota pelajar.
"Oya Bil, di mana suamimu? Kenapa, kamu datang sendiri, hmm?" sambung Kirana. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari objek yang ia maksud.
"Owhhh, mas Fairuz sedang berada di LN. Biasalah, urusan bisnis katanya. Terkadang, mas Fairuz tinggal di LN selama enam bulan. Setelah enam bulan, mas Fairuz baru pulang ke Indo."
Kirana merotasikan netranya tatkala mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Nabila. "Enam bulan di LN? Yang bener, Bil?"
Nabila mengangguk samar. "Iya, Ran. Selain karena urusan bisnis, mas Fairuz juga mengunjungi istri keduanya."
"What? Jadi, mas Fairuz poligami?"
"Iya, Ran. Mas Fairuz melakukan poligami atas permintaanku." Nabila berusaha mengulas senyum meski hatinya teramat perih.
"Kenapa, Bil? Kenapa, kamu meminta suamimu untuk melakukan poligami?" Kirana melontarkan kalimat tanya disertai tatapan intens.
__ADS_1
Nabila menghirup nafas dalam. Netranya mulai mengembun. Hatinya terasa semakin perih jika mengingat perlakuan sang suami yang tidak pernah romantis. Rumah tangga yang telah ia jalani bersama Fairuz selama belasan tahun jauh dari kata sakinah, mawadah, warahmah.
"Ran, aku dan mas Fairuz menikah bukan atas nama cinta. Kami menikah karena perjodohan. Aku sangat mengerti perasaan mas Fairuz. Di hatinya tidak pernah terselip rasa cinta untukku, meski ... kami telah dianugerahi seorang putra. Sebelum menikah, mas Fairuz mempertemukan kami, aku dan kekasih yang sangat dicintainya. Aku tidak pernah menyangka, ternyata wanita yang sangat dicintai oleh mas Fairuz ternyata Clarisa. Seorang artis asal Indonesia yang kini tengah melebarkan sayapnya ke LN."
Kirana merasa empati pada sahabatnya. Ia juga teramat kagum, sebab Nabila mampu berlapang dada dan rela berbagi suami dengan wanita lain.
"Aku ingin, mas Fairuz bisa merengkuh kebahagiaan meski hatiku teramat sakit karena harus rela berbagi suami, Ran. Kehadiranku di kehidupan mas Fairuz, bagaikan nun mati diantaraย idgham billaghunnah, terlihat ... tapi dianggap tak ada ...," imbuhnya disertai senyuman getir.
Percakapan Kirana dan Nabila sukses mencubit hati Khanza.
Di dalam benaknya, Khanza berikrar ... kelak jika telah dewasa, ia tidak akan bersedia untuk berbagi suami. Apalagi menjadi seorang wanita perebut suami orang. Khanza sangat membenarkan setiap nasehat sang bunda sehingga ia semakin memantapkan hati untuk menghempas perasaan cintanya pada Biru. Pria yang pernah bertahta di hatinya. Khanza yakin, Biru bukanlah jodoh yang dikirim Illahi untuknya. Ia juga yakin, kelak Illahi akan mempertemukannya dengan seorang pemuda yang lebih baik dari pada Birru.
"Bunda ...." Nabila, Kirana, dan Khanza menoleh ke arah asal suara.
"Rangga," gumam Khanza diikuti netra yang berotasi sempurna.
"Rangga, ke mari Sayang!" pinta Nabila sembari menggamit lengan sang putra.
"Putramu, Bil?" kalimat tanya yang terucap disertai tatapan kagum.
"Iya Ran. Tentu saja pemuda tampan ini putraku. Namanya, Rangga."
"Bukan Cinta, Te. Tapi seorang gadis yang sedang berdiri di belakang Tante," sahut Rangga. Ia menunjuk gadis yang dimaksud dengan gerakan dagunya.
Seketika Kirana menoleh ke belakang. Netranya membola tatkala ia mengetahui bahwa gadis yang dimaksud oleh Rangga ternyata Khanza.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal?"
