
Pagi ini, Birru dan Keanu berangkat ke pemakaman Steven dengan dikawal oleh Jack serta Jasson. Mereka berangkat ke pemakaman setelah sarapan bersama dengan Raina dan Kirana.
Raina dan Kirana merasa curiga, karena kedua pemuda itu menghabiskan sarapan mereka dengan terburu-buru. Apalagi jika ditanya, Birru memberi jawaban yang kurang meyakinkan.
Kata Birru, ia dan Keanu akan pergi ke mall untuk membeli CD dan kaos. Sungguh alibi yang menggelikan. π
Birru dan Keanu sampai di pemakaman ketika jasad Steven telah selesai dikebumikan. Kedua orang tua Steven terlihat sangat berduka dan teramat kehilangan putra mereka. Namun tidak dengan Allesya, adik kandung Steven satu-satunya. Raut wajah Allesya sama sekali tidak melukiskan kedukaan.
"Tante, saya turut berduka cita atas meninggalnya Steven ...," ucap Birru sembari menundukkan sedikit tubuhnya, diikuti oleh Keanu, Jasson, dan Jack. Mereka bertiga juga mengucapkan turut berbelasungkawa dan memberi hormat kepada kedua orang tua Steven.
William dan Rose bergeming. Mereka menatap Birru dengan tatapan penuh kebencian.
"Kau ... berani-beraninya datang ke pemakaman putra kami, setelah menyiksa dan menghancurkan hidupnya. Aku ... aku tidak terima dengan kematian Steven yang sangat mengenaskan. Aku akan membunuhmu saat ini juga, Sean Wilson." Rose meninggikan intonasi suaranya.
Netra Rose memerah karena luapan api amarah, begitu juga dengan William. Ingin rasanya, kedua paruh baya itu menghabisi pemuda yang berdiri di hadapan mereka, saat ini juga.
"Tante, Om, apa yang saya lakukan terhadap Steven, bukan tanpa alasan. Perbuatan yang dilakukan oleh Steven sudah sangat keterlaluan. Berkali-kali, Steven berusaha untuk menodai seorang gadis yang sangat menjaga kesuciannya. Saya sebagai sahabat gadis itu, merasa sangat tidak terima dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Steven," tandas Sean (Birru).
"Ohhh, jadi ... karena putra kami ingin menodai seorang gadis, kau menghukumnya dengan cara yang sangat kejam. Bukankah, kau juga pernah menodai seorang gadis? Dan, gadis itu adalah putri kami. Allesya ...," sarkas William.
BUG
William melayangkan bogeman mentah ke arah wajah Sean (Birru). Keanu, Jasson, dan Jack berusaha mencegah William, ketika pria paruh baya itu akan melayangkan bogeman mentah untuk kedua kalinya.
"Cukup, Pa!!" pekik Allesya.
Allesya yang sedari tadi hanya terdiam, mulai bersuara. "Pa, tuduhan Papa dan Mama terhadap Kak Sean sangat salah. Bukan Kak Sean yang menodai Allesya, tetapi ... putra tercinta kalian, Steven William," tandas Allesya seraya membela Sean (Birru).
JEGLERRR
Ucapan Allesya bagaikan petir yang menyambar. William, Rose, dan semua orang yang berada di pemakaman, sangat terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Allesya, seorang perempuan muda yang masih berusia 17 tahun. Di usianya yang masih belia itu, Allesya terpaksa menjadi seorang single parent karena perbuatan biadap kakak kandungnya sendiri.
"Kau ... kau tega sekali menuduh kakak kandungmu sendiri, Allesya ...."
PLAKK
Rose menampar putrinya dengan sangat keras. Ia tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Allesya kepada Steven. Rose sungguh tidak percaya, bahwa ... Steven-lah yang merenggut kesucian adik kandungnya sendiri.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar, Allesya mengeluarkan selembar kertas yang berisi hasil tes DNA putranya, dari dalam tas. Kemudian, ia serahkan selembar kertas itu pada Rose. "Ma, jika Mama tidak percaya, lihatlah hasil tes DNA ini!"
"Kevin, benar-benar darah daging kak Steven, putra tercinta Papa dan Mama."
TES
Allesya tidak mampu lagi menahan bulir-bulir bening yang sedari tadi menganak di kelopak matanya.
Setelah melihat hasil tes DNA tersebut, tubuh Rose serasa lemas, begitu juga dengan William. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Steven tega menodai adik kandungnya sendiri.