"Tentu saja sudah Te. Saya dan Khanza bagai Rangga dan Cinta. Bukan begitu, Za?"
Khanza memutar bola mata jengah tatkala mendengar ucapan Rangga. Kentara sekali bahwa Khanza tidak menyukai Rangga, pemuda yang teramat PD dan narsisnya sebelas dua belas dengan Keanu.
"Isshhh, PD amat. Amat aja nggak pernah PD, karena dia rajin berkaca. Siapa juga yang bersedia menjadi Cinta untuk Rangga yang O-Ranggantheng blas." Bibir Khanza mencebik. Tangannya bersedekap.
"Ehem. Ngga, beri hormat pada Tante Kirana! Salim!" titah Nabila sambil melerai tangannya.
Rangga menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Tangan terulur untuk meraih tangan Kirana. Lantas ia mencium punggung tangan ibunda gadis yang ditaksirnya dengan takzim.
Senyum Kirana terbit. Jemari tangan yang lentik mengusap kepala Rangga dengan penuh kelembutan.
"Rangga, Khanza, kami tinggal sebentar ya," tutur Nabila. Tanpa menunggu balasan dari Rangga maupun Khanza, kedua wanita yang sudah tidak lagi berusia muda itu melangkah pergi.
__ADS_1
"Khanza, ehem." Rangga menyenggol lengan Khanza dengan sikutnya.
"Apaan sihh. Jangan senggal-senggol! Najis, tauuuu." Khanza mengusap lengan dengan kasar.
"Za, jangan berlebihan seperti itu! Percayalah, aku nggak najis! Sebelum menyentuhmu, aku pastikan berwudhu terlebih dahulu."
"Kamu nggak halal menyentuhku, Ngga. Lelaki yang O-Ranggantheng blasssss." Netra Khanza nyalang. Pipinya menggembung.
"Za, meski perhatianku tidak terlihat seperti alif lam syamsiyah, namun cintaku padamu seperti alif lam qomariyah, terbaca jelas," tutur Rangga dengan kesungguhan hati sembari menatap wajah Khanza lekat-lekat.
"Za, seperti Hamzah Qat'ieย yang perlu disebut, begitu pula namamu yang harus selalu kusebut di setiap sujudku, di sepertiga malam," imbuhnya.
"Wkwkwk ... cekakak." Ternyata oh ternyata sedari tadi Ikhsan menguping percakapan dua insan yang masih berusia abegeh, Rangga dan Khanza. Ikhsan tergelak tatkala mendengar gombalan Rangga yang hmmm, sok sweet.
"Pfffttt ... hahahhaa. Ehekkk, yang lagi dikibulin, echhh ralat ... digombalin," cibir Ikhsan disertai tawa yang masih membingkai wajahnya.
"Ishhhh, Mas Ikhsan!" Khanza mengerucutkan bibir. Ia teramat kesal pada dua pria yang sama-sama menyebalkan.
"Eh, namamu Rangga ya?"
"Iya Mas."
"Jangan tembak Khanza dengan kata 'I love you'. Tapi tembak lah dia dengan mengucap 'Qobiltu' !" titah Ikhsan dengan menaik turunkan alisnya.
"Itu pasti Mas, jika saatnya telah tiba. Untuk saat ini, Rangga akan menembak Khanza dengan 'Bismillah'...," sahut Rangga dengan mantap.
Khanza semakin jengah. Lantas ia pun memilih berlalu pergi, meninggalkan dua anak Adam yang sangattttt menyebalkan.
๐น๐น๐น๐น
Bersambung....
Maaf yang teramat sangat karena si othor remahan kulit kacang baru bisa UP. Kemarin si othor keasyikan main layang-layang seharian. Mumpung berkunjung ke desa Bantul. ๐ ๐
Tinggalkan jejak like ๐
Berikan komentar, gift, atau vote jika berkenan ๐ ๐ ๐
Trimakasih dan banyak cinta untuk semua sobat MjB ๐๐๐โคโคโคโค
__ADS_1