"Ma, Pa, bukan hanya Allesya saja yang dinodai oleh kak Steven, tapi ... para maid yang bekerja di mansion pun juga telah menjadi korban kemesu*an putra kalian. Kami dipaksa menjadi budak nafsu oleh kak Steven." Tangis Allesya semakin menjadi, hingga tubuhnya pun berguncang hebat.
Rose yang mulai luluh hatinya, meraih tubuh Allesya dan membawa perempuan malang itu ke dalam dekapan.
"Sayang, mengapa selama ini, kamu menyembunyikan dosa besar Steven, dari Papa dan Mama? Bahkan, saat Steven mengatakan bahwa pria yang menodaimu adalah Sean, kamu sama sekali tidak membantahnya," tutur Rose sembari mengusap punggung Allesya.
"Ma, Allesya tidak berani mengungkapkan kebenaran, karena ... kak Steven selalu mengancam akan membunuh pria yang sangat Allesya cintai ...," jawab Allesya dengan suaranya yang terdengar lirih.
Rose sedikit meregangkan dekapannya. Ia seka jejak air mata yang membasahi wajah Allesya.
"Di-dia, Kak Sean. Pria yang Allesya cintai itu ... Kak Sean," jawab Allesya ragu. Allesya menggigit bibir bawahnya dan menundukkan pandangan. Allesya teramat malu mengungkapkan bahwa pria yang dicintainya itu adalah Sean Wilson.
Rose dan William terkesiap mendengar pengakuan Allesya, begitu juga dengan Sean (Birru).
Hening ....
Rose melerai dekapannya. Tetiba, wanita paruh baya itu bersimpuh di hadapan Sean (Birru).
"Sean, maafkanlah kami! Tante mohon, nikahilah putri kami, Allesya! Putri kami sudah sangat menderita karena perbuatan kakaknya sendiri. Sean, jaga dan lindungi Allesya. Berikanlah putri kami kebahagiaan ...," pinta Rose sembari menundukkan wajahnya.
Sean bergeming. Ia merasa dilema.
"Sean, tante benar-benar memohon kepadamu, nikahilah Allesya! Karena ... hanya Allesya-lah yang menjadi harapan kami. Jika hidup Allesya semakin hancur, maka hancurlah keluarga kami. Tidak ada gunanya lagi tante hidup di dunia ini ...."
Sean (Birru) masih saja bergeming. Hatinya merasa sangat iba melihat Rose yang nampak kacau.
"Ma, berdirilah! Jangan memohon seperti itu! Kak Sean berhak mendapatkan gadis yang masih suci, bukan seorang perempuan yang sudah ternoda seperti Allesya." Allesya meraih bahu Rose. Perempuan malang itu memandu mamanya untuk berdiri.
__ADS_1
"Kak Sean, maaf ...," ucap Allesya sebelum melangkah pergi.
GREPP
Sean (Birru) meraih tangan Allesya. "Tunggu, jangan pergi ... All!"
DEG ... DEG ... DEG ....
Dada Allesya berdebar hebat. Degup jantungnya berloncatan. Pipi Allesya pun ... nampak merah merona tatkala tangannya dipegang oleh Sean.
"Ka-kak Sean ...."
"All, aku bersedia menikahimu, tapi dengan satu syarat ...."
"Syarat?" Allesya sedikit mengerutkan dahinya.
"Iya. All, aku bukanlah Sean Wilson yang dahulu. Aku ... Albirru. Seorang mualaf. Aku memeluk agama Islam sebagai keyakinanku saat ini dan selamanya. All, aku bersedia menikahimu asalkan, kamu ... mempercayai adanya Tuhan dan besyahadat-lah!" ucap Sean (Birru) dengan menatap wajah cantik Allesya.
Allesya bergeming. Ia terpesona melihat ketampanan pria yang dicintainya. Di mata Allesya, Sean yang sekarang lebih rupawan.
"All ...."
"Kak Sean, sudah sejak lama ... Allesya mempercayai adanya Tuhan. Dan ... sudah satu tahun ini, Allesya juga memeluk agama Islam. Allesya memeluk Islam, setelah bertemu dengan seorang ukhti. Dia ... Fatimah. Gadis yang mengajarkan kepada Allesya tentang makna kehidupan. Berkat Fatimah, Allesya mampu menghadapi ujian hidup sampai saat ini .... dengan ketegaran dan keikhlasan."
"Kak ... aku bukanlah Allesya yang dahulu. Aku ... Zahra. Arisha Raiqa Zahra ...."
.....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Masih adakah yang menantikan kelanjutan MJB???? π π π
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan berikan komentar penyemangat πππ
Trimakasih ... banyak cinta untuk sobat MJB semua β€β€β€β€
__ADS_1